Archive for the ‘antropologi’ Category

multiple myeloma & malignant

Definisi

Multiple myeloma is a cancer in which antibodyproducing plasma cells grow in an uncontrolled and invasive (malignant) manner. Multiple myeloma adalah kanker di mana sel-sel plasma antibodyproducing bertumbuh dalam ganas) cara dan invasif (tidak terkontrol.

Deskripsi

Multiple myeloma, juga dikenal sebagai plasma sel myeloma , adalah yang paling umum kanker kedua darah.  Multiple myeloma menyumbang sekitar 1% dari semua kanker dan 2% dari semua kematian akibat kanker.  Multiple myeloma adalah penyakit di mana sel plasma ganas menyebar melalui sumsum tulang dan bagian luar yang keras tulang besar tubuh.Akhirnya, bekas lunak beberapa atau lubang, disebut lesi osteolitik, bentuk tulang.

Tulang dada, tulang belakang, tulang rusuk, tengkorak, tulang panggul, dan tulang panjang paha semua sangat kaya sumsum. Sumsum tulang adalah jaringan yang sangat aktif yang bertanggung jawab untuk memproduksi sel-sel yang beredar dalam darah.  Ini termasuk sel darah merah yang membawa oksigen, sel-sel darah putih yang berkembang menjadi sel-sel sistem kekebalan tubuh, dan trombosit, yang menyebabkan darah untuk membeku.

Plasma sel dan imunoglobulin

Plasma sel berkembang dari B-limfosit atau sel-B, sejenis sel darah putih. B-sel, seperti semua sel darah, terbentuk dari sel batang terspesialisasi dalam sumsum tulang.  Setiap sel-B membawa spesifik antibodi yang mengakui suatu zat asing tertentu disebut antigen .Antibodi yang besar protein disebut imunoglobulin (Igs), yang mengenali dan menghancurkan zat asing dan organisme seperti bakteri . pertemuan, ia mulai membelah dengan cepat untuk membentuk sel plasma matang. These plasma cells are all identical (monoclonal). Sel-sel plasma semua adalah identik (monoklonal).Mereka menghasilkan sejumlah besar identik-badan anti yang spesifik untuk antigen.

Malignant plasma cells (Plasma sel-sel ganas)

Multiple myeloma dimulai ketika bahan genetik (DNA) rusak selama pengembangan sel induk ke dalam sel-B dalam tulang sumsum.  Hal ini menyebabkan sel tersebut dapat berkembang menjadi plasmablast abnormal atau ganas, bentuk awal perkembangannya sel plasma. Plasmablasts menghasilkan molekul perekat yang memungkinkan mereka untuk obligasi untuk bagian dalam tulang sumsum.  Sebuah faktor pertumbuhan, yang disebut interleukin-6, mendorong pertumbuhan yang tidak terkendali dari sel-sel myeloma di sumsum tulang dan mencegah kematian alami mereka. Sedangkan sumsum tulang yang normal mengandung kurang dari 5 sel plasma%, sumsum tulang dari seorang individu dengan multiple myeloma berisi lebih dari sel plasma 10%.

Dalam kebanyakan kasus multiple myeloma, sel-sel plasma ganas semua membuat Ig identik. Igs terdiri dari empat rantai protein yang terikat bersama-sama. Dua dari rantai ringan dan dua yang berat. Ada lima kelas dari rantai berat, sesuai dengan lima jenis Igs dengan berbagai fungsi sistem kekebalan tubuh. The Igs dari sel-sel myeloma nonfunctional dan disebut paraproteins. Semua paraproteins dari setiap individu satu adalah monoklonal (identik) karena sel-sel myeloma adalah klon identik dari sel plasma tunggal.  Kerumunan M-protein keluar Igs fungsional dan komponen lain dari sistem kekebalan tubuh. TMereka juga menyebabkan antibodi fungsional, yang dihasilkan oleh sel plasma normal, untuk cepat rusak.  Jadi, multiple myeloma menekan sistem kekebalan tubuh.

Pada sekitar 75% kasus multiple myeloma, sel-sel plasma ganas juga memproduksi rantai cahaya monoklonal, atau Igs tidak lengkap.  Ini disebut Bence-Jones protein dan dikeluarkan dalam urin.  Sekitar 1% dari beberapa myelomas disebut nonsecretors karena mereka tidak menghasilkan apapun Ig abnormal.

sadness day T_T

hirooo……… hari ini aku kehilangan dia. tikus kesayanganku. kucing itu telah menggigit kepalanya hingga berdarah-darah, aku sempat menyelamatkannya namun takdir tetap berkata lain, hiro tidak bisa selamat.. T_T

hiro mati…. :'(

aku benar-benar kehilangan sosok pahlawan kecilku…

oh hiro….

akan ku bunuh dia yang telah membunuhmu sayang…. T_T

kan ku hancurkn kepalanya sepeti dia menggigit kepalamu.

kucing sialan!!!! aku pasti membunuhmu!!!!

teriakan histerisku atas kematian Hiroo akan kau bayar denagn kepalamu!

Hirooo… selamat jalan sayang, aku mencintaimu sungguh.

you are the most beautifull thing that ever happened in my live..

tetaplah tersenyum disana untukku hiroo pahlawan kecilku..

i love you so…

selamat jalan. HIROOO… T_T

hiduplah dengan mimpi

Kalau kamu ingin mencapai puncak puncak kehidupanmu.

Kamu harus menaiki tangga-tangga itu

Janganlah menuggu kapalmu datang

Ambil perahu dan dan dayunglah. Seperti perjalananmu menelusuri kehidupan

Mimpimu akan menjagamu

Kebulatan tekad akan membawamu kesana,

Dan cinta akan memberikan pemandangan terhebat dari semua itu

Macam/Jenis & Pengertian Penyimpangan Sosial, Individual dan Kolektif

A. Arti Definisi / Pengertian Penyimpangan Sosial (social deviation)

1. Menurut Robert M. Z. Lawang penyimpangan perilaku adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sitem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang.

2. Menurut James W. Van Der Zanden perilaku menyimpang yaitu perilaku yang bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tercela dan di luar batas toleransi.

Menurut Lemert penyimpangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penyimpangan primer dan penyimpangan sekunder. Penyimpangan primer adalah suatu bentuk perilaku menyimpang yang bersifat sementara dan tidak dilakukan terus-menerus sehingga masih dapat ditolerir masyarakat seperti melanggar rambu lalu lintas, buang sampah sembarangan, dll. Sedangkan penyimpangan sekunder yakni perilaku menyimpang yang tidak mendapat toleransi dari masyarakat dan umumnya dilakukan berulang kali seperti merampok, menjambret, memakai narkoba, menjadi pelacur, dan lain-lain.

