Archive for the ‘sistem sosial budaya indonesia’ Category

Perubahan sosial budaya

Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.

Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi; cara dan pola pikir masyarakat; faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi; dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

Ada pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain; perkembangan IPTEK yang lambat; sifat masyarakat yang sangat tradisional; ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat; prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan; hambatan ideologis; dan pengaruh adat atau kebiasaan.

Perkembangan Sosial Dan Kebudayaan Indonesia

Setiap kehidupan di dunia ini tergantung pada kemampuan beradaptasi terhadap lingkungannya dalam arti luas. Akan tetapi berbeda dengan kehidupan lainnya, manusia membina hubungan dengan lingkungannya secara aktif. Manusia tidak sekedar mengandalkan hidup mereka pada kemurahan lingkungan hidupnya seperti ketika Adam dan Hawa hidup di Taman Firdaus. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengelola lingkungan dan mengolah sumberdaya secara aktif sesuai dengan seleranya. Karena itulah manusia mengembangkan kebiasaan yang melembaga dalam struktur sosial dan kebudayaan mereka. Karena kemampuannya beradaptasi secara aktif itu pula, manusia berhasil menempatkan diri sebagai makhluk yang tertinggi derajatnya di muka bumi dan paling luas persebarannya memenuhi dunia.

Di lain pihak, kemampuan manusia membina hubungan dengan lingkungannya secara aktif itu telah membuka peluang bagi pengembangan berbagai bentuk organisasi dan kebudayaan menuju peradaban. Dinamika sosial itu telah mewujudkan aneka ragam masyarakat dan kebudayaan dunia, baik sebagai perwujudan adaptasi kelompok sosial terhadap lingkungan setempat maupun karena kecepatan perkembangannya.

MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN INDONESIA

Dinamika sosial dan kebudayaan itu, tidak terkecuali melanda masyarakat Indonesia, walaupun luas spektrum dan kecepatannya berbeda-beda. Demikian pula masyarakat dan kebudayaan Indonesia pernah berkembang dengan pesatnya di masa lampau, walaupun perkembangannya dewasa ini agak tertinggal apabila dibandingkan dengan perkembangan di negeri maju lainnya. Betapapun, masyarakat dan kebudayaan Indonesia yang beranekaragam itu tidak pernah mengalami kemandegan sebagai perwujudan tanggapan aktif masyarakat terhadap tantangan yang timbul akibat perubahan lingkungan dalam arti luas maupun pergantian generasi.

Ada sejumlah kekuatan yang mendorong terjadinya perkembangan sosial budaya masyarakat Indonesia. Secara kategorikal ada 2 kekuatan yang mmicu perubahan sosial, Petama, adalah kekuatan dari dalam masyarakat sendiri (internal factor), seperti pergantian generasi dan berbagai penemuan dan rekayasa setempat. Kedua, adalah kekuatan dari luar masyarakat (external factor), seperti pengaruh kontak-kontak antar budaya (culture contact) secara langsung maupun persebaran (unsur) kebudayaan serta perubahan lingkungan hidup yang pada gilirannya dapat memacu perkembangan sosial dan kebudayaan masyarakat yang harus menata kembali kehidupan mereka .

Betapapun cepat atau lambatnya perkembangan sosial budaya yang melanda, dan factor apapun penyebabnya, setiap perubahan yang terjadi akan menimbulkan reaksi pro dan kontra terhadap masyarakat atau bangsa yang bersangkutan. Besar kecilnya reaksi pro dan kontra itu dapat mengancam kemapanan dan bahkan dapat pula menimbulkan disintegrasi sosial terutama dalam masyarakat majemuk dengan multi kultur seperti Indonesia.

PERKEMBANGAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN DEWASA INI

Masyarakat Indonesia dewasa ini sedang mengalami masa pancaroba yang amat dahsyat sebagai akibat tuntutan reformasi secara menyeluruh. Sedang tuntutan reformasi itu berpangkal pada kegiatan pembangunan nasional yang menerapkan teknologi maju untuk mempercepat pelaksanaannya. Di lain pihak, tanpa disadari, penerapan teknologi maju itu menuntut acuan nilai-nilai budaya, norma-norma sosial dan orientasi baru. Tidaklah mengherankan apabila masyarakat Indonesia yang majemuk dengan multi kulturalnya itu seolah-olah mengalami kelimbungan dalam menata kembali tatanan sosial, politik dan kebudayaan dewasa ini.

