korelari, regresi, dan path analysis

UJI KOMPETENSI DASAR 3 korelasi, regresi, dan path analysis

Deskriptif Kualitatif

Metode Deskripsi

Metode deskriptif/ deskripsi merupakan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Metode deskriptif tidak lebih daripada penelitian yang bersifat penemuan fakta-fakta seadanya (fact finding). Penemuan gejala-gejala berarti juga tidak sekedar menunjukkan distribusinya, akan termasuk usaha mengemukakan hubungan satu dengan yang lain didalam aspek-aspek yang diselidiki itu.

Metode ini tidak terbatas sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi juga analisa dan interpretasi tentang data itu. Secara singkat dapat dikatakan bahwa metode deskriptif merupakan langkah-langkah melakukan representasi obyektif tentang gejala-gejala yang terdapat didalam masalah yang diselidiki. Ciri-ciri pokok metode deskriptif:

  1. Memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang ada pada saat penelitian dilakukan (saat sekarang) atau masalah-masalah yang bersifat aktual.
  2. Menggambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselidiki sebagaimana adanya, diiringi dengan interpretasi rasional yang adequat.

Bentuk-bentuk pokok dari metode ini digolongkan menjadi tiga bentuk, yaitu:

  1. Survei (survey studies)

Survei pada dasarnya tidak berbeda dengan penelitian (research). Reseach memusatkan diri pada salah satu atau beberapa aspek dari obyeknya. Sedangkan suvei bersifat menyeluruh yang kemudian akan dilanjutkan secara mengkhusu pada aspek tertentu bilaman diperlukan studi yang lebih mendalam. Melalui survei, suatu objek diungkapkan secara menyeluruh.

Survei umumnya dilakukan pada sejumlah besar obyek, walaupun tidak berarti semua bentuk survei obyeknya seperti itu. Obyeknya dapat terdiri dari lingkungan suatu bangsa/negara, daerah, sebuah kota, sebuah desa, suatu sistem dan lain-lain.

Bentuk-bentuk survei sebagia bagian dari metode deskriptif antara lain:

  1. Survei Kelembagaan
  2. Analisis Jabatan/ Pekerjaan
  3. Analisis dokumenter
  4. Analisis Isi
  5. Suvei Pendapat Umum
  6. Survei Kemasyarakatan

  1. Studi Hubungan ( Interrelationship Studies)

Beberapa penelitian di bidang ilmu sosial seringkali tidak cukup mendalam jika hanya dilakukan untuk mengumpulkan fakta-fakta sebagaimana adanya. Agar suatu kondisi atau peristiwa dapat dipahami secar baik maka perlu menghubungkan fakta-fakta tersebut secra obyektif. Untuk itu dalam metode deskriptif terdapat beberapa cara penelitian sebagai berikut:

  1. Studi Kasus

Penelitian ini memusatkan diri secara intensif terhadap satu objek tertentu, dengan mempelajari sebagai suatu kasus. Seorang peneliti harus mengumpulkan data setepat-tepatnya dan selengkap-lengkapnya dari kasus tersebut untuk mengetahui sebab-sebab yang sesungguhnya. Data yang terkumpul disusun dan dipelajari menurut urutannya dan dihubungkan satu dengan yang lain secara menyeluruh dan integral agar menghasilkan gambaran umum dari kasus yang diselidiki.

  1. Studi Sebab Akibat dan Perbandingan

Dalam studi ini dilakukan usaha untuk memahami mengapa suatu gejala terjadi atau apa sebabnya suatu peristiwa, keadaan atau situasi berlangsung. Studi ini pada dasarnya bermaksud menemukan hubungan sebab akibat di dalam suatu peristiwa atau keadaan yang sedang atau sudah berlangsung.

  1. Studi Korelasi

Penelitian dengan cara ini bermaksud mengungkapkan bentuk hubunganimbal balik antar variabel yang diselidiki. Intensitas hubungan itu diukur dengan mempergunakan prosedur mathematis dengan menyatakan koefisien korelasi yang bergerak dari -1,00 samapi +1,00. Hubungan korelasi ini dinyatakan dalam tiga bentuk: korelasi positif, korelasi negatif, dan korelasi nihil atau rendah.

  1. Studi Perkembangan (Developmental Studies)

Studi perkembangan tidak sekedar mengenai fakta-fakta pada masa sekarang. Pengelompokannya sebagai bagian dari metode deskriptif karena studi ini bermaksud melukiskan hubungan antara gejala-gejala sebagaimana adanya sekarang dengan fakta-fakta  lain berdasarkan fungsi waktu yang bersifat kontinyu. Untuk itu dapat digunakan dua cara penelitian sebagai berikut:

  1. Studi Pertumbuhan

Studi ini bermaksud menggambarkan pertumbuhan atau perkembangan yang dialami objeknya, baik secara keseluruhan maupun mengenai aspek-aspek tertentu dalam batas waktu yang tertentu pula. Studi ini dapat dilakukan dengan dua cara:

  1. Teknik Longitudinal
  2. Teknik Memotong.
    1. Studi Kecendrungan

Studi ini bermaksud memperkirakan keadaan suatu lembaga atau kemungkinan yang akan terjadi atau situasi yang akan dihadapi di masa mendatang. Penelitian seperti ini termasuk deskriptif kualitatif karena pada tahap permulaan bermaksud menggambarkan fakta-fakta di masa sekarang sebagaimana adanya, yang kemudian dihubungkan dengan perkembangannya di masa lalu untuk mengetahui pola perkembangannya itu sehingga seperti adanya sekarang dilakukan perkiraan tentang kecendrungan keadaan variabel yang diselidiki itu di masa yang akan datang.

Daftar Pustaka

Prof.Dr. Hadari Nawawi. 1995. Metode Penelitian Bidang Sosial. Pontianak: Gadjah Mada University Press.

Slamet, Yulius. 2006. Metode Penelitian Sosial. Surakarta: LPP UNS dan UNS press.