B. Macam-Macam / Jenis-Jenis Penyimpangan Individual (individual deviation)

Penyimpangan individual atau personal adalah suatu perilaku pada seseorang dengan melakukan pelanggaran terhadap suatu norma pada kebudayaan yang telah mapan akibat sikap perilaku yang jahat atau terjadinya gangguan jiwa pada seseorang.

Tingkatan bentuk penyimpangan seseorang pada norma yang berlaku :
1. Bandel atau tidak patuh dan taat perkataan orang tua untuk perbaikan diri sendiri serta tetap melakukan perbuatan yang tidak disukai orangtua dan mungkin anggota keluarga lainnya.
2. Tidak mengindahkan perkataan orang-orang disekitarnya yang memiliki wewenang seperti guru, kepala sekolah, ketua rt rw, pemuka agama, pemuka adat, dan lain sebagainya.
3. Melakukan pelanggaran terhadap norma yang berlaku di lingkungannya.
4. Melakukan tindak kejahatan atau kerusuhan dengan tidak peduli terhadap peraturan atau norma yang berlaku secara umum dalam lingkungan bermasyarakat sehingga menimbulkan keresahan. ketidakamanan, ketidaknyamanan atau bahkan merugikan, menyakiti, dll.

Macam-macam bentuk penyimpangan indivisual :
1. Penyalahgunaan Narkoba.
2. Pelacuran.
3. Penyimpangan seksual (homo, lesbian, biseksual, pedofil, sodomi, zina, seks bebas, transeksual).
4. Tindak Kriminal / Kejahatan (perampokan, pencurian, pembunuhan, pengrusakan, pemerkosaan, dan lain sebagainya).
5. Gaya Hidup (wanita bepakaian minimalis di tempat umum, pria beranting, suka berbohong, dsb).

C. Macam-Macam / Jenis-Jenis Penyimpangan Bersama-Sama / Kolektif (group deviation)

Penyimpangan Kolektif adalah suatu perilaku yang menyimpang yang dilakukan oleh kelompok orang secara bersama-sama dengan melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sehingga menimbulkan keresahan, ketidakamanan, ketidaknyamanan serta tindak kriminalitas lainnya.

Bentuk penyimpangan sosial tersebut dapat dihasilkan dari adanya pergaulan atau pertemanan sekelompok orang yang menimbulkan solidaritas antar anggotanya sehingga mau tidak mau terkadang harus ikut dalam tindak kenakalan atau kejahatan kelompok.

Bentuk penyimpangan kolektip :
1. Tindak Kenakalan
Suatu kelompok yang didonimasi oleh orang-orang yang nakal umumnya suka melakukan sesuatu hal yang dianggap berani dan keren walaupun bagi masyarakat umum tindakan trsebut adalah bodoh, tidak berguna dan mengganggu. Contoh penyimpangan kenakalan bersama yaitu seperti aksi kebut-kebutan di jalan, mendirikan genk yang suka onar, mengoda dan mengganggu cewek yang melintas, corat-coret tembok orang dan lain sebagainya.
2. Tawuran / Perkelahian Antar Kelompok
Pertemuan antara dua atau lebih kelompok yang sama-sama nakal atau kurang berpendidikan mampu menimbulkan perkelahian di antara mereka di tempat umum sehingga orang lain yang tidak bersalah banyak menjadi korban. COntoh : tawuran anak sma 70 dengan anak sma 6, tawuran penduduk berlan dan matraman, dan sebagainya.
3. Tindak Kejahatan Berkelompok / Komplotan
Kelompok jenis ini suka melakukan tindak kejahatan baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terbuka. Jenis penyimpangan ini bisa bertindak sadis dalam melakukan tindak kejahatannya dengan tidak segan melukai hingga membunuh korbannya. Contoh : Perampok, perompak, bajing loncat, penjajah, grup koruptor, sindikat curanmor dan lain-lain.
4. Penyimpangan Budaya
Penyimpangan kebudayaan adalah suatu bentuk ketidakmampuan seseorang menyerap budaya yang berlaku sehingga bertentangan dengan budaya yang ada di masyarakat. Contoh : merayakan hari-hari besar negara lain di lingkungan tempat tinggal sekitar sendirian, syarat mas kawin yang tinggi, membuat batas atau hijab antara laki-laki dengan wanita pada acara resepsi pernikahan, dsb.

Masalah Penyimpangan Sosial

Dasar pengakategorian penyimpangan didasari oleh perbedaan perilaku, kondisi dan orang. Penyimpangan dapat didefinisikan secara statistik, absolut, reaktifis atau normatif. Perbedaan yang menonjol dari keempat sudut pandang pendefinisian itu adalah pendefinisian oleh para reaktifis atau normatif yang membedakannya dari kedua sudut pandang lainnya. Penyimpangan secara normatif didefinisikan sebagai penyimpangan terhadap norma, di mana penyimpangan itu adalah terlarang atau terlarang bila diketahui dan mendapat sanksi. Jumlah dan macam penyimpangan dalam masyarakat adalah relatif tergantung dari besarnya perbedaan sosial yang ada di masyarakat.

Masyarakat dan Penyimpangan
Penyimpangan adalah relatif terhadap norma suatu kelompok atau masyarakat. Karena norma berubah maka penyimpangan berubah. Adalah sulit untuk menentukan suatu penyimpangan karena tidak semua orang menganut norma yang sama sehingga ada perbedaan mengenai apa yang menyimpang dan tidak menyimpang. Orang yang dianggap menyimpang melakukan perilaku menyimpang. Tetapi perilaku menyimpang bukanlah kondisi yang perlu untuk menjadi seorang penyimpang. Penyimpang adalah orang-orang yang mengadopsi peran penyimpang, atau yang disebut penyimpangan sekunder. Para penyimpang mempelajari peran penyimpang dan pola-pola perilaku menyimpang sama halnya dengan orang normal yang mempelajari peran dan norma sosial yang normal. Untuk mendapatkan pemahaman penuh terhadap penyimpangan diperlukan pengetahuan tentang proses keterlibatan melakukan perilaku menyimpang dan peran serta tindakan korbannya.

Penyimpangan Sebagai Suatu Proses
Perilaku menyimpang adalah perilaku manusia dan dapat dimengerti hanya dengan kerangka kerja perilaku dan pikiran manusia lainnnya. Seseorang menjadi penyimpang sama halnya dengan seseorang menjadi apa saja, yaitu dengan proses belajar norma dan nilai suatu kelompok dan penampilan peran sosial. Ada nilai normal dan ada nilai menyimpang. Perbedaannya adalah isi nilai, norma dan peran. Melihat penyimpangan dalam konteks norma sosial membuat kita dapat melihat dan mengintepretasikan arti penyimpangan bagi penyimpang dan orang lain. Peran penyimpang adalah peran yang kuat karena cenderung menutupi peran lain yang dimainkan seseorang. Lebih jauh lagi, peran menyimpang menuruti harapan perilaku tertentu dalam situasi tertentu. Pecandu obat menuruti harapan peran pecandu obat seperti juga penjahat menuruti harapan peran penjahat.

