Archive for the ‘agama’ Category

SERULAH MANUSIA KE JALAN ALLAH

“ Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajarab yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesengguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk “. ( QS An-Nahl : 125 )

Nabi Muhammad SAW menerima perintah yang mulia dari Allah SWT, yaitu menyeru atau mengajak manusia kepada jalan Allah atau dinul Islam. Tujuannya adalah agar supaya kerasulan Muhammad dengan seruannya untuk beragama Islam itu menyempurnakan akhlaq karimah dan menjadi rahmatan lil’alamin. Maksudnya agar ummat manusia berakhlaq mulia yang mampu mewujudkan kebaikan bagi seluruh alam. Visi keislaman yang suci dan luhur itu diperlukan pelaksanaan misi atau tugas-tugas yang suci dan luhur pula , jangan sampai tercemar dengan hal-hal yang kotor, keji, zhalim , merusak dsb.
Pada periode Makkah, Nabi Muhammad SAW menghadapi banyak tantangan dan hambatan dalam berda’wah menyeru orang-orang kafir masuk Islam. Rasulullah dan para shahabat diperlakukan secara kasar , disiksa , dianiaya dan diancam untuk dibunuh. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW hendak hijrah ke Madinah, orang-orang kafir / musyrik Makkah menahan dan menganiaya para shahabat. Dengan berbagai cara para shahabat dapat menyelamatkan diri sehingga hijrah dapat berhasil karena pertolongan Allah SWT.
Para periode Madinah , orang-orang kafir Makkah meningkatkan permusuhannya kepada Nabi Muhammad SAW ummat Islam. Mereka menyerang untuk membunuh Nabi dan menghancurkan Islam. Banyak terjadi peperangan antara lain perang Badar, perang Uhud, perang Khandaq dll. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa pada waktu perang Uhud telah gugur sebagai syuhada’ 64 orang dari Anshar dan 6 orang dari Muhajirin, di antaranya Hamzah ( paman Nabi ) yang dirusak anggota badannya secara kejam.. Ketika berdiri dihadapan Hamzah, Rasulullah bersabda ” Aku akan bunuh 70 orang dari mereka (orang kafir) sebagaimana mereka lakukan terhadap dirimu’. Maka turunlah malaikat Jibril menyampaikan wahyu sebagai teguran kepada Nabi SAW, dan akhirnya Nabi SAW mengurungkan niat itu.
Allah SWT berfirman yang artinya,’ Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah ( hai Muhammad ) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran ) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS.An-Nahl : 126 – 128 ). Dalam tarikh dijelakan bahwa ketika penaklukan atau pembebasan Makkah, Rasulullah dan kaum muslimin tidak melakukan pembalasan yang lebih kejam, akan tetapi kesabaran yang ditampilkan, sehingga fathu Makkah berjalan aman, lancar dan tidak ada pertumpahan darah atau pembunuhan massal.
Dalam berda’wah menyeru manusia kepada jalan Allah atau masuk Islam, Rasulullah SAW beserta para shahabat dan seluruh ummat Islam sekarang ini ke depan , haruslah dengan cara-cara yang baik sebagaimana perintah Allah SWT dalam QS An-Nahl : 125 yang dapat dijelaskan segai berikut :
1. Bilhikmah, artinya dengan hukum / syari’ah. Yaitu perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Hukum/Syari’ah dalam Islam yaitu terutama yang bersumber Wahyu Allah dan dimuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Sedangkan Hukum yang dibuat bersama manusia dalam bermasyarakat , berbangsa dan bernegara berupa UUD, UU, PP, Perda, AD/ART, Kode Etik, Tata Tertib dll.
2. Mau’izhah hasanah, artinya dengan pelajaran yang baik. Yaitu contoh teladan yang baik dari orang tua, ulama’ , pendidik, pemimpin dan seluruh ummat manusia, baik melalui pendidikan formal, maupun non formal. Kita bersyukur sudah banyak ummat Islam yang menyelenggarakan pendidikan yang baik, unggulan dan berkualitas yang banyak diminati masyarakat luas internasional .
3. Jadilhum billati hiya ahsan, artinya debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Yaitu dalam perdebatan itu dikemukakan aqidah, pendapat atau argumentasi yang lebih baik dari mereka. Kita bersyukur sekarang ini sudah membudaya perdebatan yang baik dalam segala hal, di bidang ibadah, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, politik, dan lain sebagaimana.
Di akhir ayat Al-Qur’an tersebut, Allah menegaskan bahwa sesunggunya Allah Allah lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Pembelajaran Sepanjang Hayat