Regresi Linier dan Regresi Ganda

Analisis regresi adalah suatu proses memperkirakan secara sistematis tentang apa yang paling mungkin terjadi dimasa yang akan datang berdasarkan informasi yang sekarang dimiliki agar memperkecil kesalahan. Regresi merupakan suatu alat ukur yang juga dapat digunakan untuk mengukur ada atau tidaknya korelasi antarvariabel. Jika kita memiliki dua buah variabel atau lebih maka sudah selayaknya apabila kita ingin mempelajari bagaimana variabel-variabel itu berhubungan atau dapat diramalkan. Analisis regresi dapat juga diartikan sebagai usaha memprediksi perubahan. Perubahan nilai suatu variabel dapat disebabkan karena adanya perubahan pada variabel-variabel lain yang mempengaruhinya. Misalnya, volume pupuk terhadap hasil panen padi, karena adanya perubahan volume pupuk maka produksi padi dengan sendirinya akan berubah. Dalam fenomena alam banyak sekali kejadian yang saling berkaitan sehingga perubahan pada variabel lain berakibat pada perubahan variabel lainnya. Teknik yang digunakan untuk menganalisis ini adalah analisis regresi.

Analisis regresi (regression analysis) merupakan suatu teknik untuk membangun persamaan dan menggunakan persamaan tersebut untuk membuat perkiraan (prediction). Dengan demikian, analisis regresi sering disebut sebagai analisis prediksi. Karena merupakan prediksi, maka nilai prediksi tidak selalu tetap dengan nilai riilnya, semakin kecil tingkat penyimpangan antara nilai prediksi dengan nilai riilnya, maka semakin tepat persamaan regresinya. Analisis regresi mempelajari hubungan yang diperoleh dinyatakan dalam persamaan matematika yang menyatakan hubungan fungsional antara variabel-variabel. Hubungan fungsional antara satu variabel prediktor dengan satu variabel kriterium disebut analisis regresi sederhana (tunggal), sedangkan hubungan fungsional yang lebih dari satu variabel disebut analisis regresi ganda. Sehingga dapat didefinisikan bahwa: Analisis regresi adalah metode statistik yang digunakan untuk menentukan kemungkinan hubungan antara variabel-variabel.

Regresi Linear

Regresi linear adalah alat statistik yang dipergunakan untuk mengetahui pengaruh antara satu atau beberapa variabel terhadap satu buah variabel. Variabel yang mempengaruhi sering disebut variabel bebas, variabel independen atau variabel penjelas. Variabel yang dipengaruhi sering disebut dengan variabel terikat atau variabel dependen. Regresi linear hanya dapat digunakan pada skala interval dan ratio. Secara umum regresi linear terdiri dari dua, yaitu regresi linear sederhana yaitu dengan satu buah variabel bebas dan satu buah variabel terikat; dan regresi linear berganda (regresi ganda) dengan beberapa variabel bebas dan satu buah variabel terikat. Analisis regresi linear merupakan metode statistik yang paling jamak dipergunakan dalam penelitian-penelitian sosial, terutama penelitian ekonomi. Program komputer yang paling banyak digunakan adalah SPSS (Statistical Package For Service Solutions).

Regresi Linear Sederhana

Analisis regresi linear sederhana dipergunakan untuk mengetahui pengaruh antara satu buah variabel bebas terhadap satu buah variabel terikat. Persamaan umumnya adalah:

Y = a + b X.

Dengan Y adalah variabel terikat dan X adalah variabel bebas. Koefisien a adalah konstanta (intercept) yang merupakan titik potong antara garis regresi dengan sumbu Y pada koordinat kartesius.

Interpretasi Output

  1. Koefisien determinasi

Koefisien determinasi mencerminkan seberapa besar kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan varians variabel terikatnya. Mempunyai nilai antara 0 – 1 di mana nilai yang mendekati 1 berarti semakin tinggi kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan varians variabel terikatnya.

  1. Nilai t hitung dan signifikansi

Nilai t hitung > t tabel berarti ada pengaruh yang signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat, atau bisa juga dengan signifikansi di bawah 0,05 untuk penelitian sosial, dan untuk penelitian bursa kadang-kadang digunakan toleransi sampai dengan 0,10.

  1. Persamaan regresi

Sebagai ilustrasi variabel bebas: Biaya promosi dan variabel terikat: Profitabilitas (dalam juta rupiah) dan hasil analisisnya Y = 1,2 + 0,55 X. Berarti interpretasinya:

  1. Jika besarnya biaya promosi meningkat sebesar 1 juta rupiah, maka profitabilitas meningkat sebesar 0,55 juta rupiah.
  2. Jika biaya promosi bernilai nol, maka profitabilitas akan bernilai 1,2 juta rupiah.

Interpretasi terhadap nilai intercept (dalam contoh ini 1,2 juta) harus hati-hati dan sesuai dengan rancangan penelitian. Jika penelitian menggunakan angket dengan skala likert antara 1 sampai 5, maka interpretasi di atas tidak boleh dilakukan karena variabel X tidak mungkin bernilai nol. Interpretasi dengan skala likert tersebut sebaiknya menggunakan nilai standardized coefficient sehingga tidak ada konstanta karena nilainya telah distandarkan.

Contoh: Pengaruh antara kepuasan (X) terhadap kinerja (Y) dengan skala likert antara 1 sampai dengan 5. Hasil output yang digunakan adalah standardized coefficients sehingga Y = 0,21 X dan diinterpretasikan bahwa peningkatan kepuasan kerja akan diikuti dengan peningkatan kinerja atau penurunan kepuasan kerja juga akan diikuti dengan penurunan kinerja. Peningkatan kepuasan kerja dalam satu satuan unit akan diikuti dengan peningkatan kinerja sebesar 0,21 (21%).

Regresi Linear Berganda

Analisis regresi linear berganda sebenarnya sama dengan analisis regresi linear sederhana, hanya variabel bebasnya lebih dari satu buah. Persamaan umumnya adalah:

Y = a + b1 X1 + b2 X2 + …. + bn Xn.

Dengan Y adalah variabel bebas, dan X adalah variabel-variabel bebas, a adalah konstanta (intersept) dan b adalah koefisien regresi pada masing-masing variabel bebas.