Penyimpangan biasanya dilihat dari perspektif orang yang bukan penyimpang. Pengertian yang penuh terhadap penyimpangan membutuhkan pengertian tentang penyimpangan bagi penyimpang. Studi observasi dapat memberikan pengertian langsung yang tidak dapat diberikan metode lainnya. Untuk menghargai penyimpangan adalah dengan cara memahami, bukan menyetujui apa yang dipahami oleh penyimpang. Cara-cara para penyimpang menghadapi penolakan atau stigma dari orang non penyimpang disebut dengan teknik pengaturan. Tidak satu teknik pun yang menjamin bahwa penyimpang dapat hidup di dunia yang menolaknya, dan tidak semua teknik digunakan oleh setiap penyimpang. Teknik-teknik yang digunakan oleh penyimpang adalah kerahasiaan, manipulasi aspek lingkungan fisik, rasionalisasi, partisipasi dalam subkebudayaan menyimpang dan berubah menjadi tidak menyimpang.

Teori-Teori Individu tentang Penyimpangan
Pendekatan individu tentang penyimpangan mengkaitkan proses menjadi penyimpang dengan sesuatu yang ada dalam diri manusia, psikologi atau biologi. Teori individual sama dengan model pandangan medis yang mengkaitkan penyimpangan dengan kesakitan (illness), yang membutuhkan perawatan dan penyembuhan. Pandangan psikiatri dan psikoanalisis adalah sama dalam hal mencari akar penyimpangan pada pengalaman masa kecil, tetapi pandangan psikoanalisis lebih menekankan keterbelakangan dalam perkembangan kepribadian, konflik seksual dan alam pikiran bawah sadar. Tetapi tidak ada metode yang dapat membuktikan perbedaan yang konsisten antara penyimpang dan non penyimpang berdasarkan kepribadian bawaan.

Studi pelanggaran terhadap norma sosial, atau pelanggaran peraturan tidak hanya dipelajari oleh sub bidang sosiologi penyimpangan. Bidang analisis sosiologi lainnya yang juga mengkaji masalah tentang pelanggaran tersebut oleh para sosiolog disebut sebagai masalah sosial dan kriminologi. Perbedaan dalam hal analisisnya dengan studi penyimpangan sosial digambarkan dalam gambar berikut ini.

Kriminologi
Masalah sosial adalah daerah penelitian yang umum dan termasuk di dalamnya penyimpangan sosial dan kriminologi. Masalah sosial adalah isu-isu sosial yang oleh banyak orang diberikan penjelasan dan resolusi yang berbeda-beda atau dianggap masalah atau merugikan kesejahteraan masyarakat. Masalah sosial biasanya ditandai dengan klaim-klaim yang bertentangan dari banyak orang dan kelompok kepentingan terhadap isu-isu tertentu. Isu-isu tersebut termasuk pencemaran udara, kenakalan anak, aborsi, kejahatan, perkosaan, diskriminasi ras dan etnik, pengangguran dan korupsi.

Walaupun penyimpangan sosial didefinisikan sebagai masalah sosial, tetapi tidak semua masalah sosial adalah penyimpangan, di mana aturan-aturan sosial telah dilanggar. Pada penyimpangan sosial pelaku pelanggaran norma dapat ditemukan. Sementara dalam masalah sosial, pelakunya dapat dikategorikan sebagai individu, jaringan organisasi atau masyarakat itu sendiri.

Termasuk di dalam studi penyimpangan sosial adalah kriminologi. Penyimpangan sosial mempelajari perilaku dan mereka yang dianggap sebagai pelanggar aturan. Sedangkan kriminologi adalah studi tentang orang-orang yang melanggar aturan-aturan resmi yang disebut hukum. Kejahatan adalah suatu perilaku yang dianggap sebagai perilaku yang melanggar hukum. Ini adalah bentuk khusus perilaku menyimpang yang secara formal dan resmi ditetapkan oleh penguasa. Banyak jenis penyimpangan yang bukan kejahatan. Tetapi semua kejahatan adalah penyimpangan. Misalnya sakit jiwa bisa dianggap penyimpangan tetapi bukan kejahatan.

Sosiolog yang mempelajari penyimpangan sosial dan kriminologi mempunyai banyak kesamaan. Bahkan keduanya banyak meneliti bentuk-bentuk penyimpangan kriminal maupun penyimpangan non kriminal. Peneliti dari dua bidang ini memberikan perhatian pada sumber-sumber perilaku menyimpang, reaksi terhadap individu dan reaksi institusi terhadap perilaku menyimpang dan penyimpang, formasi kelompok penyimpang dan sub kebudayaan penyimpang, serta sosialisasi ke dalam peran-peran penyimpang. Walaupun dari sudut sejarah terdapat perbedaan mengenai teori dan pengertian tentang isu-isu yang perlu dipelajari antara penyimpangan sosial dan kriminologi, tetapi masih banyak sejumlah persamaan dari keduanya. Studi penyimpangan sosial seringkali menggunakan data-data kriminologi untuk mengilustrasikan secara teoritis keberadaan perilaku menyimpang secara umum.

Ada banyak persilangan pemikiran antara penyimpangan sosial dan kriminologi. Beberapa sosiolog menganggap penyimpangan sosial sebagai dasar penjelasan teoritik terhadap kriminologi dan studi masalah sosial. Sementara sosiolog lainnya lebih menitikberatkan pada perkembangan perspektif teoritis dan model konseptual yang lebih khusus terhadap fenomena yang berbeda yang dipelajari oleh masing-masing disiplin ilmu.

Seperti juga subbahasan sosiologi lainnya, studi penyimpangan sosial memberikan sumbangan terhadap pemahaman lebih mendasar akan ciri-ciri masyarakat dan perilaku manusia. Ia memberikan pemahaman terhadap variasi gambaran kehidupan normal sehari-hari. Modul Sosiologi Perilaku Menyimpang ini sebagian besar pembahasannya bersumber dari buku Sociology of Deviant Behaviour karya Marshal B. Clinard dan Robert F. Meier. Sistematika penulisannya juga mengikuti alur buku aslinya. Pembahasannya mencakup variasi dalam pola sosialisasi, permainan peran, afiliasi kelompok, kelompok organisasi, interaksi antara kelompok, gaya hidup, sikap, nilai, kehidupan keluarga, kontrol sosial dan perubahan sosial. Semua itu merupakan komponen masyarakat dan perilaku yang menjadi fokus perhatian para sosiolog.