Penerapan teknologi maju

Penerapan teknologi maju untuk mempercepat pebangunan nasional selama 32 tahun yang lalu telah menuntut pengembangan perangkat nilai budaya, norma sosial disamping ketrampilan dan keahlian tenagakerja dengn sikap mental yang mendukungnya. Penerapan teknologi maju yang mahal biayanya itu memerlukan penanaman modal yang besar (intensive capital investment); Modal yang besar itu harus dikelola secara professional (management) agar dapat mendatangkan keuntungan materi seoptimal mungkin; Karena itu juga memerlukan tenagakerja yang berketrampilan dan professional dengan orientasi senantiasa mengejar keberhasilan (achievement orientation).

Tanpa disadari, kenyataan tersebut, telah memacu perkembangan tatanan sosial di segenap sector kehidupan yang pada gilirannya telah menimbulkan berbagai reaksi pro dan kontra di kalangan masyarakat. Dalam proses perkembangan sosial budaya itu, biasanya hanya mereka yang mempunyai berbagai keunggulan sosial-politik, ekonomi dan teknologi yang akan keluar sebagai pemenang dalam persaingan bebas. Akibatnya mereka yang tidak siap akan tergusur dan semakin terpuruk hidupnya, dan memperlebar serta memperdalam kesenjangan sosial yang pada gilirannya dapat menimbulkan kecemburuan sosial yang memperbesar potensi konflik sosial.dalam masyarakat majemuk dengan multi kulturnya.

Keterbatasan lingkungan (environment scarcity)

Penerapan teknologi maju yang mahal biayanya cenderung bersifat exploitative dan expansif dalam pelaksanaannya. Untuk mengejar keuntungan materi seoptimal mungkin, mesin-mesin berat yang mahal harganya dan beaya perawatannya, mendorong pengusaha untuk menggunakannya secara intensif tanpa mengenal waktu. Pembabatan dhutan secara besar-besaran tanpa mengenal waktu siang dan malam, demikian juga mesin pabrik harus bekerja terus menerus dan mengoah bahan mentah menjadi barang jadi yang siap di lempar ke pasar. Pemenuhan bahan mentah yang diperlukan telah menimbulkan tekanan pada lingkungan yang pada gilirannya mengancam kehidupan penduduk yang dilahirkan, dibesarkan dan mengembangkan kehidupan di lingkungan yang di explotasi secara besar-besaran.

Di samping itu penerapan teknologi maju juga cenderung tidak mengenal batas lingkungan geografik, sosial dan kebudayaan maupun politik. Di mana ada sumber daya alam yang diperlukan untuk memperlancar kegiatan industri yang ditopang dengan peralatan modern, kesana pula mesin-mesin modern didatangkan dan digunakan tanpa memperhatikan kearifan lingkungan (ecological wisdom) penduduk setempat.

Ketimpangan sosial-budaya antar penduduk pedesaan dan perkotaan ini pada gilirannya juga menjadi salah satu pemicu perkembangan norma-norma sosial dan nilai-nilai budaya yang befungsi sebagai pedoman dan kerangka acuan penduduk perdesaan yang harus nmampu memperluas jaringan sosial secara menguntungkan. Apa yang seringkali dilupakan orang adalah lumpuhnya pranata sosial lama sehingga penduduk seolah-olahkehilangan pedoman dalam melakukan kegiatan. Kalaupun pranata sosial itu masih ada, namun tidak berfungsi lagi dalam menata kehidupan pendudduk sehari-hari. Seolah-olah terah terjadi kelumpuhan sosial seperti kasus lumpur panas Sidoarjo, pembalakan liar oleh orang kota, penyitaan kayu tebangan tanpa alas an hokum yang jelas, penguasaan lahan oleh mereka yang tidak berhak.

Kelumpuhan sosial itu telah menimbulkan konflik sosial yang berkepanjangan dan berlanjut dengan pertikaian yang disertai kekerasan ataupun amuk.

Mengapa Barrack Obama begitu melegenda?

Barrack Obama

Siapa yang tidak kenal dengan Barrack Obama, presiden Amerika Serikat terpilih tahun 2009 ini. Namanya begitu besar dan dikenal diseluruh dunia. Merupakan satu satunya presiden Amerika pertama yang berkulit hitam dan mempunya kharisma yang luar biasa. Bahkan di Indonesia sendiri namanya sering disebut sebut dan didukung banyak orang.Sebagian besar masyarakat dunia berharap Barrack Obama menjadi orang yang bisa menstabilkan ekonomi dunia dan menghentikan beberapa pertikaian antar negara.

