Archive for the ‘sosiologi’ Category

Macam/Jenis & Pengertian Penyimpangan Sosial, Individual dan Kolektif

A. Arti Definisi / Pengertian Penyimpangan Sosial (social deviation)

1. Menurut Robert M. Z. Lawang penyimpangan perilaku adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sitem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang.

2. Menurut James W. Van Der Zanden perilaku menyimpang yaitu perilaku yang bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tercela dan di luar batas toleransi.

Menurut Lemert penyimpangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penyimpangan primer dan penyimpangan sekunder. Penyimpangan primer adalah suatu bentuk perilaku menyimpang yang bersifat sementara dan tidak dilakukan terus-menerus sehingga masih dapat ditolerir masyarakat seperti melanggar rambu lalu lintas, buang sampah sembarangan, dll. Sedangkan penyimpangan sekunder yakni perilaku menyimpang yang tidak mendapat toleransi dari masyarakat dan umumnya dilakukan berulang kali seperti merampok, menjambret, memakai narkoba, menjadi pelacur, dan lain-lain.

B. Macam-Macam / Jenis-Jenis Penyimpangan Individual (individual deviation)

Penyimpangan individual atau personal adalah suatu perilaku pada seseorang dengan melakukan pelanggaran terhadap suatu norma pada kebudayaan yang telah mapan akibat sikap perilaku yang jahat atau terjadinya gangguan jiwa pada seseorang.

Tingkatan bentuk penyimpangan seseorang pada norma yang berlaku :
1. Bandel atau tidak patuh dan taat perkataan orang tua untuk perbaikan diri sendiri serta tetap melakukan perbuatan yang tidak disukai orangtua dan mungkin anggota keluarga lainnya.
2. Tidak mengindahkan perkataan orang-orang disekitarnya yang memiliki wewenang seperti guru, kepala sekolah, ketua rt rw, pemuka agama, pemuka adat, dan lain sebagainya.
3. Melakukan pelanggaran terhadap norma yang berlaku di lingkungannya.
4. Melakukan tindak kejahatan atau kerusuhan dengan tidak peduli terhadap peraturan atau norma yang berlaku secara umum dalam lingkungan bermasyarakat sehingga menimbulkan keresahan. ketidakamanan, ketidaknyamanan atau bahkan merugikan, menyakiti, dll.

Macam-macam bentuk penyimpangan indivisual :
1. Penyalahgunaan Narkoba.
2. Pelacuran.
3. Penyimpangan seksual (homo, lesbian, biseksual, pedofil, sodomi, zina, seks bebas, transeksual).
4. Tindak Kriminal / Kejahatan (perampokan, pencurian, pembunuhan, pengrusakan, pemerkosaan, dan lain sebagainya).
5. Gaya Hidup (wanita bepakaian minimalis di tempat umum, pria beranting, suka berbohong, dsb).

C. Macam-Macam / Jenis-Jenis Penyimpangan Bersama-Sama / Kolektif (group deviation)

Penyimpangan Kolektif adalah suatu perilaku yang menyimpang yang dilakukan oleh kelompok orang secara bersama-sama dengan melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sehingga menimbulkan keresahan, ketidakamanan, ketidaknyamanan serta tindak kriminalitas lainnya.

Bentuk penyimpangan sosial tersebut dapat dihasilkan dari adanya pergaulan atau pertemanan sekelompok orang yang menimbulkan solidaritas antar anggotanya sehingga mau tidak mau terkadang harus ikut dalam tindak kenakalan atau kejahatan kelompok.