MEDAN-Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut menerapkan pembelajaran sepanjang hayat kepada seluruh staf dan pengajarnya.
Rektor IAIN Sumut Prof Nur Ahmad Fadhil Lubis, mengatakan, dalam konsep Islam dikenal pendidikan sepanjang hayat. “Artinya belajar tidak mengenal kata berhenti meski usia sudah lanjut dan manusia juga dituntut untuk menyesuaikan dirinya secara terus menerus dengan situasi baru,” kata pada acara Semiloka Nasional ‘Pendidikan Akhak Membangun Karakter Bangsa’ di IAIN Sumut, Selasa (5/10).
Lebih lanjut Fadhil mengatakan, pendidikan sepanjang hayat merupakan asas pendidikan yang sangat sesuai diterapkan pada zaman globalisasi seperti sekarang ini, yang menuntut seseorang harus cepat beradaptasi dengan perubahan kehidupan yang sangat cepat dewasa ini.
“Atas dasar itulah, IAIN Sumut berkeinginan mengembangkan konsep pendidikan sepanjang hayat ini. Agar seluruh staf pengajar mulai dari dosen biasa hingga Guru Besar siap menghadapi dan mengantisipasi perubahan zaman yang sudah globalisasi ini,” katanya.
Menurut Fadhil, pendidikan harus tetap bergerak dan mengenal inovasi secara terus menerus. “Agama dan ilmu harus dijalankan dengan selaras karena agama tanpa ilmu akan pincang dan ilmu tanpa agama akan buta,” jelasnya.
Fadhil mengatakan, IAIN Sumut dewasa ini telah berkembang menjadi sebuah perguruan tinggi Islam yang diberi mandat diperluas (Wider Mandate). “Mandat tersebut diantaranya adalah IAIN Sumut diizinkan untuk melakukan dan mengembangkan kajian-kajian keilmuan yang tidak lagi hanya terbatas pada ilmu-ilmu ke-Islaman dalam arti konvensional,” terangnya.
Dalam rangka menindaklanjuti mandat tersebut, saat ini IAIN Sumut telah berbenah diri dan melakukan berbagai upaya yang sungguh-sungguh untuk segera berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). “Upaya-upaya tersebut telah dirintis sejak beberapa tahun belakangan ini, mulai persiapan administrasi, penyiapan sumber daya dosen dan pegawai, perintis dan pengembangan jurusan serta program studi sampai pengembangan kampus,” papar Fadhil.
Dalam konteks penyiapan SDM, sambung Fadhil, IAIN Sumut telah melakukan pemetaan dan pengembangan terhadap kualifikasi akademik dan profesionalitas dosen dan pegawai.
“Pemetaan dilakukan untuk pengadaan, identifikasi kucukupan dan penetapan standar SDM. Sementara itu pengembangan dilakukan untuk menentapkan SDM sesuai kualifikasi akademik dan keterampilan profesional yang dimiliki agar sesuai dengan tuntutan perubahan IAIN Sumut menjadi UIN,” ujarnya. (saz)

Read the rest of this entry »

long life education in islam . by Nima

ISLAM PEDOMAN HIDOMAN HIDUP SEPANJANG ZAMAN
Disusun untuk memenuhi tugas Asistensi Agama Islam dengan tema ‘long life education in Islam’

