Tendency Central

1.Ukuran Pemusatan Data (Central Tendency)

Salah satu aspek yang paling penting untuk menggambarkan distribusi data adalah nilai pusat data pengamatan (tendensi sentral). Setiap pengukuran aritmatika yang ditujukan untuk menggambarkan suatu nilai yang mewakili nilai pusat atau nilai sentral dari suatu gugus data (himpunan pengamatan) dikenal sebagai ukuran tendensi sentral.Terdapat tiga ukuran tendensi sentral yang sering digunakan, yaitu:

  • Mean (Rata-rata hitung/rata-rata aritmetika)
  • Median
  • Mode

(1) Mean (arithmetic mean)

Rata-rata hitung atau arithmetic mean atau sering disebut dengan istilah mean saja merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk menggambarkan ukuran tendensi sentral. Mean dihitung dengan menjumlahkan semua nilai data pengamatan kemudian dibagi dengan banyaknya data.

(2) Median

Median dari n pengukuran atau pengamatan x1, x2 ,…, xn adalah nilai pengamatan yang terletak di tengah gugus data setelah data tersebut diurutkan. Apabila banyaknya pengamatan (n) ganjil, median terletak tepat ditengah gugus data, sedangkan bila n genap, median diperoleh dengan cara interpolasi yaitu rata-rata dari dua data yang berada di tengah gugus data. Dengan demikian, median membagi himpunan pengamatan menjadi dua bagian yang sama besar, 50% dari pengamatan terletak di bawah median dan 50% lagi terletak di atas median.
Median sering dilambangkan dengan (dibaca “x-tilde”) apabila sumber datanya berasal dari sampel (dibaca “μ-tilde”) untuk median populasi. Median tidak dipengaruhi oleh nilai-nilai aktual dari pengamatan melainkan pada posisi mereka.
Prosedur untuk menentukan nilai median, pertama urutkan data terlebih dahulu, kemudian ikuti salah satu prosedur berikut ini:

  • Banyak data ganjil → mediannya adalah nilai yang berada tepat di tengah gugus data
  • Banyak data genap → mediannya adalah rata-rata dari dua nilai data yang berada di tengah gugus dat

(3) Mode

Mode adalah data yang paling sering muncul/terjadi. Untuk menentukan modus, pertama susun data dalam urutan meningkat atau sebaliknya, kemudian hitung frekuensinya. Nilai yang frekuensinya paling besar (sering muncul) adalah modus. Modus digunakan baik untuk tipe data numerik atau pun data kategoris. Modus tidak dipengaruhi oleh nilai ekstrem.

Beberapa kemungkinan tentang modus suatu gugus data:

  • Apabila pada sekumpulan data terdapat dua mode, maka gugus data tersebut dikatakan bimodal.
  • Apabila pada sekumpulan data terdapat lebih dari dua mode, maka gugus data tersebut dikatakan multimodal.
  • Apabila pada sekumpulan data tidak terdapat mode, maka gugus data tersebut dikatakan tidak mempunyai modus.

Meskipun suatu gugus data mungkin saja tidak memiliki modus, namun pada suatu distribusi data kontinyu, modus dapat ditentukan secara analitis.

  • Untuk gugus data yang distribusinya simetris, nilai mean, median dan modus semuanya sama.
  • Untuk distribusi miring ke kiri (negatively skewed): mean < median < modus
  • untuk distribusi miring ke kanan (positively skewed): terjadi hal yang sebaliknya, yaitu mean > median > modus.

Karakteristik penting untuk ukuran tendensi sentral yang baik

Ukuran nilai pusat/tendensi sentral (average) merupakan nilai pewakil dari suatu distribusi data, sehingga harus memiliki sifat-sifat berikut:

  • Harus mempertimbangkan semua gugus data
  • Tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai ekstrim.
  • Harus stabil dari sampel ke sampel.
  • Harus mampu digunakan untuk analisis statistik lebih lanjut.

Dari beberapa ukuran nilai pusat, Mean hampir memenuhi semua persyaratan tersebut, kecuali syarat pada point kedua, rata-rata dipengaruhi oleh nilai ekstrem. Sebagai contoh, jika item adalah 2; 4; 5; 6; 6; 6; 7; 7; 8; 9 maka mean, median dan modus semua bernilai sama, yaitu 6. Jika nilai terakhir adalah 90 bukan 9, rata-rata akan menjadi 14.10, sedangkan median dan modus tidak berubah. Meskipun dalam hal ini median dan modus lebih baik, namun tidak memenuhi persyaratan lainnya. Oleh karena itu Mean merupakan ukuran nilai pusat yang terbaik dan sering digunakan dalam analisis statistik.

Kapan kita menggunakan nilai tendensi sentral yang berbeda?

Nilai ukuran pusat yang tepat untuk digunakan tergantung pada sifat data, sifat distribusi frekuensi dan tujuan. Jika data bersifat kualitatif, hanya modus yang dapat digunakan. Sebagai contoh, apabila kita tertarik untuk mengetahui jenis tanah yang khas di suatu lokasi, atau pola tanam di suatu daerah, kita hanya dapat menggunakan modus. Di sisi lain, jika data bersifat kuantitatif, kita dapat menggunakan salah satu dari ukuran nilai pusat tersebut, mean atau median atau modus.
Meskipun pada jenis data kuantitatif kita dapat menggunakan ketiga ukuran tendensi sentral, namun kita harus mempertimbangkan sifat distribusi frekuensi dari gugus data tersebut.

  • Bila distribusi frekuensi data tidak normal (tidak simetris), median atau modus merupakan ukuran pusat yang tepat.
  • Apabila terdapat nilai-nilai ekstrim, baik kecil atau besar, lebih tepat menggunakan median atau modus.
  • Apabila distribusi data normal (simetris), semua ukuran nilai pusat, baik mean, median, atau modus dapat digunakan. Namun, mean lebih sering digunakan dibanding yang lainnya karena lebih memenuhi persyaratan untuk ukuran pusat yang baik.
  • Ketika kita berhadapan dengan laju, kecepatan dan harga lebih tepat menggunakan rata-rata harmonik.
  • Jika kita tertarik pada perubahan relatif, seperti dalam kasus pertumbuhan bakteri, pembelahan sel dan sebagainya, rata-rata geometrik adalah rata-rata yang paling tepat.

Referensi:

  • Mario Triola. 2004. Elementary Statistics. 9th Edition. Pearson Education.
  • Stephen Bernstein and Ruth Bernstein. 1999. Elements of Statistics I: Descriptive Statistics and Probability. The McGraw-Hill Companies, Inc
  • Web:
    • Statistical dispersion:

http://en.wikipedia.org/wiki/Statistical_dispersion

2. Ukuran Pemusatan (Measure of Central Tendency)

Ukuran pemusatan atau ukuran lokasi adalah beberapa ukuran yang menyatakan dimana distribusi data tersebut terpusat. (Howell, 1982)

I. Rata-rata (Mean)

Rata-rata merupakan ukuran pemusatan yang sering dan sangat familiar digunakan. Keuntungan rata-rata adalah dia dapat digunakan sebagai wakil atau gambaran dari data tersebut. Rata-rata peka akan adanya data ektrim atau pencilan.