Bentuk penyimpangan kolektip :
1. Tindak Kenakalan
Suatu kelompok yang didonimasi oleh orang-orang yang nakal umumnya suka melakukan sesuatu hal yang dianggap berani dan keren walaupun bagi masyarakat umum tindakan trsebut adalah bodoh, tidak berguna dan mengganggu. Contoh penyimpangan kenakalan bersama yaitu seperti aksi kebut-kebutan di jalan, mendirikan genk yang suka onar, mengoda dan mengganggu cewek yang melintas, corat-coret tembok orang dan lain sebagainya.
2. Tawuran / Perkelahian Antar Kelompok
Pertemuan antara dua atau lebih kelompok yang sama-sama nakal atau kurang berpendidikan mampu menimbulkan perkelahian di antara mereka di tempat umum sehingga orang lain yang tidak bersalah banyak menjadi korban. COntoh : tawuran anak sma 70 dengan anak sma 6, tawuran penduduk berlan dan matraman, dan sebagainya.
3. Tindak Kejahatan Berkelompok / Komplotan
Kelompok jenis ini suka melakukan tindak kejahatan baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terbuka. Jenis penyimpangan ini bisa bertindak sadis dalam melakukan tindak kejahatannya dengan tidak segan melukai hingga membunuh korbannya. Contoh : Perampok, perompak, bajing loncat, penjajah, grup koruptor, sindikat curanmor dan lain-lain.
4. Penyimpangan Budaya
Penyimpangan kebudayaan adalah suatu bentuk ketidakmampuan seseorang menyerap budaya yang berlaku sehingga bertentangan dengan budaya yang ada di masyarakat. Contoh : merayakan hari-hari besar negara lain di lingkungan tempat tinggal sekitar sendirian, syarat mas kawin yang tinggi, membuat batas atau hijab antara laki-laki dengan wanita pada acara resepsi pernikahan, dsb.

Masalah Penyimpangan Sosial

Dasar pengakategorian penyimpangan didasari oleh perbedaan perilaku, kondisi dan orang. Penyimpangan dapat didefinisikan secara statistik, absolut, reaktifis atau normatif. Perbedaan yang menonjol dari keempat sudut pandang pendefinisian itu adalah pendefinisian oleh para reaktifis atau normatif yang membedakannya dari kedua sudut pandang lainnya. Penyimpangan secara normatif didefinisikan sebagai penyimpangan terhadap norma, di mana penyimpangan itu adalah terlarang atau terlarang bila diketahui dan mendapat sanksi. Jumlah dan macam penyimpangan dalam masyarakat adalah relatif tergantung dari besarnya perbedaan sosial yang ada di masyarakat.

Masyarakat dan Penyimpangan
Penyimpangan adalah relatif terhadap norma suatu kelompok atau masyarakat. Karena norma berubah maka penyimpangan berubah. Adalah sulit untuk menentukan suatu penyimpangan karena tidak semua orang menganut norma yang sama sehingga ada perbedaan mengenai apa yang menyimpang dan tidak menyimpang. Orang yang dianggap menyimpang melakukan perilaku menyimpang. Tetapi perilaku menyimpang bukanlah kondisi yang perlu untuk menjadi seorang penyimpang. Penyimpang adalah orang-orang yang mengadopsi peran penyimpang, atau yang disebut penyimpangan sekunder. Para penyimpang mempelajari peran penyimpang dan pola-pola perilaku menyimpang sama halnya dengan orang normal yang mempelajari peran dan norma sosial yang normal. Untuk mendapatkan pemahaman penuh terhadap penyimpangan diperlukan pengetahuan tentang proses keterlibatan melakukan perilaku menyimpang dan peran serta tindakan korbannya.

Penyimpangan Sebagai Suatu Proses
Perilaku menyimpang adalah perilaku manusia dan dapat dimengerti hanya dengan kerangka kerja perilaku dan pikiran manusia lainnnya. Seseorang menjadi penyimpang sama halnya dengan seseorang menjadi apa saja, yaitu dengan proses belajar norma dan nilai suatu kelompok dan penampilan peran sosial. Ada nilai normal dan ada nilai menyimpang. Perbedaannya adalah isi nilai, norma dan peran. Melihat penyimpangan dalam konteks norma sosial membuat kita dapat melihat dan mengintepretasikan arti penyimpangan bagi penyimpang dan orang lain. Peran penyimpang adalah peran yang kuat karena cenderung menutupi peran lain yang dimainkan seseorang. Lebih jauh lagi, peran menyimpang menuruti harapan perilaku tertentu dalam situasi tertentu. Pecandu obat menuruti harapan peran pecandu obat seperti juga penjahat menuruti harapan peran penjahat.

Penyimpangan biasanya dilihat dari perspektif orang yang bukan penyimpang. Pengertian yang penuh terhadap penyimpangan membutuhkan pengertian tentang penyimpangan bagi penyimpang. Studi observasi dapat memberikan pengertian langsung yang tidak dapat diberikan metode lainnya. Untuk menghargai penyimpangan adalah dengan cara memahami, bukan menyetujui apa yang dipahami oleh penyimpang. Cara-cara para penyimpang menghadapi penolakan atau stigma dari orang non penyimpang disebut dengan teknik pengaturan. Tidak satu teknik pun yang menjamin bahwa penyimpang dapat hidup di dunia yang menolaknya, dan tidak semua teknik digunakan oleh setiap penyimpang. Teknik-teknik yang digunakan oleh penyimpang adalah kerahasiaan, manipulasi aspek lingkungan fisik, rasionalisasi, partisipasi dalam subkebudayaan menyimpang dan berubah menjadi tidak menyimpang.

