Archive for May, 2011

tugas daslog 2 ; review buku sosiologi dan filsafat

Buku ini menyajikan beberapa teori Durkheim, serta pandangan dan pemikirannya yang  bukan hanya mengacu pada masalah sosiologi tertentu tetapi juga mengenai masalah-masalah umum yang dihadapi para filsuf. Tulisan-tulisan Durkheim ini menunjukkan dalam hal apa dan sampai sejauh mana sosiologi membutuhkan filsafat, karena Jarang dijumpai bahwa suatu ilmu pengetahuan dalam masa pertumbuhannya tidak merasa perlu dalam berfilsafat guna memperoleh suatu landasan.  Namun filsafat Durkheim berbeda dari filsafat materialis dan organisis sebagaimana selama ini dibutuhkan. Sehingga dengan pengertian ini sosiologisme Durkheim akan dilihat lebih jauh lagi dan merupakan suatu usaha untuk menemukan dan membenarkan, dengan cara baru, kecendrungan-kecendrungan spiritual. Karena menurut Durkheim sosiologi harus membuktikan hak hidupnya, tidak saja dengan riset positif, tetapi juga dengan pembahasan prinsip-prinsip, maka ia terbawa menangani masalah-masalah yang bersifat umum dan sering dijumpai, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengandaikan penerapan filsafat.

Durkheim mencoba untuk melepaskan sosiologi dari pengaruh filsafat dan psikologi, serta mendorongnya menjadi ilmu yang mandiri. Karena menurutnya sosiologi sudah tak bisa lagi dipahami dalam keadaan mental murni, seperti yang diperagakan oleh Comte dan Spencer yang menempatkan dunia ide sebagai pokok persoalan. Sebab itu, Durkheim kemudian membangun sebuah konsep dalam sosiologi yang disebutnya fakta sosial (social facts). Fakta sosial harus menjadi pokok persoalan bagi sosiologi, dia harus diteliti dengan riset empiris. Inilah yang kemudian membedakan sosiologi sebagai kegiatan empiris, yang berbeda dengan filsafat sebagai kegiatan mental. Durkheim juga memusatkan perhatian pada masalah-masalah moral, yaiktu keinginan menjelaskan esensi moralitas, peranan yang dimainkan moral dalam dalam masyarakat, dan bagaimana moral tumbuh dan berkembang dalam mewujudkan cita-cita masyarakat. studi tersebut berhubungan langsung dengan sosiologi moral. Studi-studi tersebut bukan hanya sekedar teoritis tapi lebih bagaimana agar dapat tiba pada kesimpulan praktis yang akan bermanfaat dalam tindakan sosial, dan untuk sampai pada titik ini tidak ada jalan lain selain melalui ilmu pengetahuan positif. Durkheim sangat berhati-hati sekali dalam menghindari mistisisme, dimana nalar manusia dapat gagal sama sekali dalam menolak berdasarkan hasil penelitiannya pandangan-oanangan orang yang mengatakan bahwa dalam masalah moralitas ilmu pengetahuan telah gagal, san menawarkan suatu fondasi bahwa kesadaran it sendiri dalam kenyataannya dibentuk oleh pengamatan positif. Dalm hal ini keinginan Durkheim adalah menyuarakan, bahkan dalam soal moralitas juga, bahasa tertentu dari seorang ilmuwan dan bukan seorang filsuf.

Durkheim sangat menekankan fakta bahwa masyarakat pada pokoknya adalah komposisi ide-ide. Sebagaimana ia katakan bahwa sosiologi harus mengarahkan perhatiannya bukan saja pada bentuk-bentuk materiil tetapi juga dalam keadaan mental. Karena sosiologi adalah studi tentang iklim moral. Melalui kasadaran moral manusia dipersatukan. Keyakinan-keyakinan kolektif adalah tombol vital seluruh masyarakat. tulisan paling awal yang diterbitkan disini adalah indibidual and collective representation, menunjukkan dengan jelas kecendrungan anti materialis. kesadaran kolektif adalah istilah yang diciptakan Durkheim untuk merujuk pada keyakinan bersama dan sikap moral yang beroperasi sebagai kekuatan pemersatu dalam masyarakat.

Durkheim juga membahas mengenai nilai, nilai terdiri dari pengaruh yang dihasilkan oleh sesuatu benda terhadap sensibilitas, padahal sensibilitas tiap-tiap orang sangat berbeda. Sementara orang gemar terhadap sesuatu sedang orang lain justru jijik. Kehidupan pun tak diinginkan semua orang, sebab ada orang yang membunuh—entah karena kewajiban atau kebencian. Bagaimanapun terdapat banyak ragam untuk menghayatinya. ada yang menyukai nilai  yang intens dan komplek, ada yang justru menyukai kesederhanaan.