Terdapat beberapa jenis rata-rata:

1. Rata-rata Hitung (Mean)

2. Rata-rata Tertimbang (Weighted Mean)

3. Rata-rata Ukur (Geometric Mean)

Rata-rata ukur kadang-kadang digunakan sebagai ukuran pemusatan data-data yang condong ke kanan, karena rata-rata ukur tidak terpengaruh kecondongan nilai ekstrem.

4. Rata-rata Harmonis

II. Median

Merupakan suatu ukuran pemusatan yang menempati posisi tengah setelah data diurutkan. Biasanya digunakan pada statistika non parametrik, dan digunakan untuk data yang bersifat skor. Median tidak terpengaruh oleh adanya data ekstrim (extrim point) atau pencilan (outliers) sehingga digunakan pada statistika kekar (robust statistics).

III. Modus

Adalah nilai yang paling sering muncul dari serangkaian data. Modus tidak dapat digunakan sebagai gambaran mengenai data. (Howell, 1982)

IV. Fraktil

Adalah nilai-nilai data yang membagi seperangkat data yang telah diurutkan menjadi beberapa bagian yang sama.

1. Kuartil. Adalah fraktil yang membagi data menjadi empat bagian yang sama.

Nilai-nilai kuartil diberi simbol Q1, Q2 (sama dengan Median) dan Q3.

2. Desil adalah Fraktil yang membagi data menjadi sepuluh bagian yang sama, simbolnya adalah D1, D2, .., D9.

3. Persentil adalah Fraktil yang membagi data menjadi seratus bagian yang sama, simbolnya adalah P1, P2, …, P99. (Mulyono, 1992)

3. Ukuran pemusatan data

Ukuran pemusatan adalah sembarang ukuran yang menunjukkan pusat segugus data, yang telah diurutkan dari yang terkecil sampai yang terbesar atau sebaliknya dari yang terbesar sampai yang terkecil. Salah satu kegunaan dari ukuran pemusatan data adalah untuk membandingkan dua ( populasi ) atau contoh, karena sangat sulit untuk membandingkan masing-masing anggota dari masing-masing anggota populasi atau masing-masing anggota data contoh Nilai ukuran pemusatan ini dibuat sedemikian sehingga cukup mewakili seluruh nilai pada data yang bersangkutan.[2]

Ukuran pemusatan yang paling banyak digunakan adalah nilai tengah, median, dan modus. Masing-masing dari ukuran pemusatan data tersebut memiliki kekurangan.Nilai tengah akan sangat dipengaruh nilai pencilan. Median terlalu bervariasi untuk dijadikan parameter populasi. Sedangkan modus hanya dapat diterapkan dalam data dengan ukuran yang besar.

Referensi:

  1. Ronald E.Walpole. Pengantar Statistika, halaman 22-27″. 1993. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. ISBN 979-403-313-8
  2. Anton Dajan. Pengantar Metode Statistik Jilid I halaman 100-146″. 1981. Jakarta : Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial

Kesimpulan

Dari ketiga bacaan yang menjelaskan mengenai tendency central tersebut pada dasarnya inti dari berbagai versi tersebut sama saja yaitu menjelaskan apa itu tendency central, apa saja komponennya, terdiri dari apa saja bagian-bagiannya, bagaimana cara melakukan pemusatan data dan sebagainya. Namun dengan menjelaskan pengertian dengan bahasa yang agak berbeda, tapi tetap intinya sama. Ada  yang menyebutkan bahwa tendency central ialah Setiap pengukuran aritmatika yang ditujukan untuk menggambarkan suatu nilai yang mewakili nilai pusat atau nilai sentral dari suatu gugus data (himpunan pengamatan), ada juga versi yang mengatakan bahwa Ukuran pemusatan atau ukuran lokasi adalah beberapa ukuran yang menyatakan dimana distribusi data tersebut terpusat. Dan yang terakhir mengatakan Ukuran pemusatan adalah sembarang ukuran yang menunjukkan pusat segugus data, yang telah diurutkan dari yang terkecil sampai yang terbesar atau sebaliknya dari yang terbesar sampai yang terkecil.

UKD 2 Korelasi Spearman

  1. Hitung besarnya Koefisien Korelasi Spearman dari data berikut:
Mahasiswa Kreativitas Mahasiwa Prestasi Mahasiswa
1 40 37
2 116 65
3 113 88
4 111 86
5 83 56
6 85 62
7 126 92
8 106 54
9 117 81
10
  1. Hitung besarnya Koefisien Korelasi spearman dari data berikut:
Dosen Produktivitas Ilmiah Prestasi Mahasiswa
1 37 40
2 65 116
3 88 113
4 54 106
5 81 117
6 42 82
7 46 98
8 39 87
9 86 111
10

Catatan:

1. Tambahkan sendiri data yang ke 10, dimana salah satu kolomnya diisikan angka yang membubuhkan 3 angka belakang NIM anda.

Jawab:

No.1

Mahasiswa Data Rangking D D2
kreatifitas prestasi kreatifitas prestasi
1 40 37 9 9 0 0
2 116 65 3 5 -2 4
3 113 88 4 2 2 4
4 111 86 5 3 2 4
5 83 56 8 7 1 1
6 85 62 7 6 1 1
7 126 92 1 1 0 0
8 106 54 6 8 -2 4
9 117 81 2 4 -2 4
10 002 002 10 10 0 0
åd = 0 åd2= 22

rs = 1 – = 1 – = 1 – 0, 133 = 0, 867

No.2

Dosen Data Rangking D D2
Produktifitas ilmiah Prestasi Mahasiswa Produktifitas ilmiah Prestasi Mahasiswa
1 37 40 9 9 0 0
2 65 116 4 2 2 4
3 88 113 1 3 -2 4
4 54 106 5 5 0 0
5 81 117 3 1 2 4
6 42 82 7 8 -1 1
7 46 98 6 6 0 0
8 39 87 8 7 1 1
9 86 111 2 4 -2 4
10 002 002 10 10 0 0
åd = 0 åd2=18

rs = 1 – = 1 – = 1 – 0, 109 = 0, 891

Statistik- Korelasi spearman

Fungsi Koefisien Korelasi Peringkat Spearman (rs)

Koefisien korelasi peringkat spearman (rs) adalah suatu ukuran dari kedekatan hubungan antara dua variabel ordinal. Dengan demikian koefisien korelasi peringkat Spearman berfungsi mirip dengan koefisien korelasi linier (r), hanya saja yang digunakan adalah nilai-nilai peringkat dari variabel x dan y, bukan nilai sebenarnya. Dari semua statistik yang didasarkan atas ranking (jenjang), koefisien korelasi rank spearman adalah yang paling awal dikembangkan dan mungkin yang paling dikenal hingga kini. Statistik ini kadang-kadang disebut rho, disini ditulis dengan rs. Ini adalah ukuran asosiasi yang menuntut kedua variabel sekurang-kurangnya dalam skala ordinal sehingga obyek-obyek atau individu-individu yang dipelajari dapat di ranking dalam dua rangkaian berturut.