Teori-Teori Individu tentang Penyimpangan
Pendekatan individu tentang penyimpangan mengkaitkan proses menjadi penyimpang dengan sesuatu yang ada dalam diri manusia, psikologi atau biologi. Teori individual sama dengan model pandangan medis yang mengkaitkan penyimpangan dengan kesakitan (illness), yang membutuhkan perawatan dan penyembuhan. Pandangan psikiatri dan psikoanalisis adalah sama dalam hal mencari akar penyimpangan pada pengalaman masa kecil, tetapi pandangan psikoanalisis lebih menekankan keterbelakangan dalam perkembangan kepribadian, konflik seksual dan alam pikiran bawah sadar. Tetapi tidak ada metode yang dapat membuktikan perbedaan yang konsisten antara penyimpang dan non penyimpang berdasarkan kepribadian bawaan.

Studi pelanggaran terhadap norma sosial, atau pelanggaran peraturan tidak hanya dipelajari oleh sub bidang sosiologi penyimpangan. Bidang analisis sosiologi lainnya yang juga mengkaji masalah tentang pelanggaran tersebut oleh para sosiolog disebut sebagai masalah sosial dan kriminologi. Perbedaan dalam hal analisisnya dengan studi penyimpangan sosial digambarkan dalam gambar berikut ini.

Kriminologi
Masalah sosial adalah daerah penelitian yang umum dan termasuk di dalamnya penyimpangan sosial dan kriminologi. Masalah sosial adalah isu-isu sosial yang oleh banyak orang diberikan penjelasan dan resolusi yang berbeda-beda atau dianggap masalah atau merugikan kesejahteraan masyarakat. Masalah sosial biasanya ditandai dengan klaim-klaim yang bertentangan dari banyak orang dan kelompok kepentingan terhadap isu-isu tertentu. Isu-isu tersebut termasuk pencemaran udara, kenakalan anak, aborsi, kejahatan, perkosaan, diskriminasi ras dan etnik, pengangguran dan korupsi.

Walaupun penyimpangan sosial didefinisikan sebagai masalah sosial, tetapi tidak semua masalah sosial adalah penyimpangan, di mana aturan-aturan sosial telah dilanggar. Pada penyimpangan sosial pelaku pelanggaran norma dapat ditemukan. Sementara dalam masalah sosial, pelakunya dapat dikategorikan sebagai individu, jaringan organisasi atau masyarakat itu sendiri.

Termasuk di dalam studi penyimpangan sosial adalah kriminologi. Penyimpangan sosial mempelajari perilaku dan mereka yang dianggap sebagai pelanggar aturan. Sedangkan kriminologi adalah studi tentang orang-orang yang melanggar aturan-aturan resmi yang disebut hukum. Kejahatan adalah suatu perilaku yang dianggap sebagai perilaku yang melanggar hukum. Ini adalah bentuk khusus perilaku menyimpang yang secara formal dan resmi ditetapkan oleh penguasa. Banyak jenis penyimpangan yang bukan kejahatan. Tetapi semua kejahatan adalah penyimpangan. Misalnya sakit jiwa bisa dianggap penyimpangan tetapi bukan kejahatan.

Sosiolog yang mempelajari penyimpangan sosial dan kriminologi mempunyai banyak kesamaan. Bahkan keduanya banyak meneliti bentuk-bentuk penyimpangan kriminal maupun penyimpangan non kriminal. Peneliti dari dua bidang ini memberikan perhatian pada sumber-sumber perilaku menyimpang, reaksi terhadap individu dan reaksi institusi terhadap perilaku menyimpang dan penyimpang, formasi kelompok penyimpang dan sub kebudayaan penyimpang, serta sosialisasi ke dalam peran-peran penyimpang. Walaupun dari sudut sejarah terdapat perbedaan mengenai teori dan pengertian tentang isu-isu yang perlu dipelajari antara penyimpangan sosial dan kriminologi, tetapi masih banyak sejumlah persamaan dari keduanya. Studi penyimpangan sosial seringkali menggunakan data-data kriminologi untuk mengilustrasikan secara teoritis keberadaan perilaku menyimpang secara umum.