Namun kita tidak tahu apakah nantinya dunia benar-benar bisa stabil. Dan apakah Barrack Obama benar-benar bisa menstabilkan krisis ekonomi dan menghentikan peperangan di dunia ini ? Hanya waktu yang dapat menjawabnya. Dan anda akan mejadi saksi nantinya.

sistem sosial indonesia

PENDEKATAN TEORITIS
Dalam bab ini dijelaskan bahwa ada dua macam sudut pendekatan yang paling populer diantara pendekatan-pendekatan yang lain, paling banyak digunakan dan menjadi amat berpengaruh di kalangan para ahli sosiologi. Yang pertama disebut sebagai pendekatan fungsional structural atau fungsionalisme-struktural, sudut pendekatan yang pertama ini menganggap bahwa masyarakat pada dasarnya terintegrasi diatas dasar kata sepakat para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu, suatu anggapan yang memiliki daya mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan kepentingan diantara para anggota masyarakat. Pendekatan ini berawal dari cara melihat masyarakat yang menganalogikan masyarakat dengan organisme biologis. Pendekatan ini mengundang paling banyak perdebatan di kalangan para ahli sosiologi karena dalam pendekatan ini terlalu menekankan anggapan-anggapan dasarnya pada peranan unsur-unsur normatif dari tngkah laku social, khususnya pada proses-proses dimana hasrat-hasrat perseorangan diatur secara normatif untuk menjamin terpeliharanya stabilitas sosial.
Oleh karena pendekatan fungsional dianggap kurang mampu menganalisis masalah-masalah perubahan kemasyarakatan dan dipandang sebagai pendekatan yang bersifat reaksioner maka muncullah suatu pendekatan lain yang menganggap bahwa setiap masyarakat mengandung konflik-konflik di dalam dirinya, yang dengan kata lain konflik merupakan gejala yang melekat di dalm setiap masyarakat, pendekatan tersebut disebut pendekatan konflik. Dalam pendekatan ini, apa yang kurang diperhatikan oleh pendekatan fungsional structural justru lebih menjdi pusat perhatian. Seperti perubahan social, oleh para penganut pendekatan konflik tidak saja dipandang sebagai gejala yang melekat didalam kehidupan setiap masyarakat, akan tetapi lebih dari itu justru dianggap bersumber di dalam factor-faktor yang ada dalam masyarakat itu sendiri.
Kedua pendekatan ini memiliki sudut pandang yang berbeda, jika dalam pendekatan fungsional banyak mengabaikan kenyataan bahwa konflik dan kontradiksi-kontradiksi intern dapat merupakan sumber bagi terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat, namun dalam pendekatan konflik justru menganggap bahwa konflik merupakan gejala yang melekat dalam setiap masyarakat yang dapat menjadi sumber terjadinya perubahan sosial.

STRUKTUR MAJEMUK MASYARAKAT INDONESIA
Struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh dua cirinya yang bersifat unik. Yaitu pertama, secara horizontal ditandai oleh kenyataan bahwa Indonesia memiliki bermacam-macam suku bangsa yang berbeda-beda, perbedaan –perbedaan agama, adat istiadat serta perbedaan kedaerahan. Yang kedua, secara vertical struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertical antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup menonjol. Perbedaan-perbedaan tersebut yang menyangkut perbedaan suku bangsa, agama, adat dan kedaerahan disebut sebagai cirri masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk.
Masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk (plural societies), yaitu suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain dalam suatu kesatuan politik. Masyarakat Indonesia sebagai keseluruhan terdiri dari elemen-elemen yang terpisah satu sama lain karena perbedaan ras yang merupakan kumpulan individu yang memiliki kehidupan social yang tidak utuh. Dalam kehidupan politik, pertanda bahwa Indonesia bersifat majemuk adalah tidak adanya kehendak bersama (common will), sedang dalam kehidupan ekonomi ditandai dengan tidak adanya permintaan yang dihayati bersama oleh seluruh elemen masyarakat.
Perbedaan-perbedaan suku-bangsa, agama, dan regional yang ada di Indonesia merupakan dimensi horizontal dari struktur masyarakat Indonesia yang majemuk. Sedangkan keadaan dimana semakin tumbuhnya kekuatan politik dan meluasnya pertumbuhan sector ekonomi modern dan semua hal yang mengikutinya disebut sebagai dimensi vertical dalam struktur kemajemukan masyarakat Indonesia. Ada beberapa factor yang menyebabkan adanya pluralitas di Indonesia. Yang pertama perbedaan suku, Di Indonesia terdapat lebih dari 300 suku bangsa dengan masing-masing bahasa dan identitas cultural yang berbeda-beda. Factor Kedua yaitu karena posisi Indonesia yang terletak diantara dua samudra yang mempengaruhi terciptanya pluralitas agama dalam masyarakat Indonesia. Yang ketiga yaitu factor iklim dan struktur tanah yang berbeda-beda di berbagai wilayah di nusantara. Factor-faktor tersebut merupakan dimensi dari struktur masyarakat Indonesia yang majemuk.