Ada beberapa jenis nilai yang berbeda. Nilai ekonomi, moral, agama, estetika, dan nilai spekulatif, semuanya berbeda. Usaha mereduksi suatu nilai menjadi nilai lain, ide tentang kebaikan, kecantikan, kebenaran, dan kegunaan, semuanya telah terbukti gagal. Jika apa yang menentukan nilai hanyalah cara sesuatu benda memengaruhi bekerjanya kehidupan sosial, maka keragaman nilai menjadi sukar dijelaskan. Dan juga, jika nilai suatu benda ditentukan oleh tingkat kegunaan sosial atau kegunaan individualnya, maka sistem nilai manusia akan goncang dan berubah dari atas ke bawah.

Selanjutnya ditemukan bahwa semua orang sepakat mengandalkan bahwa nilai suatu benda adalah inheren di dalam, dan menunjukkan hakikat benada itu. Tetapi postulat ini bertentangan dengan kenyataan. Ada banyak keadaan di mana hubungan itu seperti tidak ada di antara ciri khas suatu obyek dengan nilai yang diatribusikan kepada obyek itu.

Benda dikatakan memunyai nilai bila benda tersebut menunjukkan suatu aspek ideal, sedang tinggi-rendah nilai tersebut bergantung pada ideal itu da paa tingkat mana ia mewujudkan ideal itu. Namun demikian, nilai yang diatribusikan kepada ideal itu, tidaklah menjelaskan dirinya sendiri. Ia dipostulasikan, tetapi tidak menjelaskan. Jika ideal itu bergantung pada realitas, maka mustahil untuk untuk menemukan dalam realitas kondisi dan penyebab  yang membuatnya dapat diterima dengan akal.

Singkatnya, jika nilai suatu benda tidak dapat dan tidak pernah ditaksir kecuali dalam hubungannya dengan konsepsi tertentu tentang ideal, maka yang terakhir ini perlu dijelaskan. Agar dapat mengerti bagaiman pertimbangan nilai bisa muncul, tidak cukup hanya dengan mempostulasikan bahwa ada sejumlah ideal tertentu. Asal-usulnya, bagaiman kaitannya satu sama lain, transendensinya, pengalamannya, dan sifat obyektivitasnya harus turut dipertimbangkan.

Cita-cita kolektif hanya dapat dimanifestasikan dan sadar akan dirinya sendiri jika dikonkretkan dalam obyek materiil yang dapat dilihat oleh setiap orang dan bisa ditunjukkan pada setiap pikiran. Dua benda pada adasarnya bisa saja berbeda berbeda atau dilihat dari sudut pandang tertentu tidak sama, tetapi jika mereka mewujudkan cita-cita yang sama maka mereka itu tampaknya sama. Dengan kata lain, masyarakat mensuvbtitusikan dunia yang ditampilkan oleh indra dengan dunia yang berbeda yang merupakan proyeksi cita-cita yang diciptakan oleh masyarakat itu sendiri.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan hakikat. Pertimbangan nilai menunjukkan hubungan sesuatu dengan suatu cita-cita. Cita-cita—seperti halnya benda—adalah suatu realitas yang mempunyai eksistensi tersendiri, walaupun dalam tatanan yang berbeda. Hubungan yang ditunjukkan ini menyatukan dua persyaratan seperti yang berlaku dalam pertimbangan realitas. Jadi, unsur-unsur pertimbangan sama pada keduanya. Namun tidak berarti bahwa keduanya dapat direduksi satu sama lain; mereka serupa karena keduanya adalah produk dari kemampuan yang sama.

Sosiologi positif dituduh hanya memuja fakta dan secara sistematismengabaikan cita-cita. Dan tuduhan ini tidak benar. Fenomena sosial utama, agama, moralitas, hukum, ekonomi, dan estetika, semua itu tidak lebih dari sistem nilai dan karenanya sistem cita-cita. Sejak semula sosiologi bergerak dilapangan cita-cita. Sosiologi tidak menghimpun fakta untuk membangun cita-cita, tetapi sebaliknya, menerima mereka sebagai fakta yang ada, sebagai obyek studi, dan mencoba menganalisis dan menjelaskan. Maka tujuan sosiologi adalah membawa cita-cita, dalam berbagai bentuknya, ke lingkungan alam tanpa memasukkan atribut-atributnya yang khas. Masyarakat memang merupakan bagian dari alam dan ia kini mendominasi alam. Semua kekuatan semesta tidak hanya berkumpul dalam masyarakat, tetapi mereka juga membentuk sintesis baru yang jauh lebih kaya, lebih kompleks, dan lebih kuat daripada masing-masing keuatan tersebut. Singkatnya, masyarakat adalah alam yang mencapai titik lebih tinggi dalam perkembangannya, dan memusatkan segala enerjinya untuk melampaui dirinya sendiri.