Ada banyak persilangan pemikiran antara penyimpangan sosial dan kriminologi. Beberapa sosiolog menganggap penyimpangan sosial sebagai dasar penjelasan teoritik terhadap kriminologi dan studi masalah sosial. Sementara sosiolog lainnya lebih menitikberatkan pada perkembangan perspektif teoritis dan model konseptual yang lebih khusus terhadap fenomena yang berbeda yang dipelajari oleh masing-masing disiplin ilmu.

Seperti juga subbahasan sosiologi lainnya, studi penyimpangan sosial memberikan sumbangan terhadap pemahaman lebih mendasar akan ciri-ciri masyarakat dan perilaku manusia. Ia memberikan pemahaman terhadap variasi gambaran kehidupan normal sehari-hari. Modul Sosiologi Perilaku Menyimpang ini sebagian besar pembahasannya bersumber dari buku Sociology of Deviant Behaviour karya Marshal B. Clinard dan Robert F. Meier. Sistematika penulisannya juga mengikuti alur buku aslinya. Pembahasannya mencakup variasi dalam pola sosialisasi, permainan peran, afiliasi kelompok, kelompok organisasi, interaksi antara kelompok, gaya hidup, sikap, nilai, kehidupan keluarga, kontrol sosial dan perubahan sosial. Semua itu merupakan komponen masyarakat dan perilaku yang menjadi fokus perhatian para sosiolog.

Sumber buku Sosiologi Perilaku Menyimpang karya Jokie M.S. Siahaan

Kekosongan Eksistensi Manusia Modern

Staf pengajar Ganesha Operation (GO), alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Dosen Universitas Islam As-Syafi’iah (UIA) dan Universitas Indonusa Esa Unggul (UIEU) Jakarta

Derap langkah kemajuan teknologi sebagai perpanjangan potensi manusia, telah semakin menunjukkan taring keberhasilan. Produk potensi manusia itu telah pula, mau tidak mau, mempengaruhi perilaku keseharian kita sebagai makhluk sosio-kultural. Perubahan-perubahan terhadap dimensi sosio-kultural memungkinkan kita untuk segera mengambil sikap tertentu, baik preventif maupun partisipatif.

Sikap preventif yang diambil adalah tanggungjawab yang tidak ringan untuk dilakukan, sementara kita memposisikan diri dalam wilayah konsumen teknologi. Hal ini akan mengakibatkan pengurasan energi fisik maupun psikis yang tidak kecil.

Meski demikian, bila sikap partisipatif yang dipilih -atas dasar keterlibatan yang sukar terelakkan sebab kita berkecimpung secara total dalam pemanfaatan teknologi-, berarti kita siap menerima segala konsekuensi logis yang bakal menyerang kita dari arah yang tidak diduga-duga.

Katakanlah kita mengambil sikap partisipatif secara tidak acuh (without thinking twice), maka kita akan tergusur oleh kebengisan teknologi. Misalnya, semalam suntuk kita browsing internet untuk keperluan kerja atau sekadar iseng, esok hari kita bangun kesiangan, lantas lupa mendirikan shalat Subuh.

Contoh ini menunjukkan diri kita yang tengah mengalami pergeseran kehangatan komitmen beragama (religious commitment). Karena terus menerus berpacu dalam kancah kemajuan teknologi, atas dalih pemanfaatan yang terkesan “mumpung sempat” itulah ibadah ritual dan sosial kita secara gradual tersisihkan.

Betapa tidak, kita sibuk dengan setumpuk pekerjaan di kantor, shooping ke setiap supermarket, atau sibuk mencari uang tanpa berhati-hati dari mana dan akan ke mana uang tersebut dibelanjakan.

Ternyata, kita telah disibukkan oleh sosok makhluk baru, yaitu teknologi atas nama “pola hidup modern” (modern lifestyle). Tentu, kita tidak bisa menutup mata untuk mengungkapkan bahwa teknologi harus disyukuri sebagai buah dari ilmu pengetahuan (science), tapi kita tentu tak lantas pula melupakan kewajiban untuk beribadah kepada Allah SWT.