A. Pendahuluan
Akhir-akhir ini banyak para ahli yang mulai menyebarkan paham Long life education atau dengan kata lain pendidikan sepanjang hayat. Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah.
Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Pendidikan Islam itu sendiri adalah pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori-teori tentang pendidikan. Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori (Nur Uhbiyati, 1998).
Konsep belajar sepanjang hayat atau yang dikenal dengan Long Life education bisa dilakukan dimana saja, mulai dari lingkungan keluarga dimulai dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa, bahkan sampai dengan usia tua, belajar sepanjang hayat juga bisa dilakukan dalam pendidikam formal, dari mulai Taman kanak-kanak, Sekolah dasar, Sekolah menengah pertama, Sekolah menegah atas/kejuruan, perguruan tinggi. Lahirnya konsep belajar sepanjang hayat adalah bagian dari keprihatinan pada dunia pedidikan yang ada, karena masih banyak masyarakat yang tidak bisa menikmati pendidikan pada dunia formal. Oleh sebab itu belajar sepanjang hayat bisa dilakukan pada kegiatan non formal, misalnya kegiatan pelatihan, PLS, kelompok belajar dan lain sebagainya. Islam dengan sumber ajarannya al Qur’an dan al Hadist yang diperkaya oleh penafsiran para ulama ternyata telah menunjukkan dengan jelas dan tinggi terhadap berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan. Karenanya tidak heran ntuk kita katakan bahwa secara epistimologis Islam memilki konsep yang khas tentang pendidikan, yakni pendidikan sepanjang hayat. Sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan kesadaran dan ilmu pengetahuan, pendidikan telah ada seiring dengan lahirnya peradaban manusia itu sendiri. Dalam hal inilah, letak pendidikan dalam masyarakat sebenarnya mengikuti perkembangan corak sejarah manusia itu sendiri. Tak heran jika R.S. Peters dalam bukunya The Philosophy of Education menandaskan bahwa pada hakekatnya pendidikan tidak mengenal akhir, karena kualitas kehidupan manusia terus meningkat.
Pendidikan adalah proses yang mengandung spirit untuk membawa peserta didik menuju pada sebuah harapan. Hal ini bisa dipahami karena manusia memiliki keinginan-keinginan untuk menjadi baik dan maju dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga pada tataran praktis pendidikan betul-betul dibutuhkan dengan kenyataan bahwa pendidikan adalah proses yang paling efektif untuk terpenuhinya kebutuhan tersebut. John Dewey sebagai tokoh pendidikan dari Barat menawarkan konsep pendidikan yang tidak mengenal kata “terlambat”, “terlalu tua”, atau “terlalu dini” untuk memulainya. Menurutnya; “Educational process has no end beyond it self in its own and end”. Konsep serupa dikenal kemudian dengan istilah life long education atau pendidikan seumur hidup. Islam sebagai agama terakhir yang paling sempurna memiliki ajaran bahwa kehidupan manusia berlangsung pada dua dimensi, dimensi dunia dan dimensi akhirat. Dari pola hidup yang sedemikian luasnya, dengan pasti, Islam menawarkan pendidikan yang berlangsung tanpa batas. Tulisan ini secara rinci dan praktis akan menggali konsep tersebut.