Metode

Perhitungan koefisien peringkat Spearman dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut:

  1. Penyusunan peringkat dari data
  2. Penentuan perbedaan peringkat dari pasangan data
  3. Perhitungan koefisien korelasi peringkat, dengan rumus sebagai berikut:

Metode untuk menghitung rs, pertama buat daftar N subyek, lalu cantumkan ranking-nya untuk variabel X dan ranking-nya untuk variabel Y. Kemudian tentukan berbagai harga di di = perbedaanantara kedua ranking itu. Kuadratkanlah tiap-tiap  di dan kemudian jumlahkanlah semua harga di di2 untuk mendapatkan Ni=1 di2. Lalu masukkan harga ini serta harga N (banyak subyek) ke dalam rumus.

Contoh 1:

Beberapa siswa di SMA X mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah dengan tujuan meningkatkan prestasi akademik di sekolah. Orang tua siswa ingin mengetahui apakah ada hubungan antara prestasi akademik di tempat bimbingan belajar dengan prestasi akademik  di sekolah. Setelah mengikuti ujian akhir di sekolah hasilnya didapat dalam bentuk peringkat. Koefisien korelasi peringkat Spearman untuk hal ini dapat dihitung sebagai berikut:

Penyusunan peringkat dan penentuan perbedaan peringkat:

Nama Siswa Peringkat Prestasi di Bimbel Peringkat Prestasi di Sekolah Perbedaan Peringkat D2
Anton 3 5 -2 4
dio 5 2 3 9
dita 1 4 -3 9
wahyu 4 3 1 1
titis 6 7 -1 1
rendra 9 8 1 1
Nima 7 10 -3 9
utus 2 1 1 1
Liya 8 6 2 4
yuyun 10 9 1 1
∑D = 0 ∑D2 = 40

  • Perhitungan koefisien korelasi peringkat Spearman:

rs = 1 – = 1 – = 1 – 0.242 = 0.758

Untuk menginterprestasikan nilai koefisien korelasi Spearman, sama halnya dengan koefisian korelasi linier. Perlu diingat bahwa nilai korelasi nol (rs=0) menunjukkan tidak adanya korelasi. Sedangkan nilai korelasi +1,0 dan -1,0 menunjukkan korelasi yang sempurna. Dalam contoh diatas dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat korelasi yang positif antara prestasi belajar di tempat bimbingan belajar dengan prestasi akademik di sekolah.

Contoh 2:

Berikut ini adalah data hubungan antara Nilai Ujian Tengah Semester (UTS) (X) dengan nilai Ujian Akhir Semester (UAS) (Y) dari 12 mahasiswa universitas U :

Mahasiswa Nilai UTS (X) Nilai UAS (Y)
A

B

C

D

E

F

G

H

I

J

K

12

13

14

15

16

16

14

20

17

11

12

18

19

19

11

12

17

15

16

18

14

13

18

13

Sumber : Data fiktif

Buktikanlah hipotesis yang berbunyi “terdapat hubungan yang positif antara Nilai UTS dan UAS” dengan menggunakan data tersebut!

Jawab :

1.Merumuskan hipotesis :

H0 : Tidak terdapat hubungan yang positif  antara Nilai UTS dan UAS

H1 : Terdapat hubungan yang positif antara Nilai UTS dan UAS

2. Menentukan taraf signifikansi

Nilai α =  0,05

3. Menghitung  nilai ρ :

Untuk menghitung nilai ρ , maka harus disusun tabel  sebagai berikut :

UTS (X) UAS (Y) RX RY RX-RY (RX-RY)2
12

13

14

15

16

16

14

20

17

11

12

18

19

19

11

12

17

15

16

18

14

13

18

13

2,5

4

5,5

7

8,5

8,5

5,5

12

10

1

2,5

11

11,5

11,5

1

2

8

6

7

9,5

5

3,5

9,5

3,5

-9

-7,5

4,5

5

0,5

2,5

-1,5

2,5

5

-2,5

-7

7,5

81

56,25

20,25

25

0,25

6,25

2,25

6,25

25

6,25

49

56,25

∑b = 334

Masukkan ke Rumus korelasi Spearman

ρ= 1 – (6∑b)/(n (n^2-1))

ρ= 1 – (6.334)/(12 (12^-1))

ρ= 1 – 1,168

ρ= -0,168

Jadi,

Nilai  hitung ρ = -0,168 (tanda “-“ hanya menunjukkan arah hubungan dua variabel negatif). Nilai  tabel (n=12) = 0,591 (=0,05)

4.  Kesimpulan

Untuk itu, karena nilai  hitung ρ <  tabel, maka H0 diterima. Kesimpulannya adalah hipotesis yang berbunyi : “tidak terdapat hubungan antara nilai UTS dan UAS” diterima.

statistik

Rendahnya Mutu Pendidikan di Indonesia

Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Statistik

Disusun Oleh :

Nama                   : A. Nimas Kesuma Negari

NIM            : D0310002

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2011

Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).

Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Perasan ini disebabkan karena beberapa hal yang mendasar. Salah satunya adalah memasuki abad ke- 21 gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain.

Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain. Setelah kita amati, nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.

Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP).

Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia

Di bawah ini akan diuraikan beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia secara umum, yaitu:

1. Efektifitas Pendidikan Di Indonesia

Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.

2. Efisiensi Pengajaran Di Indonesia

Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.

3. Standardisasi Pendidikan Di Indonesia

Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).

Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpentinga adalah memenuhi nilai di atas standar saja.

Selain beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di atas, berikut ini akan dipaparkan pula secara khusus beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.

1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama.

2. Rendahnya Kualitas Guru

Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).

Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3).

3. Rendahnya Kesejahteraan Guru

Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya (Republika, 13 Juli, 2005)..

Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006).

4. Rendahnya Prestasi Siswa

Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.

Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di bawahnya.

Dalam skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia (Greaney,1992), studi IEA (Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia).

Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

Selain itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R, 1999 (IEA, 1999) memperlihatkan bahwa, diantara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA, ke-34 untuk Matematika. Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang disurvai di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61, ke-68, ke-73 dan ke-75.

5. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan

Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.

6. Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan

Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

7. Mahalnya Biaya Pendidikan

Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.

Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.

Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.

Dari APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN (www.kau.or.id). Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.

Solusi dari Permasalahan-permasalahan Pendidikan di Indonesia

Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, secara garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan yaitu:

Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.

Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.

Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu. Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.

Demokrasi


judul : Demokrasi

nama : A. Nimas Kesuma Negari    nim : D0310002

pengampu : akhmad ramdhon

Sejarah demokrasi

Sebelum istilah demokrasi ditemukan oleh penduduk Yunani, bentuk sederhana dari demokrasi telah ditemukan sejak 4000 SM di Mesopotamia. Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan). Istilah ini berasal dari bahasa Yunani demokratia “kekuasaan rakyat”, yang dibentuk dari kata demos “rakyat” dan Kratos “kekuasaan”, merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM. Istilah demokrasi diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat).