Saking sibuknya dengan segala pekerjaan, waktu yang tersisa untuk mendirikan shalat tinggal sedikit. Dari waktu yang hanya beberapa menit itu, kita terus didera rasa letih, sehingga shalat tidak kita laksanakan sekali. Bila kita terlalu sibuk mengejar dunia, menurut sementara psikolog, kita akan terjangkit gejala psikosomatis.

Di samping menderita gejala psikosomatis, tanpa filter dan sikap bijaksana dalam mengimbangi kemajuan teknologi yang demikian pesat, lambat laun kita akan menderita kekosongan eksistensial (existential vacuum).

Kekosongan eksistensial adalah gejala psikis orang modern yang mengalami keterasingan diri. Terasing kepada diri sendiri, lingkungan, bahkan Tuhan.

Keterasingan kepada Tuhan inilah yang paling berbahaya. Sebab, manusia modern cenderung akan berbuat bebas tanpa batas, yang justru akan membuat dirinya terpuruk ke dalam lembah kesesatan. Orang-orang “modern” tipe inilah yang lebih rendah daripada binatang ternak sekalipun. Allah berfirman, “Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (Qs. at-Tîn [95]: 5)

Tanggungjawab Moral

Kemajuan teknologi seharusnya terikat dengan tanggungjawab moral (moral responsibility), sehingga segala akibat yang terjadi tidak membabi-buta. Siapapun tidak akan menolak kemajuan teknologi, tapi bila ia justru membangun peradaban yang destruktif, sebagai muslim, kita harus berani mengatakan “tidak”.

Pertanyaannya, dari dan untuk siapakah tanggungjawab moral itu? Tentu dari dan untuk kita. Yang harus senantiasa kita ingat ialah bahwa setiap amal perbuatan, sekecil apapun, akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Di sana, kita tak dapat mengelak untuk berbohong di hadapan Allah.

Disebutkan dalam al-Qur`an, Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya.” (Qs. al-Zalzalah [99]: 7-8)

Kemajuan teknologi (fikr), akan bersifat fatalistik sebelum dipadukan dengan zikir (dzikr), kata Muhamad Iqbal, seorang penyair-filosof asal Pakistan. Bila kita hanya bergantung pada fikr, berarti kita telah memutuskan untuk menjadi orang “modern” yang menderita kekosongan eksistensial.

kekuasaan dan wewenang

Konsep Kekuasaan
Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi prilaku pihak lain, sehingga prilakunya menjadi sesuai dengan keinginan pihak yang mempunyai kekuasaan. Dalam perumusan ini pelaku bisa berupa seorang, sekelompok orang, atau suatu kolektifitas. Kekuasaan selalu berlangsung antara sekurang-kurangnya dua pihak, jadi ada hubungan (relationship) antara dua pihak atau lebih. Biasanya kekuasaan diselenggarakan melalui isyarat yang jelas. Ini sering dinamakan kekuasaan manifes. Namun kadang isyarat itu tidak ada, ini sering dinamakan kekuasaan implisit. Contoh dari kekuasaan manifest adalah jika seorang polisi menghentikan seorang pengendara motor karena melanggar peraturan lalu lintas. Contoh kekuasaan implisit ialah seorang anak sekolah membatalkan rencana untuk main bola dan memutuskan untuk membuat pekerjaan rumah karena takut dimarahi ayahnya.
Esensi dari kekuasaan adalah hak mengadakan sanksi.cara untuk menyelenggarakan kekuasaan berbeda-beda, ada beberapa cara, yaitu: dengan kekerasan fisik (force), kekerasan melalui ancaman (coercion), pengaruh (persuasion), dan bisa juga dengan cara lain yaitu dengan memberi ganjaran (reward) atau intensif, imbalan, atau kompensasi.
Hakikat dan Sumber Kekuasaan
Sumber kekuasaan dapat berupa kedudukan, misalnya seorang majikan terhadap pegawainya, dalam kasus ini bawahan bisa ditindak jika melanggar disiplin kerja atau melakukan korupsi. Sumber kekuasaan dapat juga berupa kekayaan, misalnya seorang pengusaha kaya mempunyai kekuasaan atas seorang politikus, dan kekuasaan juga dapat berupa kepercayaan atau agama, misalnya di banyak tempat alim ulama mempunyai kekuasaan terhadap umatnya.
Sifat hakikat kekuasaan dapat terwujud dalam hubungan yang simetris dan asimetris.