Interpretasi terhadap persamaan juga relatif sama, sebagai ilustrasi, pengaruh antara motivasi (X1), kompensasi (X2) dan kepemimpinan (X3) terhadap kepuasan kerja (Y) menghasilkan persamaan sebagai berikut:

Y = 0,235 + 0,21 X1 + 0,32 X2 + 0,12 X3

  1. Jika variabel motivasi meningkat dengan asumsi variabel kompensasi dan kepemimpinan tetap, maka kepuasan kerja juga akan meningkat
  2. Jika variabel kompensasi meningkat, dengan asumsi variabel motivasi dan kepemimpinan tetap, maka kepuasan kerja juga akan meningkat.
  3. Jika variabel kepemimpinan meningkat, dengan asumsi variabel motivasi dan kompensasi tetap, maka kepuasan kerja juga akan meningkat.

Interpretasi terhadap konstanta (0,235) juga harus dilakukan secara hati-hati. Jika pengukuran variabel dengan menggunakan skala Likert antara 1 sampai dengan 5 maka tidak boleh diinterpretasikan bahwa jika variabel motivasi, kompensasi dan kepemimpinan bernilai nol, sebagai ketiga variabel tersebut tidak mungkin bernilai nol karena Skala Likert terendah yang digunakan adalah 1.

Kegunaan Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis Regresi Linear Berganda digunakan untuk mengukur pengaruh antara lebih dari satu variabel prediktor (variabel bebas) terhadap variabel terikat.

Contoh: Seorang Manajer Pemasaran deterjen merek “BOOM” ingin mengetahui apakah Promosi dan Harga berpengaruh terhadap keputusan konsumen membeli produk tersebut?

Hipotesis:

Ho : b1 = b2 = 0, Promosi dan Harga tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen membeli deterjen merek “BOOM”.

Ha : b1 ¹ b2 ¹ 0, Promosi dan Harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen membeli deterjen merek “BOOM”.

Data Kasus

No.

Responden

Promosi

(X1)

Harga

(X2)

Keputusan Konsumen

(Y)

1 10 7 23
2 2 3 7
3 4 2 15
4 6 4 17
5 8 6 23
6 7 5 22
7 4 3 10
8 6 3 14
9 7 4 20
10 6 3 19
jumlah 60 40 170

Tabel Pembantu

No. Resp. X1 X2 Y X1Y X2Y X1X2 X12 X22
1 10 7 23 230 161 70 100 49
2 2 3 7 14 21 6 4 9
3 4 2 15 60 30 8 16 4
4 6 4 17 102 68 24 36 16
5 8 6 23 184 138 48 64 36
6 7 5 22 154 110 35 35 25
7 4 3 10 40 30 12 16 9
8 6 3 14 84 42 18 36 9
9 7 4 20 140 80 28 49 16
10 6 3 19 114 57 18 36 9
jumlah 60 40 170 1122 737 267 406 182

åY = an+b1+ å X1+b2 + å X2

å X1Y= a å X1+b1+ å X12+b2 å X1 X 2

åX2Y = a å X2+b1 å X1 X 2 + b2 å X22

170 = 10 a + 60 b1 + 40 b2……………………. (1)

1122 = 60 a + 406 b1 + 267 b2………………….. (2)

737 = 40 a +267 b1 + 182 b2………………….. (3)

Persamaan (1) dikalikan 6, persamaan (2) dikalikan 1:

1020 = 60 a + 360 b1 + 240 b2

35163 = 60 a + 406 b1 + 267 b2

-102 = 0 a + -46 b1+ -27 b2

-102 = -46 b1-27 b2……………………………………. (4)

Persamaan (1) dikalikan 4, persamaan (3) dikalikan 1:

680 = 40 a + 240 b1 + 160 b2

737 = 40 a + 267 b1 + 182 b2 _

-57 = 0 a + -27 b1 + -22 b2

-57 = -27 b1 – 22 b2………………………………….. (5)

Persamaan (4) dikalikan 27, persamaan (5) dikalikan 46:

-2754 = -1242 b1 – 729 b2

-2622 = -1242 b1 – 1012 b2 _

-132 = 0 b1 + 283 b2

b2 = -132:283 = -0,466

Harga b2 dimasukkan ke dalam salah satu persamaan (4) atau (5):

-102 = -46 b1- 27 (-0,466)

-102 = -46 b1+ 12,582

46 b1 = 114,582

b1 = 2,4909

Harga b1 dan b2 dimasukkan ke dalam persamaan 1:

170 = 10 a + 60 (2,4909) + 40 (-0,466)

170 = 10 a + 149,454 – 18,640

10 a = 170 – 149,454 + 18,640

a = 39,186 : 10 = 3,9186

Jadi:

a = 3,9186

b1 = 2,4909

b2 = -0,466

Keterangan:

a = konstanta

b1 = koefisien regresi X1

b2 = koefisien regresi X2

Persamaan regresi:

Y = 3,9186 + 2,4909 X1 – 0,466 X2

F Tabel

Dk Pembilang = k= 2

Dk Penyebut = n-k-1= 10-2-1= 7

F tabel = 4,74

Hipotesis

Ho : b1 = b2 = 0, Variabel Promosi Dan Harga Tidak Berpengaruh Signifikan Terhadap Keputusan Konsumen Membeli Deterjen Merek ”BOOM”

Ha : b1 ¹ b2 ¹ 0, Variabel Promosi Dan Harga Berpengaruh Signifikan Terhadap Keputusan Konsumen Membeli Deterjen Merek ”BOOM”

Kriteria:

F hitung _ F tabel = Ho diterima

F hitung > F tabel = Ho ditolak, Ha diterima

F hitung (5,25) > F tabel (4,74) = Ho ditolak, Ha Diterima

Jadi, dapat disimpulkan bahwa Promosi dan Harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen membeli deterjen merek “BOOM”.