Sumber buku Sosiologi Perilaku Menyimpang karya Jokie M.S. Siahaan

Kekosongan Eksistensi Manusia Modern

Staf pengajar Ganesha Operation (GO), alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Dosen Universitas Islam As-Syafi’iah (UIA) dan Universitas Indonusa Esa Unggul (UIEU) Jakarta

Derap langkah kemajuan teknologi sebagai perpanjangan potensi manusia, telah semakin menunjukkan taring keberhasilan. Produk potensi manusia itu telah pula, mau tidak mau, mempengaruhi perilaku keseharian kita sebagai makhluk sosio-kultural. Perubahan-perubahan terhadap dimensi sosio-kultural memungkinkan kita untuk segera mengambil sikap tertentu, baik preventif maupun partisipatif.

Sikap preventif yang diambil adalah tanggungjawab yang tidak ringan untuk dilakukan, sementara kita memposisikan diri dalam wilayah konsumen teknologi. Hal ini akan mengakibatkan pengurasan energi fisik maupun psikis yang tidak kecil.

Meski demikian, bila sikap partisipatif yang dipilih -atas dasar keterlibatan yang sukar terelakkan sebab kita berkecimpung secara total dalam pemanfaatan teknologi-, berarti kita siap menerima segala konsekuensi logis yang bakal menyerang kita dari arah yang tidak diduga-duga.

Katakanlah kita mengambil sikap partisipatif secara tidak acuh (without thinking twice), maka kita akan tergusur oleh kebengisan teknologi. Misalnya, semalam suntuk kita browsing internet untuk keperluan kerja atau sekadar iseng, esok hari kita bangun kesiangan, lantas lupa mendirikan shalat Subuh.

Contoh ini menunjukkan diri kita yang tengah mengalami pergeseran kehangatan komitmen beragama (religious commitment). Karena terus menerus berpacu dalam kancah kemajuan teknologi, atas dalih pemanfaatan yang terkesan “mumpung sempat” itulah ibadah ritual dan sosial kita secara gradual tersisihkan.

Betapa tidak, kita sibuk dengan setumpuk pekerjaan di kantor, shooping ke setiap supermarket, atau sibuk mencari uang tanpa berhati-hati dari mana dan akan ke mana uang tersebut dibelanjakan.

Ternyata, kita telah disibukkan oleh sosok makhluk baru, yaitu teknologi atas nama “pola hidup modern” (modern lifestyle). Tentu, kita tidak bisa menutup mata untuk mengungkapkan bahwa teknologi harus disyukuri sebagai buah dari ilmu pengetahuan (science), tapi kita tentu tak lantas pula melupakan kewajiban untuk beribadah kepada Allah SWT.

Saking sibuknya dengan segala pekerjaan, waktu yang tersisa untuk mendirikan shalat tinggal sedikit. Dari waktu yang hanya beberapa menit itu, kita terus didera rasa letih, sehingga shalat tidak kita laksanakan sekali. Bila kita terlalu sibuk mengejar dunia, menurut sementara psikolog, kita akan terjangkit gejala psikosomatis.

Di samping menderita gejala psikosomatis, tanpa filter dan sikap bijaksana dalam mengimbangi kemajuan teknologi yang demikian pesat, lambat laun kita akan menderita kekosongan eksistensial (existential vacuum).

Kekosongan eksistensial adalah gejala psikis orang modern yang mengalami keterasingan diri. Terasing kepada diri sendiri, lingkungan, bahkan Tuhan.

Keterasingan kepada Tuhan inilah yang paling berbahaya. Sebab, manusia modern cenderung akan berbuat bebas tanpa batas, yang justru akan membuat dirinya terpuruk ke dalam lembah kesesatan. Orang-orang “modern” tipe inilah yang lebih rendah daripada binatang ternak sekalipun. Allah berfirman, “Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).” (Qs. at-Tîn [95]: 5)

Tanggungjawab Moral

Kemajuan teknologi seharusnya terikat dengan tanggungjawab moral (moral responsibility), sehingga segala akibat yang terjadi tidak membabi-buta. Siapapun tidak akan menolak kemajuan teknologi, tapi bila ia justru membangun peradaban yang destruktif, sebagai muslim, kita harus berani mengatakan “tidak”.

Pertanyaannya, dari dan untuk siapakah tanggungjawab moral itu? Tentu dari dan untuk kita. Yang harus senantiasa kita ingat ialah bahwa setiap amal perbuatan, sekecil apapun, akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Di sana, kita tak dapat mengelak untuk berbohong di hadapan Allah.

Disebutkan dalam al-Qur`an, Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya.” (Qs. al-Zalzalah [99]: 7-8)

Kemajuan teknologi (fikr), akan bersifat fatalistik sebelum dipadukan dengan zikir (dzikr), kata Muhamad Iqbal, seorang penyair-filosof asal Pakistan. Bila kita hanya bergantung pada fikr, berarti kita telah memutuskan untuk menjadi orang “modern” yang menderita kekosongan eksistensial.

melihat panggung politik Indonesia

Seorang anak sekolah ngambek mengunci diri di kamarnya, karena sang ayah ingkar
janji. Dulu ada janji, kalau bisa naik kelas dengan ranking 3 besar di
kelasnya, dia akan dibelikan hand phone baru yang diimpikannya. Ternyata saat
hari H, si ayah sedang krisis moneter. Maka tertundalah janji itu. Tapi si anak
terlanjur ngambek dan menuduh ayahnya ingkar janji.
Itulah gambaran sederhana sudut pandang si anak dan si ayah yang agak berbeda,
sehingga berujung si anak demo ngambek di dalam kamar.

Seorang dara jelita demo melakukan tapa brata (mogok makan) plus tapa wicara
(diam seribu bahasa), karena pas hari H ultah atau hari jadian dengan si doi,
eh, malah si doi kagak ngasih kado. Jangankan kado, SMS aja kelupaan. Bagi si
dara jelita, betapa berharganya ucapan dan kado dari orang yang sangat dia
kasihi. Bagi si cowok, mengucapkan kan bisa telat 1-2 hari, lupa kan juga bisa
karena sibuk ini ini. Sibuk ?? wah si dara jelita bisa naik pitam karena
melalaikan ultah berarti tanda gak sayang plus cinta. Haduh, si cowok gak
pernah berpikir sejauh itu.
Itulah gambaran demo yang berbeda sudut pandang juga.....

