Archive for September, 2011

The moment of Eid Al-Fitr is meant as a religious tradition or cultural traditions?

The moment of Eid Al-Fitr is meant as a religious tradition or cultural traditions?

Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah English for Social Science

Disusun Oleh :

Nama                   : A. Nimas Kesuma Negari

NIM            : D0310002

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2011

Idul fitri merupakan salah satu momentum besar bagi seluruh umat muslim di seluruh dunia. Umat Islam di Indonesia sendiri menjadikan idul fitri sebagai hari raya utama, momen untuk berkumpul kembali bersama keluarga. Hari raya idul fitri di Indonesia diperingati sebagai hari libur nasional, yang diperingati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang memang mayoritas muslim. Mulai dua minggu sebelum idul fitri, umat Islam di Indonesia mulai sibuk memikirkan perayaan hari raya ini. Yang paling utama adalah mudik atau pulang kampung. Selama perayaan berbagai hidangan disajikan, bagi anak-anak biasanya orang tua memberikan uang raya kepada mereka, dan selama perayaan biasanya masyarakat berkunjung ke rumah tetangga dan saudara-saudaranya untuk bersilaturahmi, yang dikenal dengan “halal-bihalal”, malam sebelum perayaan selalu dikumandangkan takbir di masjid-masjid yang mengungkapkan kemenangan dan biasanya disertai dengan menghidupkan obor dan kembang api oleh masyarakat di berbagai daerah. Banyak bank, perkantoran swasta ataupun pemerintahan yang tutup selama idul fitri hingga akhir minggu perayaan.

Begitu meriahnya persiapan dan tradisi umat muslim dalam menyambut hari raya idul fitri, tidak saja di Indonesia tetapi juga di berbagai belahan dunia seperti di Malaysia, Brunei, Singapura, Bangladesh, india, dan lain-lain. Semua memiliki sebuah tradisi tersendiri yang unik dalam menyambut perayaan idul fitri sesuai dengan adat dan tradisi daerahnya masing-masing. Dilihat dari berbagai tradisi yang sudah membudaya ini, momen idul fitri itu sendiri sebenarnya lebih dimaknai sebagai sebuah tradisi keagamaan ataukah tradisi kebudayaan?

Dalam sejarahnya ajaran agama dan tradisi lokal memang saling berbaur dan tidak bisa dipisahkan meskipun secara teoritis bisa dibedakan, pada kenyataannya agama besar selalu melahirkan tradisi besar , sementara tradisi budaya yang sudah mapan tidak mudah berubah dan digeser oleh agama. Maka agama dan budaya menyatu dan kemudian melahirkan tradisi yang merupakan campuran antara tradisi lokal dan agama. Agama dan budaya beda tapi saling melengkapi. Agama berkembang tentu bercampur dengan budaya setempat. Idul fitri tidak saja sekedar ibadah kepada Allah tetapi juga terkandung nilai tradisi budaya  dalam pelaksanaannya. Nilai budaya tersebut tercermin dalam beberapa hal antara  lain, mudik, menyajikan hidangan seperti ketupat, opor ayam, dan lain-lain, serta halal bihalal.

Sudah menjadi tradisi sejak masa lalu bahwa jika idul fitri menjelang maka siapapun orang akan bergegas untuk pulang ke kampung halaman. Budaya pulang kampung atau mudik ini sudah ada sejak jaman mataram Hindu dimana pada saat itu para penduduk  yang bekerja di pusat kota pada masa panen padi pulang kampung untuk bertemu dengan sanak saudara, tradisi itu kemudian dilanjutkan pada masa Islam.

Selain itu ada pula makanan yang paling populer disajikan pada saat perayaan idul fitri yaitu ketupat. Ketupat merupakan bentuk ciri utama masyarakat agraris penghasil padi. Ketupat sendiri memiliki makna simbolik, masyarakat jawa menyebutnya dengan kupat yang dapat diartikan sebagai rasa bersalah. Menghadirkan ketupat berarti bentuk rasa permohonan maaf  atas kesalahan yang terjadi di masa lalu.