Analisis regresi linear berganda memerlukan pengujian secara serempak dengan menggunakan F hitung. Signifikansi ditentukan dengan membandingkan F hitung dengan F tabel atau melihat signifikansi pada output SPSS. Dalam beberapa kasus dapat terjadi bahwa secara simultan (serempak) beberapa variabel mempunyai pengaruh yang signifikan, tetapi secara parsial tidak. Sebagai ilustrasi: seorang penjahat takut terhadap polisi yang membawa pistol (diasumsikan polisi dan pistol secara serempak membuat takut penjahat). Akan tetapi secara parsial, pistol tidak membuat takut seorang penjahat. Contoh lain: air panas, kopi dan gula menimbulkan kenikmatan, tetapi secara parsial, kopi saja belum tentu menimbulkan kenikmatan.

Penggunaan metode analisis regresi linear berganda memerlukan uji asumsi klasik yang secara statistik harus dipenuhi. Asumsi klasik yang sering digunakan adalah asumsi normalitas, multikolinearitas, autokorelasi, heteroskedastisitas dan asumsi linearitas.

Daftar Pustaka

Daniel, W.W. STATISTIK NONPARAMETRIK TERAPAN. Gramedia. Jakarta.

Gujarati, D. 1991. EKONOMETRIKA DASAR. Erlangga. Jakarta.

Johnson, R.A. dan D.W. Wichern. 2002. APPLIED MULTIVARIATE STATISTICAL ANALYSIS. Fifth Ed. PrenticeHall, Inc. New Jersey.

Kutner, M.H., C.J. Nachtsheim, dan J. Neter. 2004. APPLIED LINEAR REGRESSION MODELS. Fourth Ed. McGrawHill/ Irwin. New York.

Walpole, R.E. dan R.H Myers. 1995. ILMU PELUANG DAN STATISTIKA UNTUK INSINYUR DAN  ILMUWAN. Edisi ke4. ITB. Bandung.

presentasi powerpoint of product moment, by animas

KORELASI PRODUCT MOMENT

PRESENTASI KORELASI PRODUCT MOMENT PEARSON

PRESENTASI  KORELASI PRODUCT MOMENT PEARSON

Oleh: A. Nimas Kesuma Negari

D0310002

Sosiologi 2010 (B)

  1. A. Pendahuluan

Analisis korelasi digunakan untuk menjelaskan kekuatan dan arah hubungan antara dua variabel. Korelasi bersifat undirectional yang artinya tidak ada yang ditempatkan sebagai predictor dan respon (IV dan DV).
Angka korelasi berkisar antara  -1 s/d +1. Semakin mendekati 1 maka korelasi semakin mendekati sempurna. Sementara nilai negative dan positif mengindikasikan arah hubungan. Arah hubungan yang positif menandakan bahwa pola hubungan searah atau semakin tinggi A menyebabkan kenaikan pula B (A dan B ditempatkan sebagai variabel).

Hubungan antara variabel dapat linear ataupun nonlinear. Dikatakan linear, apabila pasangan semua titik (xi,yi) terlihat bergerombol disekitar garis lurus. Dikatakan non linear apabila pasangan titik-titik terletak di sekitar kurva non linear. Nilai yang dapat diperoleh dari korelasi adalah positif, negatif, ataupun tidak berkorelasi.

Nilai koefisien korelasi berkisar -1 sampai 1. apabila korelasi antar dua variabel bernilai 0, maka dua variabel tersebut saling bebas secara statistik.
Formula perhitungan koefisien korelasi pertama kali ditemukan oleh KARL PEARSON, dan umum disebut Pearsonian Coefficient Correlation atau The product Moment Coefficient Correlation.
Misalkan terdapat n data untuk variabel X, yaitu x1, x2, …, xn. Dan terdapat pula n data untuk variabel Y, yaitu y1, y2, …,yn.

Xi Yi
x1 y1
.

.

.

.

.

.

xn yn

Model yang digunakan dalam analisis korelasi adalah sebagai berikut:

Interprestasi angka korelasi menurut Prof. Sugiyono (2007)

  • 0          –           0,199   : Sangat lemah
  • 0,20     –           0,399   : Lemah
  • 0,40     –           0,599   : Sedang
  • 0,60     –           0,799   : Kuat
  • 0,80     –           1,0       : Sangat kuat

Dalam Bivariate model, korelasi yang umum digunakan adalah Pearson, Kendall, dan Rank Spearman, namun yang dibahas kali ini adalah Pearson r Correlation..

Pearson r correlation:

Pearson r correlation biasa digunakan untuk mengetahui hubungan pada dua variabel. Korelasi dengan Pearson ini mensyaratkan data berdistribusi normal.
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut

B. Contoh Kasus

Pak Ali ingin mengetahui apakah ada hubungan antara pengawasan (Control), kepuasan kerja (Job Satisfaction), Disiplin kerja (discipline), dan kinerja (Performance). data dapat diambil CONTOH DATA KORELASI
Jumlah data 37.

Instrumen : angket

C. Penyelesaian Kasus dengan SPSS:

Langkah 1. Pada menu Analyze pilih “correlate bivariate” . Setelah itu akan ada tampilan sbb:

Langkah 2.
Masukkan variabel yang akan dikorelasikan ke dalam variable list.
Click on “option” and select “descriptive statistics”, abaikan yang lain lalu klik “OK”

Interprestasi

Arti angka Korelasi

1.      Control – Performance. Nilai korelasi adalah positif 0.668. Besaran angka korelasi menunjukkan bahwa korelasi antara Control dan Performance berada dalam kategori “Kuat”, sementara nilai positif mengindikasikan pola hubungan antara Control dengan Performance adalah searah (semakin tinggi Control maka semakin tinggi pula Performance). Perolehan p hitung = 0.000 < 0.05 yang menandakan bahwa hubungan yang terjadi adalah signifikan.

2.      Job Satisfaction – Performance. Nilai korelasi adalah positif 0.772. Besaran angka korelasi menunjukkan bahwa korelasi antara Job satisfaction dan Performance berada dalam kategori “Kuat”, sementara nilai positif mengindikasikan pola hubungan antara adalah searah (semakin tinggi Job Sat maka semakin tinggi pula Performance). Perolehan p hitung = 0.000 < 0.05 yang menandakan bahwa hubungan yang terjadi adalah signifikan.