Kemudian kita melihat banyak buruh pabrik melakukan demo dengan berbaris,
berpanas ria dan melakukan orasi untuk menuntut nasib bersama mereka, seperti
kenaikan gaji, menolak PHK, menuntut pesangon, dll.
Kita juga melihat sekelompok guru kontrak melakukan demo agar mereka segera
diangkat menjadi PNS.
Kita melihat sekelompok mahasiswa melakukan demo di kampus atas tuntutan
keringanan beaya kuliah, ketertiban administrasi, dll.

Itu sekelumit demo pribadi dan atas nama kelompok di suatu lingkungan tertentu.
Bagaimana dengan demo atas nama rakyat ?

Anehnya, banyak lembaga yang mengklaim diri sebagai organisasi rakyat atau
masyarakat atau komunitas tertentu. Partai adalah organisasi rakyat yang
berpaham politik tertentu. Ormas adalah organisasi yang bergerak dalam kegiatan
kemasyarakatan. Wakil Rakyat adalah sekumpulan orang yang secara politik
dianggap mewakili rakat per satuan jumlah tertentu (misalnya 1 orang wakil
rakyat mewakili 100.000 suara rakyat yang memilihnya). Organisasi Keagamaan
adalah organisasi dari masyarakat yang beragama tertentu. Organisasi Kepemudaan
adalah organisasi yang mengatasnamakan orang muda dengan kriteria tertentu.
Organisasi Kemahasiswaan adalah organisasi yang mengatasnamakan komunitas
mahasiswa dengan kriteria tertentu (jurusan/fakultas/universitas).

Saat kita melihat aksi demo di jalanan di masa kini, banyak aksi dengan
berbagai latar belakang mencoba mengatasnamakan rakyat. Yang sering jadi
pelopor demo malah organisasi mahasiswa, yang sebenarnya keberadaan mereka
sebagai wakil kalangan mahasiswa. Atau muncul mendadak nama-nama baru yang
mengatasnamakan kelompok tertentu dan tujuan tertentu pula.
Gerakan para pelopor ini bisa menjadi pemicu bangkitnya dukungan dari berbagai
kalangan, atau malah sebaliknya, hanya sekedar menjadi aksi mereka sendiri.
Agar jadi pemicu massal, biasanya topik yang diangkat terkait permasalahan umum
yang dirasakan sebagian besar rakyat. Namun kalo topiknya terlalu subyektif,
misalnya menyalahkan seseorang tapi orang itu oleh publik masih dianggap tidak
salah, ya jalan bisa jadi blunder.

Harusnya pendemo yang mengatas namakan rakyat adalah mereka-mereka di
organisasi yang memang berakar langsung ke masyarakat secara umum. Sebut saja
misalnya Partai, Ormas dan Organisasi Keagamaan; karena anggotanya lintas umur,
suku, dan batas geografi. Sehingga di lapangan akan muncul spanduk dan slogan
dari Partai A menyuarakan apa, Partai B apa, Ormas X ingin apa, dan seterusnya.
Memang bisa saja ditambah dengan organisasi lain yang mengatasnamakan komunitas
yang lebih kecil, tapi sifatnya sebagai komplementer (pelengkap).

Mungkin, karena wakil rakyat, organisasi masyarakat dan organisasi keagamaan
dianggap kurang gesip menangkap dan bersikap pada fenomena politik terkini,
maka organisasi mahasiswa mencoba menjadi pioner atau leader dari gerakan demo
atas nama rakyat. Mungkin juga didukung oleh semangat anak muda yang ingin
selalu membela kebenaran secara cepat dan lugas.

Apapun organisasi dan dalih serta tujuan demo, saat ini kita disuguhkan oleh
praktek demo yang makin marak. Tentu eksekutif akan semakin was-was karena
selalu diawasi, bahkan sering dinilai ini itu. Entah dengan cara yang
prosedural atau tidak.
Para tokoh negeri ini juga asyik bak pemain sinetron ketika membahas masalah
bangsa, termasuk aib juga, di depan media massa nasional tanpa tedeng
aling-aling (baca: hampir tanpa sensor).

Akibat dukungan media, semua bisa berkesan beda. Misalnya, walau yang demo
hanya 10 ribu orang, seakan sudah membuat Jakarta macet, padahal aslinya
Jakarta berisi puluhan juta orang. Sungguh bukan jumlah yang proporsional.
Namun jumlah 10 ribu cukup untuk memenuhi layar TV hehe...
Misalnya, saat anggota pansus sedang bersitegang. Padahal mereka hanya 20an
orang, sedang total wakil rakyat ada ratusan. Maka apapun yang dilakukan 20an
orang itu bisa membawa hitam-putihnya kinerja wakil rakyat.

Akhirnya,
Demo-demo itu untuk siapa? benarkah atas nama rakyat? ataukah sebuah manuver
politik dimana sang sutradara senyum manis di balik layar? yang tahu adalah
mereka yang tahu dan Yang Maha Tahu.

Masa Depan Perdamaian AS-Irak

Satu minggu sudah pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat bergerak membombardir Irak. Di sisi lain pasukan militer dan rakyat Irak berjuang mati-matian mempertahankan tiap jengkal tanah mereka. Tak ada tanda-tanda pertempuran akan berakhir, di sana sini demo anti perang terus berlangsung, akhir pekan bukan saat untuk liburan tapi saat berunjuk rasa. Banyak yang pesimis bahwa perang ini akan segera berakhir, para aktivis perdamaian dunia mensinyalir bahwa korban mayoritas dari perang teluk jilid II ini adalah masyarakat sipil yang sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan, meski angka resmi mengenai korban perang ini belum jelas terungkap, tapi paling tidak indikasi ke arah itu cukup besar. Dapat kita lihat dari siaran beberapa stasiun televisi baik internasional maupun nasional yang menunjukkan banyaknya korban sipil.

Biaya kemanusiaan yang lahir dari perang ini memang luar biasa, selain ancaman kematian, kelaparan, penyakit menular, ada satu bahaya besar yang kini mengancam dunia, tumbuhnya semangat untuk saling membenci. Pendapat yang dikemukakan Samuel Huntington dalam Class of Civilization seolah mendapat pembenaran dari perang yang berkecamuk ini. Dunia kembali akan berada dalam blok-blok seperti masa perang dingin, hanya saja blok-blok tersebut terbentuk bukan lagi karena faktor ideologis melainkan lebih pada faktor peradaban yang dianut. Barat di satu sisi dan Islam di sisi lain menurut Huntington akan menjadi dua poros kekuatan dunia nantinya. Biarlah thesis Huntington itu akan mengalami pembuktian melalui perjalanan sejarah, yang jauh lebih penting saat ini adalah membangun sebuah kondisi yang bisa mempercepat berakhirnya perang.