B. PEMBAHASAN
Belajar sepanjang hayat adalah suatu konsep tentang belajar terus menerus dan berkesinambungan (continuing-learning) dari buaian sampai akhir hayat, sejalan dengan fase-fase perkembangan pada manusia. Oleh karena setiap fase perkembangan pada masing-masing individu harus dilalui dengan belajar agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembanganya, maka belajar itu dimulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa dan bahkan masa tua. Bertolak dari fase-fase perkembangan seperti dikemukakan Havinghurst, berimplikasi kepada keharusan untuk belajar secara terus menerus.
a. Belajar sepanjang hayat.
Belajar sepanjang hayat adalah suatu konsep, suatu idea, gagasan pokok dalam konsep ini ialah bahwa belajar itu tidak hanya berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan formal seseorang masih dapat memperoleh pengetahuan kalau ia mau, setelah ia selesai mengikuti pendidikan di suatu lembaga pendidikan formal. Ditekankan pula bahwa belajar dalam arti sebenarnya adalah sesuatu yang berlangsung sepanjang kehidupan seseorang. Bedasarkan idea tersebut konsep belajar sepanjang hayat sering pula dikatakan sebagai belajar berkesinambungan (continuing learning). Dengan terus menerus belajar, seseorang tidak akan ketinggalan zaman dan dapat memperbaharui pengetahuannya, terutama bagi mereka yang sudah berusia lanjut. Dengan pengetahuan yang selalu diperbaharui ini, mereka tidak akan terasing dan generasi muda, mereka tidak akan menjadi snile atau pikun secara dini, dan tetap dapat memberikan sumbangannya bagi kehidupan di lingkungannya.
b. Landasan Belajar sepanjang hayat
Belajar sepanjang hayat merupakan kewajiban setiap manusia tidak mengenal usia, status, ruang dan waktu serta yang lainnya. Konsep belajar sepanjang hayat sesungguhnya telah lama ada dalam ajaran Islam sesuai dengan hadis yang berbunyi: اُطْلُبُوُاالعِلْمَمِنَالمَهْدِاِلىَاللََّحْدِ
artinya :”Tuntutlah ilmu oleh kalian mulai sejak di buaian hingga liang lahat”. (Al-hadis). Dengan memperhatikan hadits tersebut, dapat dipahami bahwa aktivitas belajar sepanjang hayat memang telah menjadi bagian dan kehidupan kaum muslimin. Sedangkan secara umum, gerakan belajar sepanjang hayat itu baru dipublikasikan di sekitar tahun 1970, ketika UNESCO menyebutnya sebagai tahun Pendidikan Internasional (International Education Year). Karena pada tahun itu dilontarkan berbagai isu pembaharuan dalam falsafah dan konsep tentang pendidikan. Latar belakang munculnya gagasan ini ialah rasa kurang puas terhadap pelaksanaan belajar melalui sistem sekolah, yang dikatakan memperlebar jurang antara yang kaya dan yang miskin. Secara eksplisit gagasan ini dilontarkan oleh Paul Lengrand dalam bukunya yang beijudul An Introduction to life Long Education.
Dari landasan diatas maka sesungguhnya pembelajaran sepanjang hayat sangat dibutuhkan oleh setiap manusia yang menyadari akan pentingnya sebuah pengetahuan. Belajar sepanjang hayat bisa dalam pendidikan formal maupun non formal.
c. Belajar Sepanjang hayat dalam tiga aspek menurut penulis
Dalam makalah ini penulis akan mencoba menjelaskan tentap belajar sepanjang hayat yang dilakukan dari tiga aspek lingkungan belajar. Yaitu belajar sepanjang hayat dalam lingkungan keluarga, dalam pendidikan formal, dan dalam pendidikan non formal.
a). Belajar sepanjang hayat dalam lingkungan keluarga
Tempat belajar yang pertama bagi seorang manusia adalah lingkungan keluaraga, pada tapa inilah tahap yang paling menentukan seorang anak untuk memulai pembelajaran dalam keluarganya. Khususnya dalam ajaran Islam pembelajaran sudah dimulai ketika seorang bayi masih berada dalam rahimnya, dalam konsep ini jelas bahwa Islam memang sangat memperhatikan umatnya untuk senantiasa belajar. Kemudian dalam Islam dijelaskan berdasarkan hadis Rasulullah Saw “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya sebagai Yahudi Nasrani atau Majusi.” Dalam hadis ini jelas bahwa peran orang tua dalam keluarga sangatlah penting untuk mendidik putra-putrinya, orang tuanyalah yang akan membentuk pribadi anaknya dalam lingkungan keluarga. Belajar sepanjang hayat dalam lingkungan keluarga menurut penulis bisa dilakukan dalam beberapa tahap sebagai berikut :
1. Belajar pada masa balita
Dalam masa balita orang tua mulai bisa mengajarkan kepada anaknya, sesuai dengan kemampuan serta fase perkembanganya. Misalnya dengan mengajarkan atau melatih anak untuk bisa merangkak, kemudian berdiri, berjalan walaupun pembelajaran seperti ini bisa terjadi secara alami tapi tetap membutuhkan perhatian khusus dari orang tua. Selain itu pada masa balita bisa dilakukan pembelajaran seperti mengucapkan kalimat atau kata sederhana serta belajar bicara dan lain sebagainya.

