Archive for the ‘teori sosial dan politik’ Category

Sosialisme

Berbicara mengenai sosialisme, tentu juga berbicara tentang suatu paham Marxisme. Sebab ajaran-ajaran sosialisme dipandang sebagai cikal bakal yang mengilhami cara berpikir selanjutnya pada Marxisme. Sosialisme muncul di akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 sebagai reaksi dari perubahan ekonomi dan sosial yang diakibatkan oleh revolusi industri. Revolusi industri ini memang memberikan keberkahan buat para pemilik pabrik pada saat itu, tetapi dilain pihak para pekerja justru malah semakin miskin. Semakin menyebar ide sistem industri kapitalis ini, maka reaksi dalam bentuk pemikiran-pemikiran sosialis pun semakin meningkat. Istilah sosialisme pertama kali muncul di Perancis sekitar 1830. Umumnya sebutan itu dikenakan bagi aliran yang masing-masing hendak mewujutkan masyarakat yang berdasarkan hak milik bersama terhadap alat-alat produksi, dengan maksud agar produksi tidak lagi diselenggarakan oleh orang-orang atau lembaga perorangan atau swasta yang hanya memperoleh laba tetapi semata-mata untuk melayani kebutuhan masyarakat. Sosialisme mendasarkan daya tariknya pada dua hal, yaitu: pemerataan sosial dan penghapusan kemiskinan.

Serangkaian perubahan yang bertujuan mengatasi akibat samping sistem industri dan kapitalisme dapat digabungkan dibawah istilah sosialisme. Karl Marx adalah pendukung hancurnya sistem kapitalis dan digantikannya sistem ini oleh sistem sosialis. Marxisme menjadi mata air utama bagi sosialisme itu sendiri.  Sosialisme sebagai ideology politik timbul dari keadaan yang kritis di bidang sosial, ekonomi dan politik akibat revousi industri . Adanya kemiskinan , kemelaratan ,kebodohan kaum buruh , maka sosialisme berjuang untuk mewujudkan kesejahteraan secara merata.

Dalam sebuah buku berjudul  Socialism and War yang kemudian diberi judul baru Jalan Menuju Sosialisme sedunia- sang pengarang mencoba membuat suatu perbandingan yang ekstrem antara jalan sosialis yang ditempuh cina dan ingin ditempuh Yugoslavia, dan mencoba mengkaitkannya dengan sang superpower Unisoviet. Diantara ketiganya, sekalipun sama-sama mengusung ideologi Sosialis, namun diantara ketiganya memiliki perbedaan yang sangat berbeda. Para teoretikus Cina berpendapat bahwa dunia sosialis yang bersatu akan timbul di masa depan sebagai akibat dari perang dunia ketiga yang diramalkan bakal terjadi, akan berarti penutup dari perselisihan, tegasnya, dunia sosialisme bersatu akan menghasilkan suatu dunia yang penuh harmoni yang akan condong kearah penciptaan suatu masa depan yang benar-benar jaya bagi raktyat-rakyat dunia.

Perang dunia ketiga tidak akan sama dengan perang dunia pertama dan kedua, orang tidak perlu menjadi pessimis ekstrim serta mengkhayalkan perang dunia ketia sebagai hari akhir, namun harus menyadri kenyataan bahwa dewasa ini suatu perang akan menjadi suatu perang permusnahan massa. Nah, siapakah yang akan mengatakan tentang kekuatan-kekuatan politik yang ada atau bagaimana kekuatn-kekuatan ini akan bertindak jika seluruh ekonomi dunia mengalami malapetaka pemusnahan? Bagi para teoretikus Cina cukuplah membuat pernyataan bahwa hasilnya adalah sosialisme.

Perluasan selanjutnya dalam dunia sosialisme pasti tidak akan dapat berjalan dengan suatu perluasan mekanis dalam bentuk-bentuk hubungan-hubungan sosialis yang sampai sekarang masih berlaku di dunia sosialis, akan tetapi dengan lahirnya bentuk-bentuk baru, bentuk-bentuk yang biasanya selalu lebih unggul dari yang ada sebelumnya asal saja dasar material memungkinkan terjadinya kemajuan yang demikian. Hal ini berarti bahwa sosialisme akan selalu mendobrakkan sistemnya di Negara-negara kapitalis dengan mempergunakan jalan-jalan yang sangat beraneka ragam dan bermacam-macam bentuk, yang pada waktu yang bersamaan tidak saja membesarkan lingkungan sosialisme tetapi juga mempunyai pengaruh dalam arti kemajuan bentk-bentuk sosialis dalam Negara-negara sosialis yang sudah ada.

sebelum pecahnya revolusi di Eropa pada tahun 1989, tak seorang pun yang pernah meramalkan bahwa Komunisme akan rontok secara berbarengan dalam waktu yang relatif singkat di tanah tumpah darah kelahiran dan perkembangannya, Eropa Timur. Memang banyak peramal dari kubu kapitalis yang yakin bahwa di mana pun kekuasaan otoriter, diktator yang menelantarkan nasib rakyat banyak, cepat atau lambat akan menemui kehancurannya. Tetapi ramalan mereka sangat berhati-hati.

Sosialisme bermunculan selama satu setengah abad terakhir, namun hanya komunis yang sering juga digambarkan sebagai sosialisme nyata dan demokrasi liberal yang kadang-kadang disebut sosialisme demokrasi, yang tampil menjadi dua hal yang memberikan bobot pada sejarah. Kisah kedua sistem itu perlu diceritakan, sesingkat apapun, untuk memberikan gambaran sekilas kematian sosialisme pada tahun 1980-an. Bermula di Eropa pada masa pasca Napoleon, atau pada tahap kedua era industri terutama di Inggris dan Perancis. Kaum Borjuis kecewa dengan keadaan kelas pekerja yang menyedihkan dan mulai berpikir untuk memperbaikinya.