Tragedi kemanusiaan ini harus segera berakhir, jika tidak akan sangat fatal akibatnya bagi kemanusian, untuk melakukan analisa seperti apa mengakhiri perang ini, maka perlu dijelaskan terlebih dahulu beberapa realitas awalan. Realitas awalan ini nanti akan digunakan membangun asumsi prospek perdamaian.

Pertama, ada hal menarik yang disampaikan Bush ketika mengetahui prajurut AS yang ditawan tentara Irak disiarkan televisi Irak. Bush langsung menuding Irak melanggar Konvensi Jenewa tahun 1950 (Kompas, 25 Maret 2003), tetapi apakah Bush ingat bahwa iapun telah melanggar kesepakatn bersama dalam sidang PBB, yang menginginkan agar perang dihindarkan. Tetapi Bush memilih jalan unilaterar. Di lain sisi, Saddam Husein meneriakkan pada rakyat dan tentaranya bahwa mereka akan segera memenangkan perang (kompas, 25 Maret 2003). Tragedi kemanusiaan ini memberi sinyal pada dunia bahwa lembaga perdamaiaan internasional (PBB) kehilangan fungsi atau dengan kata lain PBB bukan lagi badan dunia yang sakral, PBB telah sekarat. Ini kondisi pertama.

Kedua, AS ternyata pihak yang tak bisa diajak kompromi dalam menyelesaikan pelucutan senjata berbahaya Irak, apa yang dilakukan PBB dengan inspeksi lapangan terhadap kemungkinan adanya senjata pemusnah massal di Irak ternyata diabaikan AS, terlepas dari apakah AS memiliki kepentingan khusus dalam misinya kali ini, kita bisa melihat AS tak mengindahkan seruan dunia melalui PBB, sampai sesaat sebelum perang dimulai AS secara penuh hanya didukung tiga negara, Spanyol, Australia dan Inggris. Tiga negara tersebut memang yang resmi, bila kita hitung kembali maka masih ada Israel, Kuwait, Turki, Jepang dan beberapa negara lain yang mendukung baik secara langsung maupun diam-diam. Namun disisi lain AS berseberangan dengan puluhan bahkan ratusan negara lain terutama negara-negara yang tergabung dalam liga arab dan gerakan non blok. Maka dapat kita katakan perasaan mentang-mentang (dumeh) AS begitu kuat, selama ini kementang-mentangannya tertutupi dengan predikat sebagai negara pengawal hak azasi manusia (HAM), tapi agresi mereka ke Irak tanpa sebab jelas menguatkan analisa bahwa AS memang negara yang sewenang-wenang. Ini adalah realitas awalan kedua.

Ketiga, ada usaha dari pihak-pihak tertentu baik dalam skala global maupun lokal (di tingkatan negara-negara) yang mengarahkan opini publik bahwa pertikaian ini merupakan pertikaian antar agama (peradaban), memang sebuah kebenaran bahwa Irak adalah negara bependuduk muslim dan secara kebetulan pula Irak dalam konstruksi sejarah Islam memiliki signifikasi yang kuat, hingga ketika Irak mendapat serangan tanpa sebab dari AS, secara psikologis umat muslim di dunia merasakan penderitaan. Ini terbukti dari banyaknya aksi solidaritas kelompok muslim di banyak negara. Tapi, tak ada alasan kuat untuk menyatakan perang Irak sebagai pertikaian antar agama (peradaban). Ini adalah realitas awalan ketiga.

Keempat, ada kondisi yang sebenarnya merupakan realitas tapi sering dianggap sekedar rumor, kondisi tersebut tak lain bahwa perang ini terjadi lebih disebabkan faktor ketidaksenangan George W. Bush terhadap Saddam Husein. Bila kita mau mencermati banyak indikator yang mengindikasikan hal ini, antara lain ultimatum Bush kepada Saddam untuk meninggalkan Irak bersama anaknya dan ultimatum ini dijawab tegas oleh Saddam bahwa ia tak akan meninggalkan Irak, yang pada akhirnya kondisi ini menjadi picu terakhir perang, kemudian adanya isu yang menyebutkan AS telah mempersiapkan peralihan kekuasaan dari tangan Saddam, dua hal tersebut sudah cukup mengindikasikan bahwa Bush dan AS umumnya tidak menyukai Saddam memimpin Irak. Ini realitas awalan yang keempat.

Hitung Mundur Menuju Damai

Dari tiga realitas awal tersebut kita bisa melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan dunia untuk mencegah perang, yang selanjutnya bisa dijadikan pijakan dalam menentukan strategi menuju perdamaian.

Refleksi pertama, beranjak dari realitas awalan pertama, dimana lembaga resmi dunia tidak lagi memiliki urgensi dalam mencegah konflik terbuka, hal ini bisa jadi disebabkan terlalu lunaknya PBB dalam mengontrol kondisi potensial konflik dengan aktor utama negara, kelunakan ini semakin terasa ketika PBB menghadapi aktor berupa negara-negara besar, terutama negara pemegang hak veto. Sebab kedua bisa jadi disebabkan terlalu besarnya ketergantungan PBB terhadap negara-negara besar dunia, terutama menyangkut finansial dan sebab ketiga sangat mungkin konsolidasi kekuatan pro-perdamaian di dalam PBB tidak berlangsung baik.

Dari kondisi kausalitas di atas, maka wajar saja bila PBB kehilangan urgensi fungsi dalam menjaga perdamaian dunia. Untuk itu dalam perspektif jangka pendek yang harus dilakukan PBB adalah memberikan sanksi  keras terhadap negara agresor, paling tidak sama kerasnya dengan sanksi yang pernah dikeluarkan PBB kepada Irak, ketika Irak menginfasi Kuwait. Pemberian sanksi ini dimaksudkan untuk mengangkat citra PBB di mata negara anggota yang terlanjur kecewa terhadap PBB. Selanjutnya, PBB harus berusaha mendorongkan proses penyelesaian masalah mengenai senjata pemusnah massal Irak kembali ke jalur semula dimana kordinasi penuh berada di tangan dewan keamanan PBB.

Kemudian dalam perspektif jangka panjang, dengan mempertimbangkan sejarah perjalanan PBB dan fungsi-fungsi DK PBB yang mengalami bias antara fungsi menjaga perdamaian dunia dan melindungi kepentingan negara besar, terutama AS dan Inggris. Maka, perlu dilakukan telaah ulang mengenai hak veto yang selama ini dimiliki lima negara (AS, China, Rusia, Inggris dan Perancis), dan menganalisa kemungkinan ditambahnya anggota tidak tetap DK PBB. Kedua usulan di atas terkait sepenuhnya dengan perasaan kesamaan (equality) dalam DK PBB.