Pada pertengahan tahun 1970-an sampai 1980-an dan sesudahnya negara-negara anti demokrasi di Eropa, Amerika Latin, Asia, Timur Tengah, dan Afrika seketika itu mulai mengacu dan melekatkan prinsip-prinsip demokrasi di dalam proses politik mereka. Satu momentum terpenting dari itu semua terjadi pada tahun 1989 di mana sebuah rezim komunis runtuh dan digantikan oleh pemerintahan yang mengacu pada demokrasi.

Demokrasi Dunia

Pada tahun 1990-an, hanya beberapa negara di seluruh dunia yang dengan tegas-tegas menunjuk demokrasi sebagai pilihan mereka. Untuk menunjuk apakah suatu negara sudah menerapakan prinsip-prinsip demokrasi sangat ditentukan oleh seberapa ketat definisi demokrasi tersebut diterapkan. Sejarah pembentukan demokrasi yang dimulai tahun 1910 hingga saat ini menampilkan kesan yang bersifat seketika dan suatu perubahan yang dahsyat. Keberhasilan perang dunia II membuat AS dan Inggris berupaya mempromosikan model demokrasi sebagai jalan keluar dari kolonialisme. Amerika sebagai negara yang sudah memiliki sistem demokrasi sejak lama berpendapat bahwa demokrasi adalah bagian dari dunia modern yang secara natural mengiringi pembangunan ekonomi.

Demokrasi di Indonesia

Indonesia juga tidak luput dari hembusan gelombang demokrasi dunia. Masyarakat Indonesia masih berkutat di sekitar pembenahan reformasi politik ke arah tatanan yang lebih demokratis, setelah sukses menumbangkan rezim otoriter Orde Baru. Indikator yang paling nampak terjadinya demokratisasi di Indonesia antara lain tumbangnya rezim otoriter Soeharto, pemilu dengan multi partai dan partisipasi politik warga yang tinggi, desentralisasi daotonomi daerah, pengamandemenan UUD’45, dan masih banyak lagi.

Namun apakah benar Indonesia sudah berdemokrasi? Ketika muncul pertanyaan seperti itu, banyak pihak yang mengatakan belum. Mengapa demikian? Lihatlah contoh yang sangat sederhana ini, pemakaian seragam bagi anak sekolah. Suka tidak suka semua siswa sekolah dari SD hingga SMA diwajibkan memakai seragam, bukankah ini tidak demokratis? Itu hanya sebuah contoh kecil yang sangat sederhana. Sepertinya demokrasi di Indonesia sendiri sudah disalahartikan oleh banyak kalangan. pelaksanaan demokrasi di Indonesia yang telah berlangsung selama 13 tahun, sasarannya guna mewujudkan kesejahteraan bangsa dan negara, tapi realitasnya masih terjadi degradasi nilai moral bangsa.

Demokrasi saat ini

Dari hasil diskusi muncul beberapa pertanyaan menyangkut demokrasi

Pertama, Mengapa seseorang yang ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin harus melalui partai dan tidak membawa nama individu atau secara individual?

kedua, apakah sistem demokrasi itu baik bagi Indonesia?

Selanjutnya muncul pertanyaan lain yang sejenis dengan pertanyaan kedua, yaitu dikatakan dalam sebuah artikel bahwa demokrasi model barat dianggap sebagai sistem yang harus diturut untuk membawa kesejahteraan bagi seluruh dunia. Mengapa ada asumsi seperti itu yang mengatakan bahwa demokrasi barat adalah sistem yang ideal yang mampu mengantarkan masyarakat pada kehidupan yang dicita-citakan? benarkah ini adalah sistem yang efektif? Apakah tidak akan ada perlawanan terhadap dominasi  liberalisme dan kapitalisme yang menjadi “two Towers” dalam sistem ini?

Pertama, hal ini bukan berarti tidak mencerminkan demokrasi dimana seolah-olah seseorang tidak bisa menyampaikan pendapatnya sendiri, namun jika setiap orang yang ingin mencalonkan diri membawa nama individu akan sangat banyak suara yang keluar dan itu akan sulit di dengar. Maka dari itu agar suara tidak berpencar perlu disederhanakan. Penyaringan dan pembulatan itu dilakukan dengan membentuk partai, yang merupakan tempat orang-orang yang secita-cita, seideologi berkumpul.

Kedua, demokrasi baik jika dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang sebenarnya. Namun tidak dapat dikatakan bahwa ini adalah sistem yang paling efektif, karena demokrasi bukanlah tujuan akhir suatu bangsa melainkan demokrasi itu hanyalah sebuah cara.

Lalu, mengapa harus barat? Karena memang demokrasi di barat sudah ada jauh sebelum kita mengadopsinya. Dan disana mereka beretika, jika pemimpin melakukan kesalahan maka mereka punya kesadaran diri untuk mundur dari pemerintahan.

Daftar Pustaka

Noer, Deliar. Pengantar ke Pemikiran Politik. Jakarta: CV. Rajawali.

Markoff, John. 1996. Gelombang Demokrasi Dunia. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

The moment of Eid Al-Fitr is meant as a religious tradition or cultural traditions?

The moment of Eid Al-Fitr is meant as a religious tradition or cultural traditions?

Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah English for Social Science

Disusun Oleh :

Nama                   : A. Nimas Kesuma Negari

NIM            : D0310002

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2011

Idul fitri merupakan salah satu momentum besar bagi seluruh umat muslim di seluruh dunia. Umat Islam di Indonesia sendiri menjadikan idul fitri sebagai hari raya utama, momen untuk berkumpul kembali bersama keluarga. Hari raya idul fitri di Indonesia diperingati sebagai hari libur nasional, yang diperingati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang memang mayoritas muslim. Mulai dua minggu sebelum idul fitri, umat Islam di Indonesia mulai sibuk memikirkan perayaan hari raya ini. Yang paling utama adalah mudik atau pulang kampung. Selama perayaan berbagai hidangan disajikan, bagi anak-anak biasanya orang tua memberikan uang raya kepada mereka, dan selama perayaan biasanya masyarakat berkunjung ke rumah tetangga dan saudara-saudaranya untuk bersilaturahmi, yang dikenal dengan “halal-bihalal”, malam sebelum perayaan selalu dikumandangkan takbir di masjid-masjid yang mengungkapkan kemenangan dan biasanya disertai dengan menghidupkan obor dan kembang api oleh masyarakat di berbagai daerah. Banyak bank, perkantoran swasta ataupun pemerintahan yang tutup selama idul fitri hingga akhir minggu perayaan.

Begitu meriahnya persiapan dan tradisi umat muslim dalam menyambut hari raya idul fitri, tidak saja di Indonesia tetapi juga di berbagai belahan dunia seperti di Malaysia, Brunei, Singapura, Bangladesh, india, dan lain-lain. Semua memiliki sebuah tradisi tersendiri yang unik dalam menyambut perayaan idul fitri sesuai dengan adat dan tradisi daerahnya masing-masing. Dilihat dari berbagai tradisi yang sudah membudaya ini, momen idul fitri itu sendiri sebenarnya lebih dimaknai sebagai sebuah tradisi keagamaan ataukah tradisi kebudayaan?