STRUKTUR KEPARTAIAN SEBAGAI PERWUJUDAN STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT INDONESIA
Perbedaan-perbedaan yang ada di Indonesia seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, seperti perbedaan suku-bangsa, agama, regional, dan pelapisan social secara analitis memang dapat dibicarakan sendiri-sendiri, namun dalam kenyataan semuanya jalin-menjalin menjadi suatu kebulatan kompleks serta menjadi dasar bagi terjadinya pengelompokan masyarakat Indonesia. Pengelompokan masyarakat Indonesia membawa akibat yang luas dan mendalam pada seluruh pola hubungan-hubungan social dalam masyarakat Indonesia. Seperti dalam hubungan-hubungan poliyik, hokum, ekonomi, kekeluargaan, dan lain-lain.
Contoh dalam kehidupan politik Indonesia, sejak permulaan abad ke 20 terutama setelah kemerdekaan timbul kematangan kondisi-kondisi teknis, politis, dan social sehingga muncullah berbagai macam kelompok kepentingan. Salah satu bentuk kelompok kepentingan yang sangat khusus sifatnya adalah yang kita kenal sebagai partai politik. Pada awal pertumbuhannya di Indonesia, kelompok-kelompok kepentingan seperti itu awalnya memusatkan perhatiannya pada kegiatan-kegiatan yang bersifat social-cultural daripada yang bersifat politis. Baru kemudian lama-lama akhirnya kelompok-kelompok kepentingan tersebut mengubah sifatnya menjadi organisasi yang benar-benar bersifat politis, yaitu dalam bentuknya sebagai partai politik.
Banyak partai-partai politik di Indonesia yang dapat menggambarkan bagaimana system kepartaian di Indonesia memiliki dasarnya di dalam watak yang dipunyai oleh struktur masyarakat Indonesia. Partai-partai politik pertama yang paling besar di Indonesia pertama kali yaitu partai Masyumi, NU, dan PNI. Pertumbuhan partai-partai tersebut pada perkembangannya mengalami berbagai konflik. Prilaku politik dari berbagai partai politik di Indonesia dalam hubungannya satu sama lain lebih kompleks daripada sekedar perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama dan stratifikasi social. Karena itulah muncul berbagai cara melihat pola prilaku politik dalam berbagai partai politik di Indonesia. Perbedaan suku bangsa, agama dan stratifikasi social memberikan warna pada penggolongan politik di Indonesia.
BAB V
STRUKTUR MASYARAKAT INDONESIA DAN MASALAH INTEGRASI NASIONAL
Struktur masyarakat Indonesia yang plural dan bersifat multi-dimensional menimbulkan persoalan tentang bagaimana masyarakat Indonesia terintegrasi pada tingkat nasional baik secara horizontal maupun vertikal. Struktur masyarakat Indonesia yang majemuk memiliki karakteristik dimana terjadinya segmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang seringkali memiliki kebudayaan atau sub-kebudayaan yang berbeda-beda. Dilihat dari hal tersebut maka muncullah pertanyaan bagaimana masyarakat yang majemuk dapat bertahan dalam waktu yang panjang? jika ditelaah melalui pendekatan konflik, suatu masyarakat yang majemuk terintegrasi diatas paksaan (coercion) dari suatu kelompok atau kesatuan social yang dominan atas kelompok-kelompok social yang lain. Sedangkan menurut pandangan dari pendekatan fungsional, factor yang mengintegrasi masyarakat Indonesia adalah berupa kesepakatan para warga masyarakat Indonesia akan nilai-nilai umum tertentu.
Factor-faktor yang mempengaruhi terjadinya integrasi dalam masyarakat Indonesia antara lain pengakuan sumpah pemuda sebagai hasil dari gerakan nasionalisme dan jugapancasila telah menjadi factor yang mengintegrasikan masyarakat Indonesia. Sifat majemuk masyarakat Indonesia memang telah menjadi sebab dan kondisi bagi timbulnya konflik-konflik social yang sedikit banyak bersifat visious circle dan yang oleh karena itu mendorong tumbuhnya proses integrasi social atas landasan kekerasan (coercion). Namun di sisi lain proses integrasi tersebut juga terjadi diatas landasan consensus bangsa Indonesia mengenai nilai-nilai fundamental tertentu.