3.      Dicipline – Performance. Nilai korelasi adalah positif 0.749. Besaran angka korelasi menunjukkan bahwa korelasi antara Dicipline dan Performance berada dalam kategori “Kuat”, sementara nilai positif mengindikasikan pola hubungan antara dicipline dengan Performance adalah searah (semakin tinggi Control maka semakin tinggi pula Performance). Perolehan p hitung = 0.000 < 0.05 yang menandakan bahwa hubungan yang terjadi adalah signifikan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan analisis korelasi product moment, yaitu:

1.Penelitian terdiri dari satu varibel bebas (biasa disebut variabel X atau Independent variabel) dan satu variabel terikat (biasa disebut variabel Y, atau dependent variabel).

2.Data kedua variabel berbentuk data kuantitatif (interval atau rasion).
3.Data berasal dari populasi yang berdistribusi normal.Untuk itu sebelum melakukan analisis korelasi ada uji asumsi yang harus dilakukan, yaitu uji normalitas sebaran dan uji linieritas hubungan.

CONTOH KASUS:

SEORANG PENELITI INGIN MENGETAHUI HUBUNGAN ANTARA PROKRASTINASI AKADEMIK DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA, setelah dilakukan penyebaran SKALA PROKRASTINASI AKADEMIK dan menggunakan nilai PRESTASI BELAJAR SISWA, diperoleh data sebagai berikut:

PROKRASTINASI AKADEMIK PRESTASI BELAJAR
46 5
56 7
57 6
84 4
53 6
88 9
51 5
96 9
86 9
75 7
63 9
68 7
70 7
65 8
70 6
54 5
76 5
86 8
90 8
70 9
80 9
67 9
56 6
68 6
54 5
68 5
65 8
77 8
66 8
98 9

PENELITI MENENTUKAN HIPOTESIS PENELITIANNYA “ADA HUBUNGAN POSITIF ANTARA PROKRASTINASI AKADEMIK DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA” DENGAN MENGGUNAKAN TARAF SIGNIFIKANSI 5% ATAU P=0.05.

CARA ANALISIS DATA

  1. Klik File – New – Data
  2. Klik Variabel View (Kanan bawah)
  3. Isikan nama variabel pada kolom name (Misal X untuk prokrastinasi akademik dan Y untuk prestasi belajar)
  4. Kolom Type, Klik Numeric karena penghitungannya berupa angka.
  5. Kolom width isikan 8 dan Decimals isikan 2
  6. 6. Kolom Label isikan keterangan untuk melengkapi kolom Name (Misal: Prokrastinasi dan Prestasi belajar).
  7. Klik Data View – Isikan data tersebut diatas, 30 data pada kolom X untuk varibael prokrastinasi dan 30 data pada kolom Y untuk variabel Prestasi belajar.
  8. Klik File – Save untuk menyimpan data (beri nama yang anda inginkan, misal prokrastinasi).
  9. Klik Analyze – Correlation – Bivariate.

10.  Klik variabel X dan Y – pindahkan ke kotak Variables

11.  Pilih Pearson pada kolom Correlation Coefficents

12.  Pilih Two Tailed pada kolom Test of Significant

13.  Klik Continue

14.  Klik OK

AKAN DIPEROLEH OUTPUT SEPERTI DIBAWAH INI, Klik File – Save untuk menyimpan hasil.

INTERPRETASI HASIL ANALISIS

1. Hasil penghitungan yang telah dilakukan diperoleh koefisien korelasi sebesar r=0.541.

2. Langkah selanjutnya, lihat nilai r dalam tabel korelasi product moment dengan N=30 dan taraf signifikansi P=0.05. Diperoleh nilai r tabel sebesar 0.361. Dengan demikian koefisien korelasi yang diperoleh (0.541) adalah lebih besar dari nilai r dalam tabel (0.361), yang berarti ada hubungan yang signifikan antara Prokrastinasi akademik dengan Prestasi belajar siswa.
3. Karena nilai koefisien korelasi yang diperoleh bertanda positif, berarti ada hubungan positif antara prokrastinasi akademik dengan prestasi belajar. Artinya semakin tinggi prokrastinasi akademik siswa akan semakin tinggi nilai prestasi belajarnya.

KESIMPULAN
Dari analisis yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis penelitian yang berbunyi ADA HUBUNGAN POSITIF ANTARA PROKRASTINASI AKADEMIK DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA adalah benar.

CATATAN:
JIKA NILAI KOEFISIEN KORELASI YANG DIPEROLEH BERTANDA NEGATIF BERARTI HUBUNGAN ANTAR VARIABEL ADALAH NEGATIF.

Daftar Pustaka

Prof. Dr. Sugiyono. Metode Penelitian Administasi. Bandung : Alfabeta

Sumber : http://teorionline.wordpress.com/

Black., James A. & Dean J. Champion, 1992, Metode dan Masalah Penelitian Sosial, terjemahan oleh E. Koeswara, dkk, Jakarta:PT Refika.

Hadi Sutrisno, 1992, Metodologi Research Jilid 1, Yogyakarta: Andi.

Singarimbun, Masri, 1989, & Sofian Efendi, Metode Penelitian Survai, Edisi Revisi ,Jakarta:LP3ES.