Dalam sejarahnya ajaran agama dan tradisi lokal memang saling berbaur dan tidak bisa dipisahkan meskipun secara teoritis bisa dibedakan, pada kenyataannya agama besar selalu melahirkan tradisi besar , sementara tradisi budaya yang sudah mapan tidak mudah berubah dan digeser oleh agama. Maka agama dan budaya menyatu dan kemudian melahirkan tradisi yang merupakan campuran antara tradisi lokal dan agama. Agama dan budaya beda tapi saling melengkapi. Agama berkembang tentu bercampur dengan budaya setempat. Idul fitri tidak saja sekedar ibadah kepada Allah tetapi juga terkandung nilai tradisi budaya  dalam pelaksanaannya. Nilai budaya tersebut tercermin dalam beberapa hal antara  lain, mudik, menyajikan hidangan seperti ketupat, opor ayam, dan lain-lain, serta halal bihalal.

Sudah menjadi tradisi sejak masa lalu bahwa jika idul fitri menjelang maka siapapun orang akan bergegas untuk pulang ke kampung halaman. Budaya pulang kampung atau mudik ini sudah ada sejak jaman mataram Hindu dimana pada saat itu para penduduk  yang bekerja di pusat kota pada masa panen padi pulang kampung untuk bertemu dengan sanak saudara, tradisi itu kemudian dilanjutkan pada masa Islam.

Selain itu ada pula makanan yang paling populer disajikan pada saat perayaan idul fitri yaitu ketupat. Ketupat merupakan bentuk ciri utama masyarakat agraris penghasil padi. Ketupat sendiri memiliki makna simbolik, masyarakat jawa menyebutnya dengan kupat yang dapat diartikan sebagai rasa bersalah. Menghadirkan ketupat berarti bentuk rasa permohonan maaf  atas kesalahan yang terjadi di masa lalu.

Selanjutnya halal-bihalal. Halal bihalal sendiri merupakan tradisi masyarakat Indonesia yang mengandung makna saling menghalalkan atau membolehkan. Makna halal bihalal secara hukum juga sulit ditemukan karena ini lebih bernilai tradisi, kita saling berkunjung untuk saling memaafkan. Menariknya tradisi halal bihalal ini tidak hanya dilakukan oleh sesama muslim, tetapi juga pada tetangga ataupun kerabat yang beragama non muslim.

Dengan besarnya nilai budaya yang terkandung dalam perayaan idul fitri ini, maka hari raya idul fitri bukan hanya dimaknai sebatas ritual keagamaan atau tradisi agama saja tetapi juga mencerminkan adanya tradisi kebudayaan yang sangat kental didalam pelaksanaannya.

Idul Fitri is one of the great momentum for all Muslims around the world. Muslims in Indonesia making Eid al-Fitr as a major feast day, moment to regroup with their families. Idul Fitri in Indonesia commemorated as a national holiday, observed by most of Indonesian people who are majority Muslim. Starting two weeks before the Eid, Muslims in Indonesia began to busy thinking about the celebration of this holiday. The main thing is going home or returning home. During the celebration of the variety of dishes served, for children are usually the parents giving money to their feast, and during the celebration usually people visiting a neighbor’s house and his brothers to stay in touch, known as “halal-bihalal”, the night before the celebration has always echoed Takbir in the mosques that reveals the victory and is usually accompanied by turning on the torch and fireworks by the public in various areas. Many banks, private or government offices are closed during Eid celebrations until the weekend.
The great preparation and tradition of welcoming Muslim Eid, not only in Indonesia but also in various parts of the world such as in Malaysia, Brunei, Singapore, Bangladesh, India, and others. All have a tradition of welcoming its own unique celebration of Eid al-Fitr in accordance with the customs and traditions of their respective regions. Judging from the various traditions that have been entrenched, the moment of Eid it self is actually more meant as a religious tradition or cultural traditions?
In the history of religious teachings and local traditions are mingled with each other and can not be separated even though theoretically indistinguishable, in fact gave birth to the tradition of the great religions are always large, while the established cultural traditions are not easily changed and moved by religion. So religion and culture converge and then gave birth to the tradition which is a mixture of local tradition and religion. Religion and culture of different but complementary. Religion evolved naturally mix with the local culture. Idul Fitri is not simply the worship of God but also embodied the value of cultural traditions in its implementation. Cultural values ​​are reflected in several ways, among others, going home, serving dishes such as diamond, chicken opor, and others, as well as halal bihalal.
It was a tradition from the past that if the Eid al-Fitr before the people then everybody would rush to return home. Culture returning home or going home is already there since the days of Hindu Mataram at which time residents who work downtown during the rice harvest return home to meet with relatives, the tradition was later continued in the Islamic period.
There are also the most popular foods served during the celebration of Eid al-Fitr is the diamond. The main feature of diamond is a form of rice-producing agrarian society. Diamond itself has a symbolic meaning, the java call kupat which can be interpreted as guilt. Presenting the diamond means form a sense of apology for the mistakes that occurred in the past.
Further halal-bihalal. In Indonesia Halal bihalal itself is a community tradition that implies mutual justify or allow. Bihalal legally permissible meaning is also harder to find because it is more valuable tradition, we visited each other to forgive each other. Interestingly halal bihalal tradition is not only committed by fellow Muslims, but also to neighbors or relatives with non-Muslims.
With the amount of cultural values ​​embodied in the celebration of Eid al-Fitr, the feast of Eid al-Fitr is not only understood the extent of religious ritual or religious tradition but also reflect a very strong cultural tradition in its implementation.

tugas daslog 2 ; review buku sosiologi dan filsafat

Buku ini menyajikan beberapa teori Durkheim, serta pandangan dan pemikirannya yang  bukan hanya mengacu pada masalah sosiologi tertentu tetapi juga mengenai masalah-masalah umum yang dihadapi para filsuf. Tulisan-tulisan Durkheim ini menunjukkan dalam hal apa dan sampai sejauh mana sosiologi membutuhkan filsafat, karena Jarang dijumpai bahwa suatu ilmu pengetahuan dalam masa pertumbuhannya tidak merasa perlu dalam berfilsafat guna memperoleh suatu landasan.  Namun filsafat Durkheim berbeda dari filsafat materialis dan organisis sebagaimana selama ini dibutuhkan. Sehingga dengan pengertian ini sosiologisme Durkheim akan dilihat lebih jauh lagi dan merupakan suatu usaha untuk menemukan dan membenarkan, dengan cara baru, kecendrungan-kecendrungan spiritual. Karena menurut Durkheim sosiologi harus membuktikan hak hidupnya, tidak saja dengan riset positif, tetapi juga dengan pembahasan prinsip-prinsip, maka ia terbawa menangani masalah-masalah yang bersifat umum dan sering dijumpai, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengandaikan penerapan filsafat.