Refleksi kedua, beranjak dari kondisi bahwa AS dan Irak sulit dikompromikan menyangkut kecurigaan dunia internasional mengenai adanya senjata pemusnah massal di Irak, maka ada dua benang merah yang bisa ditarik. Pertama, Irak harus dengan jujur dan penuh kesungguhan memberikan kesempatan pada dunia internasional untuk membuktikan bahwa tuduhan yang dituduhkan kepada mereka tidaklah benar, bila ternyata Irak tidak mengindahkan instruksi ini maka barulah Irak halal di serang, bila nantinya di Irak ditemukan senjata pemusnah massal, Irak harus rela memusnahkan senjata tersebut. Di sisi lain, sebagaimana kita ketahui Amerika Serikatlah yang memotori isu senjata pemusnah massal itu, maka ASpun harus ditekan untuk membiarkan proses inspeksi dilakukan secara sistematis dan objektif, jika hal ini tidak diindahkan PBB harus dengan tegas memberi sanksi pada AS.

Kemudian yang jadi masalah, hal-hal diatas baru bisa dilaksanakan bila PBB powerfull tidak powerless seperti saat ini, maka yang harus dilakukan adalah mengkonsolidasikan semua kekuatan pro-perdamaian di seluruh dunia, untuk mem back up usaha-usaha sistematis PBB. Sebuah keniscayaan, bahwa kolektivitas bangsa-bangsa di dunia akan menghasilkan sebuah hal yang berarti bagi perdamaian dunia.

Refleksi ketiga, beranjak dari kondisi bahwa ada pihak-pihak yang mengarahkan isu perang ini menjadi isu konfli antar agama (peradaban), maka harus dilakukan usaha sistematis oleh semua negara di dunia untuk menjelaskan kepada rakyat di negara masing-masing bahwa perang Irak bukanlah perang antar agama, langkah-langkah pelurusan opini publik menjadi sangat penting, guna menghalau kemungkinan meluasnya konflik.

Refleksi keempat, bila konlik Irak ini sebagian besar disebabkan oleh faktor individu (big-man theory) maka perlu dilakukan penyelesaian dengan pendekatan individual  pula. Bush dan Saddam sebagai aktor utama adalah subjek masalah, dunia internasional perlu dapat menggunakan mediator bagi Bush dan Saddam untuk saling merundingkan hal-hal yang menyebabkan Bush (AS umumnya) tidak menyukai Saddam. Memang tidak mudah, tapi sekali lagi usaha-usaha tersebut tetap berada dalam tekanan PBB melalui sanksi-sanksi yang tegas.

Masa depan perdamaiaan dari krisis Irak ini sangat ditentukan salah satunya oleh bagaimana DK PBB merevitalisasi fungsi dan peran, juga bagaimana konsolidasi kekuatan pro-perdamaian  di dunia memperkuat kolektivitas guna menekan pihak-pihak yang kini berkonflik.

Realita memang tak selalu sejalan dengan harapan, tapi tanpa harapan tentu tak ada perbaikan, karenanya di tengah kekalutan dunia yang luar biasa, energi harapan harus terus ditebar, krisis Irak adalah salah satu ujian atas komitmen bersama negara-negara dunia bagi kemanusiaan. Kini mari kita menghitung mundur menuju perdamaian.

FILM DAN FUNGSI SOSIAL


Sebagai seorang penikmat film nasional, rasanya bangga melihat perkembangan perfilman nasional belakangan. Kreasi sineas nasional tak hanya membanggakan di dalam negeri tetapi pengakuan juga diberikan dunia internasional melalui penghargaan yang diberikan bagi sineas nasional. Kondisi macam ini sangat jadi adalah indikasi kebangkitan perfilman nasional. Meski harus diakui apresiasi publik terhadap karya perfilman nasional belum cukup optimal untuk membangun sebuah iklim perfilman yang baik.

Dalam konsepsi umum film merupakan media hiburan bagi penikmatnya, tapi dalam kenyataannnya film juga memiliki fungsi sosial, seperti yang diungkapkan Karl Manheim bahwa siaran televisi, film, dan media lain yang melibatkan khalayak dapat menimbulkan apa yang dirumuskan Manhein sebagai publik abstrak, meski publik abstrak tidak terorganisir, tapi reaksi terhadap stimulus yang sama yang diberikan melalui media diatas, akan bersesuaian dengan konsep integrasi sosial (Soejono Soekanto : 1985). Dari sana ternyata kita bisa melihat film tidak sekedar sebagai sebuah karya seni yang lantas bersama-sama kita nikmati, lebih dari itu film juga dapat dilihat sebagai sebuah bangunan sosial dari masyarakat yang ada dimana film itu diciptakan. Maka, kita kemudian dapat menarik sebuah benang merah bahwa film juga memiliki fungsi sosial.

Berbicara mengenai fungsi sosial film, kita tentu tak dapat melepaskan diri dari realita sosio-kultural yang mengitari film tersebut. Dalam konteks Indonesia kekinian, sebuah masalah besar yang dihadapi bangsa  adalah, mulai hancurnya integrasi sosial, seperti diungkapkan Imam Prasodjo, bahwa kerekatan sosial (social bond) bangsa ini tengah berada pada titik terendah (2000).

Dari sketsa perfilman nasional dua-tiga tahun terakhir fungsi film sebagai media membangun integrasi sosial telah nampak, dapat kita lihat dalam film karya Garin Nugroho (Aku Ingin Menciummu Sekali Saja) atau film nasional terbaru (Biola dak berdawai). Dalam film-film tersebut nampak jelas bahwa film mencoba membangun kesadaran kolektif bangsa ini untuk mau dan sanggup mengakui pluralitas.

Maka, secara tidak langsung sudah tercapai kesepakatan bahwa film memang memiliki fungsi sosial yang cukup besar. Apalagi konon, film merupakan karya estetika yang memiliki bahasa universal, dimana audience tersebar melintasi lorong-lorong ideologis, agama, suku dan ras. Peluang film menjadi sarana membangun integrasi sosial menjadi sangat terbuka, apalagi ketika publik saat ini tengah meragukan institusi resmi bentukan negara.

Kemudian pertanyaan yang muncul apakah fungsi sosial film ini akan membebani para sineas Indonesia dalam melahirkan ide. Rasanya kebebasan ekspresi atau juga dimensi estetik dalam film tidak harus dipertentangkan dengan dimensi sosial film, karena keduanya merupakan hal yang inheren. Karena saya yakin, para pekerja film di negeri ini, apalagi para darah muda yang punya energi idealis memiliki sense of belonging terhadap bangsa ini, dan ketika bangsa membutuhkan sentuhan mereka guna membangun kembali integrasi sosial, tentu saja mereka akan menjadikan itu sebagai salah satu bagian penting dalam aktivitas mereka berkarya.