REVIEW PEMBANGUNAN DAN KEBIJAKAN PEMERINTAHAN PASCA ORBA SAMPAI MASA PEMERINTAHAN PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

KEBIJAKAN DAN PEMBANGUNAN

PEMERINTAHAN

  1. A. Masa Pemerintahan B.J. Habibie

Pemerintahan B..J. Habibie dimulai sejak lengsernya Soeharto dari kedudukannya sebagai presiden Republik Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998. Masa pemerintahan Habibie ini hanya berlangsung selama satu tahun, karena naiknya Habibie menggantikan Soeharto ini diterima dengan hati kecewa dan cemas di kalangan yang amat luas di kalangan masyarakat. Kabinet yang dibentuk oleh Habibie diberi nama Kabinet Reformasi Pembangunan. Ada berbagai langkah-langkah kebijakan yang dilaksanakan pada masa pemerintahan B.J. Habibie, diantaranya adalah :

  1. Pembebasan Tahanan Politik

Secara umum tindakan pembebasan tahanan politik meningkatkan legitimasi Habibie baik di dalam maupun di luar negeri. Hal ini terlihat dengan diberikannya amnesti dan abolisi yang merupakan langkah                                                                                                                                                                                                     penting menuju keterbukaan dan rekonsiliasi. Contohnya : pembebasan tahanan politik kaum separatis tokoh PKI, Amnesti diberikan kepada Mohammad Sanusi dan orang-orang lain yang ditahan setelah Insiden Tanjung Priok, selain itu Habibie mencabut Undang-Undang Subversi dan menyatakan mendukung budaya oposisi serta melakukan pendekatan kepada mereka yang selama ini menentang Orde Baru.

  1. Kebebasan Pers

Dalam hal ini, pemerintah memberikan kebebasan bagi pers di dalam pemberitaannya, banyak bermunculan media massa, kebebasan berasosiasi organisasi pers sehingga organisasi alternatif seperti AJI (Asosiasi Jurnalis Independen) dapat melakukan kegiatannya, tidak ada pembredelan-pembredelan terhadap media tidak seperti pada masa Orde Baru, kebebasan dalam penyampaian berita, dimana hal seperti ini tidak pernah dijumpai sebelumnya pada saat kekuasaan Orde Baru. Cara Habibie memberikan kebebasan pada Pers adalah dengan mencabut SIUPP.

  1. Pembentukan Parpol dan Percepatan pemilu dari tahun 2003 ke tahun 1999

Presiden RI ketiga ini melakukan perubahan dibidang politik lainnya diantaranya mengeluarkan UU No. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik, UU No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilu, UU No. 4 Tahun 1999 tentang MPR dan DPR. Menjelang Pemilu 1999, Partai Politik yang terdaftar mencapai 141 dan setelah diverifikasi oleh Tim 11 Komisi Pemilihan Umum menjadi sebanyak 98 partai, namun yang memenuhi syarat mengikuti Pemilu hanya 48 Parpol saja. Selanjutnya tanggal 7 Juni 1999, diselenggarakan Pemilihan Umum Multipartai.

  1. Penyelesaian Masalah Timor Timur

Sejak terjadinya insident Santa Cruz, dunia Internasional memberikan tekanan kepada Indonesia dalam masalah hak asasi manusia di Tim-Tim. Habibie mengambil sikap pro aktif dengan menawarkan dua pilihan bagi penyelesaian Timor-Timur yaitu di satu pihak memberikan setatus khusus dengan otonomi luas dan dilain pihak memisahkan diri dari RIS sebulan menjabat sebagai Presiden habibie telah membebaskan tahanan politik Timor-Timur, seperti Xanana Gusmao dan Ramos Horta. Sementara itu di Dili pada tanggal 21 April 1999, kelompok pro kemerdekaan dan pro intergrasi menandatangani kesepakatan damai yang disaksikan oleh Panglima TNI Wiranto, Wakil Ketua Komnas HAM  Djoko Soegianto dan Uskup Baucau Mgr. Basilio do Nascimento. Tanggal 5 Mei 1999 di New York Menlu Ali Alatas dan Menlu Portugal Jaime Gama disaksikan oleh Sekjen PBB Kofi Annan menandatangani kesepakan melaksanakan penentuan pendapat di Timor-Timur untuk mengetahui sikap rakyat Timor-Timur dalam memilih kedua opsi di atas. Tanggal 30 Agustus 1999 pelaksanaan penentuan pendapat di Timor-Timur berlangsung aman. Namun keesokan harinya suasana tidak menentu, kerusuhan dimana-mana. Suasana semakin bertambah buruk setelah hasil penentuan pendapat diumumkan pada tanggal 4 September 1999 yang menyebutkan bahwa sekitar 78,5 % rakyat Timor-Timur memilih merdeka. Pada awalnya Presiden Habibie berkeyakinan bahwa rakyat Timor-Timur lebih memilih opsi pertama, namun kenyataannya keyakinan itu salah, dimana sejarah mencatat bahwa sebagian besar rakyat Timor-Timur memilih lepas dari NKRI.

d. Pengusutan Kekayaan Soeharto dan Kroni-kroninya

Presiden Habibie – dengan Instruksi Presiden No. 30 / 1998 tanggal 2 Desember 1998 – telah mengintruksikan Jaksa Agung Baru, Andi Ghalib segera mengambil tindakan hukum memeriksa Mantan Presiden Soeharto yang diduga telah melakukan praktik KKN,namun pemerintah dinilai gagal dalam melaksanakan agenda Reformasi untuk memeriksa harta Soeharto dan mengadilinya. Hal ini berdampak pada aksi demontrasi saat Sidang Istimewa MPR tanggal 10-13 Nopember 1998, dan aksi ini mengakibatkan bentrokan antara mahasiswa dengan aparat. Karena banyaknya korban akibat bentrokan di kawasan Semanggi maka bentrokan ini diberi nama ”Semanggi Berdarah” atau ”Tragedi Semanggi

  1. Pemberian Gelar Pahlawan Reformasi bagi Korban Trisakti

Pemberian gelar Pahlawan Reformasi pada para mahasiswa korban Trisakti yang menuntut lengsernya Soeharto pada tanggal 12 Mei 1998 merupakan hal positif yang dianugrahkan oleh pemerintahan Habibie, dimana penghargaan ini mampu melegitimasi Habibie sebagai bentuk penghormatan kepada perjuangan dan pengorbanan mahasiswa sebagai pelopor gerakan Reformasi.