Durkheim mencoba untuk melepaskan sosiologi dari pengaruh filsafat dan psikologi, serta mendorongnya menjadi ilmu yang mandiri. Karena menurutnya sosiologi sudah tak bisa lagi dipahami dalam keadaan mental murni, seperti yang diperagakan oleh Comte dan Spencer yang menempatkan dunia ide sebagai pokok persoalan. Sebab itu, Durkheim kemudian membangun sebuah konsep dalam sosiologi yang disebutnya fakta sosial (social facts). Fakta sosial harus menjadi pokok persoalan bagi sosiologi, dia harus diteliti dengan riset empiris. Inilah yang kemudian membedakan sosiologi sebagai kegiatan empiris, yang berbeda dengan filsafat sebagai kegiatan mental. Durkheim juga memusatkan perhatian pada masalah-masalah moral, yaiktu keinginan menjelaskan esensi moralitas, peranan yang dimainkan moral dalam dalam masyarakat, dan bagaimana moral tumbuh dan berkembang dalam mewujudkan cita-cita masyarakat. studi tersebut berhubungan langsung dengan sosiologi moral. Studi-studi tersebut bukan hanya sekedar teoritis tapi lebih bagaimana agar dapat tiba pada kesimpulan praktis yang akan bermanfaat dalam tindakan sosial, dan untuk sampai pada titik ini tidak ada jalan lain selain melalui ilmu pengetahuan positif. Durkheim sangat berhati-hati sekali dalam menghindari mistisisme, dimana nalar manusia dapat gagal sama sekali dalam menolak berdasarkan hasil penelitiannya pandangan-oanangan orang yang mengatakan bahwa dalam masalah moralitas ilmu pengetahuan telah gagal, san menawarkan suatu fondasi bahwa kesadaran it sendiri dalam kenyataannya dibentuk oleh pengamatan positif. Dalm hal ini keinginan Durkheim adalah menyuarakan, bahkan dalam soal moralitas juga, bahasa tertentu dari seorang ilmuwan dan bukan seorang filsuf.

Durkheim sangat menekankan fakta bahwa masyarakat pada pokoknya adalah komposisi ide-ide. Sebagaimana ia katakan bahwa sosiologi harus mengarahkan perhatiannya bukan saja pada bentuk-bentuk materiil tetapi juga dalam keadaan mental. Karena sosiologi adalah studi tentang iklim moral. Melalui kasadaran moral manusia dipersatukan. Keyakinan-keyakinan kolektif adalah tombol vital seluruh masyarakat. tulisan paling awal yang diterbitkan disini adalah indibidual and collective representation, menunjukkan dengan jelas kecendrungan anti materialis. kesadaran kolektif adalah istilah yang diciptakan Durkheim untuk merujuk pada keyakinan bersama dan sikap moral yang beroperasi sebagai kekuatan pemersatu dalam masyarakat.

Durkheim juga membahas mengenai nilai, nilai terdiri dari pengaruh yang dihasilkan oleh sesuatu benda terhadap sensibilitas, padahal sensibilitas tiap-tiap orang sangat berbeda. Sementara orang gemar terhadap sesuatu sedang orang lain justru jijik. Kehidupan pun tak diinginkan semua orang, sebab ada orang yang membunuh—entah karena kewajiban atau kebencian. Bagaimanapun terdapat banyak ragam untuk menghayatinya. ada yang menyukai nilai  yang intens dan komplek, ada yang justru menyukai kesederhanaan.

Ada beberapa jenis nilai yang berbeda. Nilai ekonomi, moral, agama, estetika, dan nilai spekulatif, semuanya berbeda. Usaha mereduksi suatu nilai menjadi nilai lain, ide tentang kebaikan, kecantikan, kebenaran, dan kegunaan, semuanya telah terbukti gagal. Jika apa yang menentukan nilai hanyalah cara sesuatu benda memengaruhi bekerjanya kehidupan sosial, maka keragaman nilai menjadi sukar dijelaskan. Dan juga, jika nilai suatu benda ditentukan oleh tingkat kegunaan sosial atau kegunaan individualnya, maka sistem nilai manusia akan goncang dan berubah dari atas ke bawah.

Selanjutnya ditemukan bahwa semua orang sepakat mengandalkan bahwa nilai suatu benda adalah inheren di dalam, dan menunjukkan hakikat benada itu. Tetapi postulat ini bertentangan dengan kenyataan. Ada banyak keadaan di mana hubungan itu seperti tidak ada di antara ciri khas suatu obyek dengan nilai yang diatribusikan kepada obyek itu.

Benda dikatakan memunyai nilai bila benda tersebut menunjukkan suatu aspek ideal, sedang tinggi-rendah nilai tersebut bergantung pada ideal itu da paa tingkat mana ia mewujudkan ideal itu. Namun demikian, nilai yang diatribusikan kepada ideal itu, tidaklah menjelaskan dirinya sendiri. Ia dipostulasikan, tetapi tidak menjelaskan. Jika ideal itu bergantung pada realitas, maka mustahil untuk untuk menemukan dalam realitas kondisi dan penyebab  yang membuatnya dapat diterima dengan akal.

Singkatnya, jika nilai suatu benda tidak dapat dan tidak pernah ditaksir kecuali dalam hubungannya dengan konsepsi tertentu tentang ideal, maka yang terakhir ini perlu dijelaskan. Agar dapat mengerti bagaiman pertimbangan nilai bisa muncul, tidak cukup hanya dengan mempostulasikan bahwa ada sejumlah ideal tertentu. Asal-usulnya, bagaiman kaitannya satu sama lain, transendensinya, pengalamannya, dan sifat obyektivitasnya harus turut dipertimbangkan.

Cita-cita kolektif hanya dapat dimanifestasikan dan sadar akan dirinya sendiri jika dikonkretkan dalam obyek materiil yang dapat dilihat oleh setiap orang dan bisa ditunjukkan pada setiap pikiran. Dua benda pada adasarnya bisa saja berbeda berbeda atau dilihat dari sudut pandang tertentu tidak sama, tetapi jika mereka mewujudkan cita-cita yang sama maka mereka itu tampaknya sama. Dengan kata lain, masyarakat mensuvbtitusikan dunia yang ditampilkan oleh indra dengan dunia yang berbeda yang merupakan proyeksi cita-cita yang diciptakan oleh masyarakat itu sendiri.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan hakikat. Pertimbangan nilai menunjukkan hubungan sesuatu dengan suatu cita-cita. Cita-cita—seperti halnya benda—adalah suatu realitas yang mempunyai eksistensi tersendiri, walaupun dalam tatanan yang berbeda. Hubungan yang ditunjukkan ini menyatukan dua persyaratan seperti yang berlaku dalam pertimbangan realitas. Jadi, unsur-unsur pertimbangan sama pada keduanya. Namun tidak berarti bahwa keduanya dapat direduksi satu sama lain; mereka serupa karena keduanya adalah produk dari kemampuan yang sama.