Selanjutnya halal-bihalal. Halal bihalal sendiri merupakan tradisi masyarakat Indonesia yang mengandung makna saling menghalalkan atau membolehkan. Makna halal bihalal secara hukum juga sulit ditemukan karena ini lebih bernilai tradisi, kita saling berkunjung untuk saling memaafkan. Menariknya tradisi halal bihalal ini tidak hanya dilakukan oleh sesama muslim, tetapi juga pada tetangga ataupun kerabat yang beragama non muslim.

Dengan besarnya nilai budaya yang terkandung dalam perayaan idul fitri ini, maka hari raya idul fitri bukan hanya dimaknai sebatas ritual keagamaan atau tradisi agama saja tetapi juga mencerminkan adanya tradisi kebudayaan yang sangat kental didalam pelaksanaannya.

Idul Fitri is one of the great momentum for all Muslims around the world. Muslims in Indonesia making Eid al-Fitr as a major feast day, moment to regroup with their families. Idul Fitri in Indonesia commemorated as a national holiday, observed by most of Indonesian people who are majority Muslim. Starting two weeks before the Eid, Muslims in Indonesia began to busy thinking about the celebration of this holiday. The main thing is going home or returning home. During the celebration of the variety of dishes served, for children are usually the parents giving money to their feast, and during the celebration usually people visiting a neighbor’s house and his brothers to stay in touch, known as “halal-bihalal”, the night before the celebration has always echoed Takbir in the mosques that reveals the victory and is usually accompanied by turning on the torch and fireworks by the public in various areas. Many banks, private or government offices are closed during Eid celebrations until the weekend.
The great preparation and tradition of welcoming Muslim Eid, not only in Indonesia but also in various parts of the world such as in Malaysia, Brunei, Singapore, Bangladesh, India, and others. All have a tradition of welcoming its own unique celebration of Eid al-Fitr in accordance with the customs and traditions of their respective regions. Judging from the various traditions that have been entrenched, the moment of Eid it self is actually more meant as a religious tradition or cultural traditions?
In the history of religious teachings and local traditions are mingled with each other and can not be separated even though theoretically indistinguishable, in fact gave birth to the tradition of the great religions are always large, while the established cultural traditions are not easily changed and moved by religion. So religion and culture converge and then gave birth to the tradition which is a mixture of local tradition and religion. Religion and culture of different but complementary. Religion evolved naturally mix with the local culture. Idul Fitri is not simply the worship of God but also embodied the value of cultural traditions in its implementation. Cultural values ​​are reflected in several ways, among others, going home, serving dishes such as diamond, chicken opor, and others, as well as halal bihalal.
It was a tradition from the past that if the Eid al-Fitr before the people then everybody would rush to return home. Culture returning home or going home is already there since the days of Hindu Mataram at which time residents who work downtown during the rice harvest return home to meet with relatives, the tradition was later continued in the Islamic period.
There are also the most popular foods served during the celebration of Eid al-Fitr is the diamond. The main feature of diamond is a form of rice-producing agrarian society. Diamond itself has a symbolic meaning, the java call kupat which can be interpreted as guilt. Presenting the diamond means form a sense of apology for the mistakes that occurred in the past.
Further halal-bihalal. In Indonesia Halal bihalal itself is a community tradition that implies mutual justify or allow. Bihalal legally permissible meaning is also harder to find because it is more valuable tradition, we visited each other to forgive each other. Interestingly halal bihalal tradition is not only committed by fellow Muslims, but also to neighbors or relatives with non-Muslims.
With the amount of cultural values ​​embodied in the celebration of Eid al-Fitr, the feast of Eid al-Fitr is not only understood the extent of religious ritual or religious tradition but also reflect a very strong cultural tradition in its implementation.