Pada Bidang Ekonomi

Di dalam pemulihan ekonomi, secara signifikan pemerintah berhasil menekan laju inflasi dan gejolak moneter dibanding saat awal terjadinya krisis. Pada tanggal 21 Agustus 1998 pemerintah membekukan operasional Bank Umum Nasional, Bank Modern, dan Bank Dagang Nasional Indonesia. Kemudian di awal tahun selanjutnya kembali pemerintah melikuidasi 38 bank swasta, 7 bank diambil-alih pemerintah dan 9 bank mengikuti program rekapitulasi.

Untuk masalah distribusi sembako utamanya minyak goreng dan beras, dianggap kebijakan yang gagal. Hal ini nampak dari tetap meningkatnya harga beras walaupun telah dilakukan operasi pasar, ditemui juga penyelundupan beras keluar negeri dan penimbunan beras.

Pada Bidang Manajemen Internal ABRI

Pada masa transisi di bawah Presiden B.J. Habibie, banyak perubahan-perubahan penting terjadi dalam tubuh ABRI, terutama dalam tataran konsep dan organisatornya. ABRI telah melakukan kebijakan-kebijakan sebagai langkah perubahan politik internal, yang berlaku tanggal 1 April 1999. Kebijakan tersebut antara lain: pemisahan POLRI dari ABRI, Perubahan Stat Sosial Politik menjadi Staf Teritorial, Likuidasi Staf Karyawan, Pengurangan Fraksi ABRI di DPR, DPRD I/II, pemutusan hubungan organisatoris dengan partai Golkar dan mengambil jarak yang sama dengan parpol yang ada, kometmen dan netralitas ABRI dalam Pemilu dan perubahan Staf Sospol menjadi komsos serta pembubaran Bakorstanas dan Bakorstanasda.

Perubahan di atas dipandang positif oleh berbagai kalangan sebagai upaya reaktif ABRI terhadap tuntutan dan gugatan dari masyarakat, khususnya tentang persoalan eksis peran Sospol ABRI yang diimplementasikan dari doktrin Dwi Fungsi ABRI.

Keadaan Sosial Di Masa Habibie

Kerusuhan antar kelompok yang sudah bermunculan sejak tahun 90-an semakin meluas dan brutal, konflik antar kelompok sering terkait dengan agama seperti di Purworejo juni 1998 kaum muslim menyerang lima gereja, di Jember adanya perusakan terhadap toko-toko milik cina, di Cilacap muncul kerusuhan anti cina, adanya teror ninja bertopeng melanda Jawa Timur dari malang sampai Banyuangi. Isu santet menghantui masyarakat kemudian di daerah-daerah yang ingin melepaskan diri seperti Aceh, begitu juga dengan Papua semakin keras keinginan membebaskan diri. Juli 1998 OPM mengibarkan bendera bintang kejora sehingga mendapatkan perlawanan fisik dari TNI.

Berakhirnya Masa Pemerintahan B.J. Habibie

Pada tanggal 14 Oktober 1999 Presiden Habibie menyampaikan pidato pertanggungjawabannya di depan Sidang Umum MPR namun terjadi penolakan terhadap pertanggungjawaban presiden karena Pemerintahan Habibie dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Rezim Orba. Kemudian pada tanggal 20 Oktober 1999, Ketua MPR Amien Rais menutup Rapat Paripurna sambil mengatakan, ”dengan demikian pertanggungjawaban Presiden B.J. Habibie ditolak”. Pada hari yang sama Presiden habibie mengatakan bahwa dirinya mengundurkan diri dari pencalonan presiden.

B. Masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid

Terpilihnya Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI dipicu juga dari penolakan MPR atas laporan B.J. Habibie, Pada 20 Oktober 1999, MPR berkumpul dan mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara. Gusdur melakukan banyak trobosan untuk mengangkat kaum minoritas. Misalnya: memperbolehkan perayaan imlek yang pada masa Soeharto dilarang, meminta agar TAP MPR tentang pelanggaran maxsisme-leninisme, di cabut. Hal ini cukup kontroversial, sebab pada masa Soeharto, PKI (yang terkait dengan maxsisme-leninisme) sudah dihitamkan. Dengan membuka  keadilan pada kaum minoritas, gusdur menunjukan adanya persamaan derajat antarawarga. Pada masa jabatan yang sangat singkat, gusdur sering sekali melakukan kunjungan keluar negeri dengan tujuan untuk memperbaiki citra Indonesia dimata dunia sekaligus membuka peluang untuk melakukan kerjasama dengan Negara-negara yang beliau kunjungi.

Gusdur juga melakukan perdamaian dengan Israel. gusdur adalah orang menjunjung tinggi kebebasan umat beragama, menekankan bahwa Islam tidak boleh memandang segala sesuatu yang berbau Barat adalah kesalahan.  Bekerja sama dengan Israel bukan berarti  membenci atau melucuti dukungan Palestina.

C. Masa Pemerintahan Megawati

Megawati Soekarnoputri adalah Presiden Indonesia yang kelima yang menjabat sejak 23 Juli 200120 Oktober 2004. Ia merupakan presiden wanita Indonesia pertama dan merupakan anak dari presiden Indonesia pertama. Megawati juga merupakan ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sejak memisahkan diri dari Partai Demokrasi Indonesia pada tahun 1999. Pemilu 1999.

Ia menjadi presiden setelah MPR mengadakan Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001. Sidang Istimewa MPR diadakan dalam menanggapi langkah Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang membekukan lembaga MPR/DPR dan Partai Golkar. Megawati dilantik pada 23 Juli 2001, sebelumnya dari tahun 19992001, ia menjabat Wakil Presiden di bawah Gus Dur. Masa pemerintahan Megawati ditandai dengan semakin menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia, diakannya pemilihan umum presiden secara langsung dilaksanakan dan secara umum dianggap merupakan salah satu keberhasilan proses demokratisasi di Indonesia.