Sosiologi positif dituduh hanya memuja fakta dan secara sistematismengabaikan cita-cita. Dan tuduhan ini tidak benar. Fenomena sosial utama, agama, moralitas, hukum, ekonomi, dan estetika, semua itu tidak lebih dari sistem nilai dan karenanya sistem cita-cita. Sejak semula sosiologi bergerak dilapangan cita-cita. Sosiologi tidak menghimpun fakta untuk membangun cita-cita, tetapi sebaliknya, menerima mereka sebagai fakta yang ada, sebagai obyek studi, dan mencoba menganalisis dan menjelaskan. Maka tujuan sosiologi adalah membawa cita-cita, dalam berbagai bentuknya, ke lingkungan alam tanpa memasukkan atribut-atributnya yang khas. Masyarakat memang merupakan bagian dari alam dan ia kini mendominasi alam. Semua kekuatan semesta tidak hanya berkumpul dalam masyarakat, tetapi mereka juga membentuk sintesis baru yang jauh lebih kaya, lebih kompleks, dan lebih kuat daripada masing-masing keuatan tersebut. Singkatnya, masyarakat adalah alam yang mencapai titik lebih tinggi dalam perkembangannya, dan memusatkan segala enerjinya untuk melampaui dirinya sendiri.

tugas dasar-dasar logika

review buku the cashflow quadrant

Buku ini merupakan panduan menuju kebebasan finansial. Buku ini akan memperlihatkan mengapa orang bekerja kebih sedikit namun menghasilkan lebih banyak dan lebih aman secara finansial daripada orang lain, ini hanya masalah mengetahui dari kuadran mana anda berasal. Jika ingin memegang kendali atas apa yang kita lakukan hari ini, untuk mengubah masa depan finansial kita, kita sebaiknya memetakan langkah. Ini adalah Cashflow Quadrant, kita akan dibantu memetakan arah untuk mencapai posisi yang diinginkan di masa depan ketika memilih jalan sendiri menuju kebebasan finansial.

Qyosaki membagi kuadran menjadi empat bagian, yaitu E, S, B dan I. Huruf dalam masing-masing kuadran mewakili:

E untuk Employee ( pegawai)

S untuk Self- employed ( pekerja lepas)

B untuk Business Owner ( pemilik usaha)

I untuk Investor ( penanam modal)

“E” dan “S” yang mengandalkan gaji diletakkan di kuadran sisi kiri, sedangkan “B” dan “I” yang menerima pemasukan dari bisnis atau investasi diletakkan di sisi kanan. Walaupun kebebasan finansial bisa ditemukan dalam keempat kuadran ini, namun keterampilan “B” atau “I” akan membantu mencapai target finansial dengan lebih cepat.

Beberapa karakteristik yang membedakan orang di masing-masing kuadran:

  1. “E” (pegawai). Mereka merupakan orang-orang yang menyukai kata “aman” dan “tunjangan”. Kata “aman” sering digunakan untuk menutupi rasa takut, kalau menyangkut uang atau pekerjaan, banyak orang sangat membenci rasa takut yang mengiringi ketidakpastian ekonomi. Itu sebabnya muncul hasrat akan rasa aman. Kata “tunjangan” berarti orang-orang juga menginginkan semacam imbalan tambahan, kompensasi ekstra yang sudah ditentukan dan dijamin. Seperti jaminan kesehatan atau pensiun, mereka ingin merasa aman dan melihatnya tertulis hitam diatas putih.
  2. “S” (pekerja lepas). Mereka adalah orang-orang yang ingin menjadi bos mereka sendiri. Mereka ingin melakukan apa yang mereka mau. Mereka tidak suka jumlah uang yang mereka hasilkan ditentukan oleh orang lain. Mereka sulit memperkerjakan orang lain untuk melakukan tugas mereka karena bagi mereka tak ada yang sanggup melakukannya dengan lebih baik.
  3. “B” (pemilk usaha). Kelompok ini merupakan lawan dari “S”. Seorang “B” senang memperkerjakan orang-orang pandai dari keempat kategori E, S, B dan I. Tidak seperti kelompok “S” yang tidak suka memperkerjakan orang lain karena menganggap tidak ada yang bisa melakukannya dengan lebih baik, kelompok “B” justru berpendapat mengapa harus melakukannya sendiri kalau kita bisa menyewa orang lain untuk melakukannya bagimu, dan mereka bisa melakukannya dengan lebih baik. Disini mereka hanya membutuhkan sistem, dan orang lain yang akan mengerjakannya.
  4. “I” (penanam modal). Kuadran “I” adalah arena bermain golongan kaya. Investor membuat uang dengan uang. Mereka tak perlu bekerja karena uang mereka bekerja untuk mereka.

Kebanyakan dari kita menempati posisi sebelah kiri kuadran sebagai employee atau self-employee.

Setiap orang dapat sukses di kuadrannya masing-masing.

Perbedaan seorang E, S dan seorang B, I adalah :

Bahwa seorang E, S tidak dapat meninggalkan bisnisnya dalam waktu yang lama, sedangkan seorang B, I dapat meninggalkan bisnisnya dalam waktu yang relatif lama karena aset-lah yang bekerja untuknya.

CONTOH SEORANG E

Kita ambil contoh yang umum terjadi dalam masyarakat, misal seorang pegawai negeri. Apabila seorang pegawai tidak dapat bekerja lagi karena alasan sakit atau usia lanjut, maka seorang pegawai tadi tidak akan mendapatkan uang / gaji mereka, mungkin akan mendapatkan jatah pensiun pada usia lanjut.

CONTOH SEORANG S

Misal seorang pengacara. Apabila seorang pengacara tidak bekerja karena alasan kesehatan, usia lanjut, atau karena adanya bencana yang mengakibatkan dia tidak bisa melakukan pekerjaannya, maka pengacara tersebut tidak akan mendapatkan penghasilan.
CONTOH SEORANG B

Contoh seorang pemilik waralaba ayam goreng Kentucky (KFC). Apabila pemilik waralaba tersebut ingin berlibur ke luar negeri selema satu bulan hingga beberapa tahun, maka bisnisnya akan tetap berjalan dengan baik dan menghasilkan uang. Karena telah memilik sistem yang telah terbukti dapat berjalan dengan sistem yang ada dan karyawannya.

CONTOH SEORANG I

Mari kita ambil contoh seorang deposan. Sama seperti seorang B, yaitu ketika seorang deposan ingin meninggalkan bisnisnya dalam waktu yang lama, maka bisnisnya tetap dapat berjalan karena aset-lah yang bekerja untukkya.

Tapi mengapa orang lebih memilih aman daripada bebas? Alasan utama orang mencari keamanan pekerjaan adalah karena itulah yang diajarkan kepada mereka, baik dirumah maupun disekolah. Banyak diantara kita telah terkondisi dari kecil untuk mencari keamanan pekerjaan, bukan keamanan finansial. Dan orang takut untuk berinvestasi karena satu hal, yaitu risiko. Keberhasilan di sisi kanan kuadran membutuhkan pengetahuan tentang uang, yang disebut “kecerdasan Finansial”. Kecerdasan finansial bukan terutama tentang berapa banyak uang yang kau hasilkan, tapi lebih mengenai berapa banyak uang yang kau simpan, seberapa keras uang itu bekerja untukmu, dan berapa banyak generasi yang bisa kau hidupi dengan uang itu.