Selamat Tinggal Film Kacau

Selama rentang waktu dua dasawarsa tertidurnya perfilman nasional, film-film yang muncul film dengan kualitas yang rendah, tema yang diusung tak jauh dari ranjang dan setan. Bisa jadi publik menyambut film semacam itu dengan tangan terbuka, tapi saya melihat sambutan publik lebih disebabkan karena memang tidak ada pilihan tontonan, film yang muncul film seperti itu maka mau tak mau film itu yang dikonsumsi, kita mencatat ketika muncul Daun di Atas bantal publik menyambut dengan sangat antusias. Mengapa kami mengambil Daun di atas bantal, karena film inilah yang menjadi salah satu pendobrak lesunya perfilman nasional ketika itu.

Masa kejayaan film kacau sudah harus ditinggalkan, apalagi film-film tersebut ditinjau secara sosiologis hanya akan memberi stimulus negatif bagi publik. Lihat saja banyaknya kasus perkosaan yang ditimbulkan oleh film-film berbau ranjang tadi. Dengan munculnya film nasional dengan kualitas yang memadai secara berlahan akan menggeser paradigma penikmat film yang semula menjadikan  film sekedar memiliki fungsi rekreatif menjadi paradigma yang menjadikan film memiliki fungsi ganda, fungsi sosial dan fungsi rekreatif.

Ada juga sebuah fenomena menarik dalam perfilman nasional saat ini, masih hadirnya film nasional yang berbau setan seperti Jelangkung atau yang akan menyusul Tusuk Jelangkung, tapi yang kini hadir adalah usaha merasionalkan keyakinan tradisonal seputar dunia klenik tersebut. Aspek tonjolan dalam film-film berbau setan tersebut lebih pada usaha elaborasi spiritual yang rasional ketimbang sekedar penekanan pada aspek keseraman dan ketegangan film. Kondisi-kondisi di atas menguatkan keyakinan bahwa masa kejayaan film-film kacau akan segera berlalu.

Film-film nasional saat ini juga memperlihatkan ada usaha menjadikan publik penikmat sebagai subjek bukan sekedar objek film, dimana proses dialektis antara penikmat film dan pekerja film diusahakan untuk berlangsung. Baik pada saat film akan diproduksi maupun pasca produksi, proses macam ini harus terus dilakukan jangan sampai kesalahan yang menimpa Pearl Harlbour yang notabene adalah film sejarah malah mengesampingkan fakta sejarah juga terjadi pada film nasional.

Merumuskan Fungsi Sosial Film

Bila kita mau merujukkan dunia film nasional dengan kondisi sosio-kultural masyarakat kita, maka ada beberapa tawaran fungsi sosial yang bisa diperankan film sebagai media stimulus.

Pertama, film sebagai media pelurusan sejarah, seperti kita ketahui sejarah bangsa ini menjadi sangat tidak jelas akibat banyaknya sejarah yang diciptakan penguasa dan salah satu media pereduksian sejarah dilakukan melalui film, meskipun tugas meluruskan sejarah bukan menjadi tanggung jawab sineas saat ini, tapi paling tidak ada beban untuk mencoba melakukan eksplorasi historis bangsa ini, mengingat film adalah media yang cukup efektif untuk menyampaikan pesan.

Kedua, film harus ikut serta membangun integrasi sosial bangsa ini yang disebut-sebut tengah berada di tepi jurang, meski mungkin isu-isu seputar integrasi sosial isu yang tidak terlalu menarik untuk dijadikan bahan film, tapi tanggung jawab membangun kembali integritas sosial adalah tanggung jawab kita bersama, salah satunya adalah dunia perfilman nasional. Film harus mampu menjadi jembatan dalam dialog pluralitas di negeri ini, ada baiknya film mampu menjelaskan pluralitas di negeri ini dalam bahasa yang mudah dipahami hingga esensi integrasi sosial dapat terbangun melalui kesadaran yang dimediasikan oleh film.

Ketiga, film harus ikut dalam proses demokratisasi di negeri ini, peran sebagai campaign media untuk kelangsungan proses demokrasi dapat diperankan oleh dunia film nasional, film diharapkan mampu mentransformasikan nilai-nilai demokrasi ke audience.

Fungsi-fungsi tambahan bagi film nasional di atas tidak dimaksudkan untuk membatasi kreativitas para sineas dalam berkarya, fungsi-fungsi tersebut merupakan fungsi yang muncul secara natural, sebagai bentuk persinggungan antara dunia film nasional dengan realitas sosio-kultural-politik bangsa ini. Jadi, sangat tidak beralasan jika fungsi sosial film dianggap menjadi beban bagi pekerja film di Indonesia.

Akhirnya proses dialog antara film sebagai bangunan tersendiri dimana aspek estetik menjadi pusat dengan kondisi sosio-kultural-politik lingkungan yang mengitarinya, maka waktulah yang akan menjawab segala harapan-harapan pada perfilman nasional dalam memainkan fungsi-fungsi sosialnya.

Semoga perfilman nasional mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan bisa dibanggakan sebagai produk original anak negeri.

mengatur ukuran icon di windows 7

Icon-icon yang ada dalam desktop Windows 7, default-nya tampil dengan ukuran yang cukup besar. Apabila Anda hanya memiliki beberapa icon saja, mungkin hal ini tidak terlalu mengganggu desktop. Namun, bagaimana jika Anda memiliki banyak icon dari program-program yang ter-install?.

Image

Icon: Terlalu besar tentunya mengurangi kenyamanan menggunakan Windows 7

Tips: Tentu saja dengan banyaknya icon di desktop bisa membuat Anda tidak nyaman dalam menggunakan Windows 7. Desktop jadi tertutup oleh barisan icon yang berukuran besar. Bahkan, bila jumlahnya terlalu banyak, icon akan  terlihat bertumpuk-tumpuk. Bagi Anda yang merasa tidak nyaman dengan ukuran icon di desktop yang terlalu besar, Anda bisa mengikuti tips siangkat berikut ini untuk mengecilkan ukuran icon. Caranya mudah dan singkat.

Untuk mengecilkan ukuran icon, Anda cukup menggunakan kombinasi keyboard dan mouse. Saat Anda berada di dalam desktop, minimize-kan semua aplikasi yang sedang terbuka. Selanjutnya, klik desktop dan tekan tombol “[Ctrl]”. Sambil menekan tombol “[Ctrl]”, maju mundurkan tombol scroll di mouse Anda. Untuk mengecilkan icon, Anda mundurkan tombol scroll. Sebaliknya, untuk membesarkan icon Anda majukan tombol scroll mouse. Cari ukuran yang sesuai dengan keinginan Anda. Mudah bukan?.