1. SIMETRIS 2. ASIMETRIS
a. hubungan persahabatan a. popularitas
b. hubungan sehari-hari b. peniruan
c. hubungan yang bersifat ambivalen c. mengikuti perintah
d. pertentangan antara mereka yang d. tunduk pada pemimpin formal atau informal
sejajar kedudukannya e. tunduk pada seorang ahli
f. pertentangan antara mereka yang tidak sejajar kedudukannya.
g. hubungan sehari-hari
Unsur-Unsur Saluran Kekuasaan dan Dimensinya
1. Rasa takut
Rasa takut merupakan perasaan negatif karena seseorang tunduk pada orang lain karena terpaksa.
2. Rasa cinta
Orang lain bertindak sesuai dengan kehendak pihak yang berkuasa untuk menyenangkan semua pihak. Menghasilkan perbuatan yang positif.
3. Kepercayaan
Timbul sebagai hasil hubungan langsung antara dua orang atau lebih yang bersifat asosiatif.
4. Pemujaan
Seseorang atau sekelompok orang yang memegang kekuasaan mempunyai dasar pemujaan bagi orang-orang lain. Segala tindakan penguasa dianggap benar.
Saluran-saluran dalam kekuasaan:
a. Saluran Militer d. Saluran Tradisional
b. Saluran Ideologi e. Saluran Ekonomi
c. Saluran Politik f. Saluran-saluran lainnya
Cara-cara mempertahankan kekuasaan:
1. dengan menghilangkan peraturan-peraturan lama yang merugikan kedudukan penguasa.
2. mengadakan system-sistem kepercayaan yang dapat memperkokoh kedudukan penguasa.
3. pelaksanaan administrasi dan birokrasi yang baik.
4. mengadakan konsolidasi horizontal dan vertical.
Bentuk lapisan kekuasaan:
1. tipe kata, adalah system lapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas dan baku.
2. Tipe oligarkis, masih mempunyai garis pemisah yang tegas namun pembedaan kelas social ditentukan oleh kebudayaan masyarakat.
3. tipe demokratis, menunjukkan akan kenyataan akan adanya garis pemisah antara lapisan yang sifatnya mobil sekali.

Wewenang/ Otoritas
Wewenang (authority) adalah kekuasaan yang dilembagakan (institutionalized power) dan merupakan kekuasaan formal (formal power). Dengan kata lain wewenang merupakan kekuasaan yang ada pada seseorang atau kelompok, yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat. Jadi yang mempunyai wewnang berhak untuk mengeluarkan perintah dan membuat peraturan-peraturan serta berhak untuk mengharapkan kepatuhan terhadap peraturan-peraturannya.
Bentuk-bentuk wewenang:
1. Wewenang tradisional, kharismatik, dan rasional-legal.
Wewenang tradisional berdasarkan kepercayaan diantara anggota masyarakat bahwa tradisi lama serta kedudukan kekuasaan yang dilandasi oleh tradisi itu adalah wajar dan patut dihormati. Wewenang kharismatik berdasarkan kepercayaan anggota masyarakat pada kesaktian dan kekuatan mistik atau religiusd seorang pemimpin. Wewenang rasional-legal berdasarkan kepercayaan pada tatanan hukum rasional ynag melandasi kedudukan seorang pemimpin. Yang ditekankan bukan orangnya tapi aturan-aturan yang mendasari tingkah lakunya.
2. Wewenang resmi dan tidak resmi
Wewenang tidak resmi timbul dalam hubungan-hubungan antarpribadi yang sifatnya situasional, dan sangat ditentukan oleh kepribadian para pihak. Wewenang resmi sifatnya sistematis, diperhitungkan dan rasional.
3. Wewenang Pribadi dan territorial
Wewenang pribadi didasarkan pada tradisi, struktur wewenang bersifat konsentris. Pada Wewenang territorial cendrung mengadakan sentral9isasi wewnang yang memungkinkan hubungan langsung denag para warga kelompok.
4. Wewenang terbatas dan menyeluruh
Wewenang terbatas yaitu wewenang tidak mencakup semua sector atau bidang kehidupan. Sedang wewenang menyeluruh berarti suatu wewenang yang tidak dibatasi oleh bidang-bidang kehidupan tertentu. Missal Negara yang mempunyai wewenang menyeluruh untuik mempertahankan kedaulatan wilayahnya.