Orang yang sukses pada sisi kiri kuadran dan sisi kanan kuadran akan sangat berbeda. Orang yang berhasil pada sisi kanan kuadran, karena keberhasilannya ia mempunyai semakin banyak uang dan waktu luang. Sementara orang yang berhasil di sisi kiri kuadran, keberhasilan akan memberi semakin sedikit waktu, meskipun uang bertambah.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa jika ingin cepat kaya dan bebas secara finansial maka bergelutlah di sisi kanan kuadran. Mulailah berinvestasi. Karena di sisi kanan kuadran, kita bisa menghindari membayar pajak secara legal, dan dengan bisa menyimpan lebih banyak uang serta membuat uang itu bekerja untuk kita, kita dengan cepat memperoleh kebebasan. Pajak dan utang adalah dua alasan utama orang tidak pernah merasa aman secara finansial atau tidak pernah mencapai kebebasan finansial. Jalan menuju rasa aman dan kebebasan ditemukan di sisi kanan Cashflow Quadrant. Jika bekerja keras di sisi kiri kuadran, anda akan bekerja keras selamanya. Jika bekerja keras di sisi kanan kuadran, anda punya kesempatan menemukan kebebasan.

Jalan yang disarankan Qyosaki adalah, masukilah kuadran I, jika kau punya banyak uang dan waktu luang. Tapi jika tidak mempunyai banyak waktu dan uang, mulailah dari kuadran B. Mengapa? Karena jika pertama-tama sukses sebagai seorang “B”, anda akan mendapat kesempatan yang baik untuk berkembang menjadi seorang “I” yang kuat. Jangan takut berinvestasi, orang sering berkata investasi berisiko, bukan investasi yang berisiko tapi buta finansial lah yang berisiko. Jujurlah pada diri sendiri, kalau sekarang belum menjadi investor jangka panjang, berusahalah secepat mungkin mencapai status itu. Buatlah rencana untuk mengendalikan kebiasaan mengeluarkan uang. Minimalkan utang dan liabilitas, hidup sesuai kemampuan dan tingkatkan kemampuan. Hitung berapa banyak yang harus diinvestasikan tiap bulan, dengan tingkat bunga yang realistis, supaya bisa mencapai tujuan-tujuan. Hanya dengan mempunyai rencana jangka panjang, mengurangi utang dan menyisihkan sejumlah kecil uang setiap bulan akan memberi banyak waktu untuk berhasil, jika memulai cukup awal dan mencermati apa yang dilakukan. Ambillah langkah yang sederhana, jangan muluk-muluk. Inilah mengapa kita perlu mengenal Cashflow Quadrant, agar kita mempunyai pandangan tentang siapa diri kita, apa minat kita, dan pribadi seperti apa yang kita ingin capai. Semua orang bisa menemukan jalan masing-masing menuju jalur cepat finansial. Dari kuadran manapun.

Daftar Pustaka

Qyosaki, Robert T. 2006. The Cashflow Quadrant. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

aku mencintaimu

seperti bintang yang mecintai malam

sungguh aku menginginkanmu

multiple myeloma & malignant

Definisi

Multiple myeloma is a cancer in which antibodyproducing plasma cells grow in an uncontrolled and invasive (malignant) manner. Multiple myeloma adalah kanker di mana sel-sel plasma antibodyproducing bertumbuh dalam ganas) cara dan invasif (tidak terkontrol.

Deskripsi

Multiple myeloma, juga dikenal sebagai plasma sel myeloma , adalah yang paling umum kanker kedua darah.  Multiple myeloma menyumbang sekitar 1% dari semua kanker dan 2% dari semua kematian akibat kanker.  Multiple myeloma adalah penyakit di mana sel plasma ganas menyebar melalui sumsum tulang dan bagian luar yang keras tulang besar tubuh.Akhirnya, bekas lunak beberapa atau lubang, disebut lesi osteolitik, bentuk tulang.

Tulang dada, tulang belakang, tulang rusuk, tengkorak, tulang panggul, dan tulang panjang paha semua sangat kaya sumsum. Sumsum tulang adalah jaringan yang sangat aktif yang bertanggung jawab untuk memproduksi sel-sel yang beredar dalam darah.  Ini termasuk sel darah merah yang membawa oksigen, sel-sel darah putih yang berkembang menjadi sel-sel sistem kekebalan tubuh, dan trombosit, yang menyebabkan darah untuk membeku.

Plasma sel dan imunoglobulin

Plasma sel berkembang dari B-limfosit atau sel-B, sejenis sel darah putih. B-sel, seperti semua sel darah, terbentuk dari sel batang terspesialisasi dalam sumsum tulang.  Setiap sel-B membawa spesifik antibodi yang mengakui suatu zat asing tertentu disebut antigen .Antibodi yang besar protein disebut imunoglobulin (Igs), yang mengenali dan menghancurkan zat asing dan organisme seperti bakteri . pertemuan, ia mulai membelah dengan cepat untuk membentuk sel plasma matang. These plasma cells are all identical (monoclonal). Sel-sel plasma semua adalah identik (monoklonal).Mereka menghasilkan sejumlah besar identik-badan anti yang spesifik untuk antigen.

Malignant plasma cells (Plasma sel-sel ganas)

Multiple myeloma dimulai ketika bahan genetik (DNA) rusak selama pengembangan sel induk ke dalam sel-B dalam tulang sumsum.  Hal ini menyebabkan sel tersebut dapat berkembang menjadi plasmablast abnormal atau ganas, bentuk awal perkembangannya sel plasma. Plasmablasts menghasilkan molekul perekat yang memungkinkan mereka untuk obligasi untuk bagian dalam tulang sumsum.  Sebuah faktor pertumbuhan, yang disebut interleukin-6, mendorong pertumbuhan yang tidak terkendali dari sel-sel myeloma di sumsum tulang dan mencegah kematian alami mereka. Sedangkan sumsum tulang yang normal mengandung kurang dari 5 sel plasma%, sumsum tulang dari seorang individu dengan multiple myeloma berisi lebih dari sel plasma 10%.

Dalam kebanyakan kasus multiple myeloma, sel-sel plasma ganas semua membuat Ig identik. Igs terdiri dari empat rantai protein yang terikat bersama-sama. Dua dari rantai ringan dan dua yang berat. Ada lima kelas dari rantai berat, sesuai dengan lima jenis Igs dengan berbagai fungsi sistem kekebalan tubuh. The Igs dari sel-sel myeloma nonfunctional dan disebut paraproteins. Semua paraproteins dari setiap individu satu adalah monoklonal (identik) karena sel-sel myeloma adalah klon identik dari sel plasma tunggal.  Kerumunan M-protein keluar Igs fungsional dan komponen lain dari sistem kekebalan tubuh. TMereka juga menyebabkan antibodi fungsional, yang dihasilkan oleh sel plasma normal, untuk cepat rusak.  Jadi, multiple myeloma menekan sistem kekebalan tubuh.

Pada sekitar 75% kasus multiple myeloma, sel-sel plasma ganas juga memproduksi rantai cahaya monoklonal, atau Igs tidak lengkap.  Ini disebut Bence-Jones protein dan dikeluarkan dalam urin.  Sekitar 1% dari beberapa myelomas disebut nonsecretors karena mereka tidak menghasilkan apapun Ig abnormal.