Demokrasi


judul : Demokrasi

nama : A. Nimas Kesuma Negari    nim : D0310002

pengampu : akhmad ramdhon

Sejarah demokrasi

Sebelum istilah demokrasi ditemukan oleh penduduk Yunani, bentuk sederhana dari demokrasi telah ditemukan sejak 4000 SM di Mesopotamia. Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan). Istilah ini berasal dari bahasa Yunani demokratia “kekuasaan rakyat”, yang dibentuk dari kata demos “rakyat” dan Kratos “kekuasaan”, merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM. Istilah demokrasi diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat).

Pada pertengahan tahun 1970-an sampai 1980-an dan sesudahnya negara-negara anti demokrasi di Eropa, Amerika Latin, Asia, Timur Tengah, dan Afrika seketika itu mulai mengacu dan melekatkan prinsip-prinsip demokrasi di dalam proses politik mereka. Satu momentum terpenting dari itu semua terjadi pada tahun 1989 di mana sebuah rezim komunis runtuh dan digantikan oleh pemerintahan yang mengacu pada demokrasi.

Demokrasi Dunia

Pada tahun 1990-an, hanya beberapa negara di seluruh dunia yang dengan tegas-tegas menunjuk demokrasi sebagai pilihan mereka. Untuk menunjuk apakah suatu negara sudah menerapakan prinsip-prinsip demokrasi sangat ditentukan oleh seberapa ketat definisi demokrasi tersebut diterapkan. Sejarah pembentukan demokrasi yang dimulai tahun 1910 hingga saat ini menampilkan kesan yang bersifat seketika dan suatu perubahan yang dahsyat. Keberhasilan perang dunia II membuat AS dan Inggris berupaya mempromosikan model demokrasi sebagai jalan keluar dari kolonialisme. Amerika sebagai negara yang sudah memiliki sistem demokrasi sejak lama berpendapat bahwa demokrasi adalah bagian dari dunia modern yang secara natural mengiringi pembangunan ekonomi.

Demokrasi di Indonesia

Indonesia juga tidak luput dari hembusan gelombang demokrasi dunia. Masyarakat Indonesia masih berkutat di sekitar pembenahan reformasi politik ke arah tatanan yang lebih demokratis, setelah sukses menumbangkan rezim otoriter Orde Baru. Indikator yang paling nampak terjadinya demokratisasi di Indonesia antara lain tumbangnya rezim otoriter Soeharto, pemilu dengan multi partai dan partisipasi politik warga yang tinggi, desentralisasi daotonomi daerah, pengamandemenan UUD’45, dan masih banyak lagi.

Namun apakah benar Indonesia sudah berdemokrasi? Ketika muncul pertanyaan seperti itu, banyak pihak yang mengatakan belum. Mengapa demikian? Lihatlah contoh yang sangat sederhana ini, pemakaian seragam bagi anak sekolah. Suka tidak suka semua siswa sekolah dari SD hingga SMA diwajibkan memakai seragam, bukankah ini tidak demokratis? Itu hanya sebuah contoh kecil yang sangat sederhana. Sepertinya demokrasi di Indonesia sendiri sudah disalahartikan oleh banyak kalangan. pelaksanaan demokrasi di Indonesia yang telah berlangsung selama 13 tahun, sasarannya guna mewujudkan kesejahteraan bangsa dan negara, tapi realitasnya masih terjadi degradasi nilai moral bangsa.

Demokrasi saat ini

Dari hasil diskusi muncul beberapa pertanyaan menyangkut demokrasi

Pertama, Mengapa seseorang yang ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin harus melalui partai dan tidak membawa nama individu atau secara individual?

kedua, apakah sistem demokrasi itu baik bagi Indonesia?

Selanjutnya muncul pertanyaan lain yang sejenis dengan pertanyaan kedua, yaitu dikatakan dalam sebuah artikel bahwa demokrasi model barat dianggap sebagai sistem yang harus diturut untuk membawa kesejahteraan bagi seluruh dunia. Mengapa ada asumsi seperti itu yang mengatakan bahwa demokrasi barat adalah sistem yang ideal yang mampu mengantarkan masyarakat pada kehidupan yang dicita-citakan? benarkah ini adalah sistem yang efektif? Apakah tidak akan ada perlawanan terhadap dominasi  liberalisme dan kapitalisme yang menjadi “two Towers” dalam sistem ini?

Pertama, hal ini bukan berarti tidak mencerminkan demokrasi dimana seolah-olah seseorang tidak bisa menyampaikan pendapatnya sendiri, namun jika setiap orang yang ingin mencalonkan diri membawa nama individu akan sangat banyak suara yang keluar dan itu akan sulit di dengar. Maka dari itu agar suara tidak berpencar perlu disederhanakan. Penyaringan dan pembulatan itu dilakukan dengan membentuk partai, yang merupakan tempat orang-orang yang secita-cita, seideologi berkumpul.

Kedua, demokrasi baik jika dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang sebenarnya. Namun tidak dapat dikatakan bahwa ini adalah sistem yang paling efektif, karena demokrasi bukanlah tujuan akhir suatu bangsa melainkan demokrasi itu hanyalah sebuah cara.

Lalu, mengapa harus barat? Karena memang demokrasi di barat sudah ada jauh sebelum kita mengadopsinya. Dan disana mereka beretika, jika pemimpin melakukan kesalahan maka mereka punya kesadaran diri untuk mundur dari pemerintahan.

Daftar Pustaka

Noer, Deliar. Pengantar ke Pemikiran Politik. Jakarta: CV. Rajawali.

Markoff, John. 1996. Gelombang Demokrasi Dunia. Yogyakarta: Pustaka Belajar.