2. Belajar pada masa kanak-kanak
Dalam fase ini orang tua mempunyai peranan penting untuk memberikan pembelajaran pada anak-anaknya, orang tua mulai memberikan pembelajaran misalnya bagaimana mereka menggunakan pakaian atau melepaskannya, mebiasakan anak untuk hidup disiplin dengan cara memberikan contoh misalnya dengan berangkat dan pulang sekolah tepat waktu, belajar dan bermain sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Pada masa ini pembelajaran mengenai hidup bersih juga bisa mulai diberikan misalnya dengan mandi, menggosok gigi, mencuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, dan lain sebagainya. Dalam fase ini orang tua bukan hanya memberikan pembelajaran tetapi harus bisa memberikan contoh karena cenderung seorang anak biasanya melakukan sesuatu dari apa yang dilihatnya. Pada masa ini pembentukan karakter juga bisa diberikan misalnya dengan mencium tangan orang tua ketika berangkat dan pulang sekolah disertai mengucapkan salam, menghormati yang lebih tua, membiasakan sholat lima waktu dan lain sebagainya.
3. Belajar pada masa remaja
Masa remaja merupakan masa yang paling rentang, pada fase ini seorang anak cenderung mempunyai sifat labil, oleh sebab itu peranan orang tua dalam memberikan pembelajaran dalam lingkungan keluarga sangatlah penting. Agar pada masa ini bisa berkembang dengan baik, tanpa terpengaruh oleh lingkungan luar, terpengaruh oleng teman-teman bergaulnya. Pada masa ini konsep pembelajaran sepanjang hayat mempunyai peranan penting karena dalam fase ini pula seorang anak akan mulai mencari jati dirinya, mulai mengenal dunia pergaulan, dan cenderung memiliki keinginan untuk punya kebebasan dalam melakukan sesuatu. Pembelajaran disiplin dan pengwasan serta perhatian dari orang tua sangatlah penting agar anak bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang positif serta berkembang secara normal.
4. Belajar pada masa dewasa
Konsep belajar sepanjang hayat pada masa dewasa merupakan masa yang penting dilakukan dalam lingkungan keluarga. Pada fase ini seorang anak remaja yang berkembang menjadi manusia dewasa mulai mengenal jati dirinya, bahkan memilki karakter tersendiri. Pada masa ini pula biasanya kecenderungan seseorang untuk menyudahi belajar sangat dominan khususnya perempuan. Diawali selesai masa kuliah, kemudian menikah, punya anak dan memilki keluaraga. Pada masa-masa ini seseorang cenderung lebih memetingkan keluarga, pekerjaan dibadingkan dengan belajarnya. Padahal pada masa ini pembelajaran masih tetap bisa dijalankan dalam lingkungan keluarga.
5. Belajar pada masa tua atau usia lanjut
Konsep pembelajaran dalam Islam bahwa belajar tidak mengenal usia, sesuai dengan hadis yang ada pada landasan diatas. Maka sesunggunya pada usia ini seseorang harus tetap belajar, yang tentunya dilakukan dalam keluarga. Pada masa ini orang tua bisa belajar pada anak-anaknya atau pada masa ini orang tua memberikan pembeljaran pada anak-anaknya. Karena sesunggunya belajar sepanjang hayat bukan hanya belajar tapi juga memberikan pembelajaran. Orang tua yang memilki banyak ilmu maka ia akan semakin bijak dalam mengambil keputusan dalam setiap masalah yang dihadapi dalam hidupnya.

b). Belajar sepanjang hayat dalam pendidikan Formal
Belajar sepanjang hayat sangatlah dibutuhkan setiap individu yang membutuhkan ilmu pengetahuan. Didalam ajaran Islam sesunggunya mencari ilmu pengetahuan adalah kewajiban. Sesuai dengan hadist Rasulullah Saw, “ Sesungguhnya menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki atau perempuan “ (HR. Ibnu Majah). Pembelajaran sepanjang hayat (Long Life education) dalam pendidikan formal, adalah pembelajaran yang sistematis dan terencana, memilki tujuan – tujuan khusus sesuai dengan bakat, kemampuan atau jurusan yang diminati oleh pembelajar. Yang termasuk dalam pendidikan formal adalah dari tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sekolah menengah kejuruan, perguruan tinggi, D1, D2, D3, S1,S2, dan S3. Pada pendidikan formal setelah seseorang meyelesaikan program sekolah menegah atas atau kejuruan, setiap orang diperbolehkan untuk mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi, tak mengenal usia, jenis kelamin, suku dan golongan. Oleh sebab itu hal ini berlaku sampai kapanpun selama sesorang masih memilki keinginan untuk belajar maka selama itu pula banyak kesempatan bagi setiap orang untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi.
C). Belajar sepanjang hayat dalam pendidikan Non Formal
Belajar tidak harus dibangku sekolah atau pendidikan formal serta berizazah, tetapi belajar bisa dimana saja, dari berbagai sumber yang berisi tentang pengetahuan. Banyak orang yang belajar ototidak (belajar sendiri) namun mereka lebih berhasil dari orang-orang yang berpendidikan formal, itu artinya belum tentu orang yang berpendidikan formal bisa lebih sukses daripada orang yang tidak berpendidikan formal. Dalam islam dikatakan Allah akan mengangkat orang – orang yang berilmu dan beriman beberapa derajat, itu artinya betapa Allah menghargai orang yang berilmu karena dengan ilmu pula orang akan lebih mampu mengenal Allah dan lebih banyak mendekatkan diri padanya dengan ritual-ritual ibadah.
Pendidikan sepanjang hayat merupakan asas pendidikan yang sangat sesuai diterapkan pada zaman globalisasi seperti sekarang ini, yang menuntut seseorang harus cepat beradaptasi dengan perubahan kehidupan yang sangat cepat dewasa ini. Pendidikan dalam Islam dapat megembangkan kemampuan dan tingkah laku manusia yang dapat menjawab tantangan internal maupun tantangan global menuju masyarakat yang demokratis, berkualitas, dan kritis. Pendidikan dikembangkan berdasarkan tuntutan acuan perubahan tersebut dan berdasarkan karakteristik masyarakat yang demokratis, berkualitas dan kritis. Untuk menghadapi kehidupan global, pendidikan Islam mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi, kemampuan kerja sama, mengembangkan sikap inovatif, serta meningkatkan kualitas. Apabila kita memperhatikan isi Al-Quran dan Al-Hadist, maka terdapatlah beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu, agar mereka tergolong menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan.
Islam menyerukan prinsip kemerdekaan berpikir. Islam sama sekali tidak melarang manusian menggunakan akal pikiran untuk meneliti dan menyelidiki soal-soal yang belum diketahui, dan tidak pula melarang pemeluknya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan serta mengatur kehidupan menurut ilmu dan akal. Pendidikan islam dapat menjadi suatu cara untuk pemecahan masalah dalam problematika umat. Selain dapat digunakan sebagai cara pandang dan dasar pemikiran, juga memberikan paradigma dalam melihat berbagai persoalan penting dan pokok.
Islam mewajibkan pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala permasalahan dan jalan kemanfaatan; menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dangan ‘aqaid dan ibadat, baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup. Seperti yang terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW berikut ini yang Artinya “Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan”. (HR. Ibn Abdulbari). Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat dan berguna untuk menuntut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap muslim jangan picik ; dan agar setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini dalam batas-batas yang diridhai Allah SWT. Demikian pula Islam mewajibkan kita menuntut ilmu akhirat yang menghasilkan natijah, yakni ilmu yang diamalkan sesuai dengan perintah-perintah syara’.
Pada hakekatnya pendidikan tidak mengenal akhir, karena kualitas kehidupan manusia terus meningkat. . Islam sebagai agama terakhir yang paling sempurna memiliki ajaran bahwa kehidupan manusia berlangsung pada dua dimensi: dimensi dunia dan dimensi akhirat. Dari pola hidup yang sedemikian luasnya, dengan pasti, Islam menawarkan pendidikan yang berlangsung tanpa batas.

C. PENUTUP
Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya. Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah.
Pendidikan adalah proses yang paling efektif untuk terpenuhinya kebutuhan manusia dan perkembangan zaman. pendidikan tidak mengenal kata “terlambat”, “terlalu tua”, atau “terlalu dini”, namun mengandung konsep ‘long life education’ atau pendidikan seumur huidp. Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran. Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life education ). dalam konsep Islam dikenal pendidikan sepanjang hayat. Artinya belajar tidak mengenal kata berhenti meski usia sudah lanjut dan manusia juga dituntut untuk menyesuaikan dirinya secara terus menerus dengan situasi baru.

DAFTAR PUSTAKA

Nata, H.Abuddin. 2001. Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Amin, ahmad. 1987. Islam Dari Masa ke Masa. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Harahap, Syahrin. 1997. Islam Dinamis. Yogyakarta: PT. Tiara wacana Yogya.
Hanafi, Ahmad. 1990. Pengantar Filsafat Islam Cet. IV. Jakarta :Bulan Bintang.
http://aanchoto.com/2010/07/ilmu-pendidikan-islam/ 16/12/2010
2010http://blog.re.or.id/pendidikan-islam-indonesia.htm