Beberapa Prestasi Megawati selama 3 tahun memeritah

  1. Menstabilkan fundamen ekonomi makro meliputi inflasi, BI rate, pertumbuhan ekonomi, kurs rupiah terhadap dolar, angka kemiskinan.
  2. Melakukan stabilisasi kondisi polhukkam dalam negeri peninggalan pemerintahan sebelumnya (1998-2001) yang penuh dgn “kegaduhan” sehingga Indonesia bisa kembali membangun.
  3. Memberikan kondisi yang kondusif bagi legislative untuk melakukan fungsi legislasinya sehingga banyak UU yang telah disahkan pada masa kepemimpinan mega dibandingkan masa pemerintah lain (HBB, GD, Sby).
  4. Melakukan pembangunan infrastruktur yang vital diantaranya meliputi Tol Cipularang (Cikampek-bandung), Tol Cikunir, Jembatan Suramadu Jatim, Rel ganda Serpong – Jkt, Rel ganda Jakarta – Bandung & bnyk pembangunan infrastruktur lainnya.
  5. Mulai melakukan pemberantasan KKN diantaranya dengan keberanian me -nusakambang- kan dan memenjarakan kroni Soeharto (Tommy Soehato, Bob Hasan dan Probosutedjo) dan menangkap konglomerat bermasalah Nurdin Halid. KPK didirikan pada masa pemerintahan megawati.
  6. Berhasil menyehatkan perbankan nasional yang collapse setelah krisis ekonomi 1998 terbukti dengan dibubarkan BPPN pada Februari 2004 yang telah selesai melaksanakan tugasnya. Hasilnya bisa dirasakan saat ini perbankan nasional menjadi relative sehat.
  7. Indonesia berhasil keluar dari IMF pada tahun 2003 yang menandakan Indonesia sudah keluar dari krisis ekonomi yg terjadi sejak tahun 1998 dan Indonesia yang lebih mandiri.
  8. Melakukan pemerataan pembangunan dengan membentuk provinsi baru berdasarkan kebutuhan yaitu Kepulauan Riau dan Bangka Belitung, Sulawesi Barat, dan Papua Barat.
  9. Politik luar negeri yang lebih bebas dan aktif diantaranya dengan mengutuk agresi militer yg dilakukan AS ke Iraq dan menolak permintaan AS untuk menyerahkan Abu Bakar Baasyir ke AS.
  10. Berhasil membeli pesawat tempur Sukhoi dan heli Mi-35 dari Rusia tanpa perlu gembar gembor dan memberatkan APBN. Ini juga menjaga citra kemandirian Indonesia dari kooptasi Negara adi daya Amerika Serikat.
  11. Berhasil menghasilkan 45 milyar dolar AS dari penjualan LNG Tangguh ke China, Korea dan Meksiko selama 20 tahun ke depan. Harga kontrak dapat dievaluasi setiap 4 tahun.
  12. Berhasil mengungkapkan para pelaku terorisme diantaranya Bom Bali I dan II yang telah menewaskan ratusan orang yaitu dengan menangkap Amrozi, Imam samudra, Mukhlas dan Al faruq dan kasus pengeboman lain yaitu Bom JW marriot, Kedubes Australia dan Bom BEJ dan Medan
  13. Melakukan operasi kesejahteraan dan militer di Aceh yaitu dengan mengembalikan proporsi pendapatan dari Lapangan Arun sebagian besar kepada rakyat Aceh dgn status daerah Otonomi Khusus dan menangkap anggota GAM bersenjata sehingga jumlahnya hanya tinggal ratusan dan lari ke hutan. Indonesia juga berhasil menangkap dan mengadili ratusan anggota GAM dan para petinggi GAM di Indonesia yaitu Muzakir manaf, Irwandy Yusup dll dan memenjarakannya.

Selain prestasi-prestasi yang diraih, ada kegagalan dalam pemerintahan megawati, seperti :

Megawati dianggap gagal melaksanakan agenda reformasi dan tidak mampu mengatasi krisis bangsa. Menurut beberapa pengamat politik dan pemerintahan, kebijakan pemerintah Megawati sepanjang tahun 2002  cenderung mengabaikan aspirasi rakyat dan hanya berorientasi pada kepentingan kalangan tertentu serta tidak mampu melepaskan Indonesia dari tekanan pihak-pihak asing, kegagalan diplomasi Indonesia sehingga kepulauan Sipadan-Ligitan lepas dari Indonesia, serta kasus penjualan saham Indosat, gejala munculnya pola lama dalam pemerintahan Megawati yaitu pendekatan represif dalam menyelesaikan masalah dan sakralisasi lembaga kepresidenan, kegagalan partai politik yang terlibat dalam pemerintahan gotong royong dalam mengartikulasi kepentingan rakyat, tak ada upaya pemberantasan KKN, sebaliknya praktik korupsi makin terang-terangan dan meluas, kebijakan pemerintah yang memberi pengampunan terhadap sejumlah koruptor jelas mengingkari nilai keadilan

Kegagalan Pemerintahan Megawati dalam menjalankan Reformasi Birokrasi ini mengakibatkan kepercayaan rakyat terhadap Presiden Megawati menjadi menurun akibatnya dalam pemilihan Presiden secara langsung Rakyat menaruh harap perubahan pada pasangan SBY – JK.

  1. D. Masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono

Kepemimpinan Pak SBY periode 2004-2009 dan 2009-2014 sudah barang tentu sangat berbeda. Periode 2004-2009 pemerintahan SBY-Kalla telah menetapkan sasaran pokok pembangunan lima tahun 2004-2009 sebagai berikut; menurunkan tingkat pengangguran terbuka dari 9,7 persen dari angkatan kerja (9,9 juta jiwa) di tahun 2004 menjadi 5,1 persen (5,7 jutajiwa) pada tahun 2009, mengurangi tingkat kemiskinan dari 16,6 persen dari total penduduk (36,1 juta jiwa) menjadi 8,2 persen (18,8 juta jiwa) di tahun 2009, dan untuk menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan tersebut ditargetkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,6 persen per tahun selama periode 2004-2009.

Pada masa pemerintahan SBY – Boediono (2009-2014), memiliki karakteristik pemerintahan yang berbeda dari masa pemrintahan sebelumnya, Periode 2009-2014, Pak SBY banyak melakukan perubahan kebijakan khususnya di bidang perekonomian antara lain adalah mengganti pola kebijakan perekonomian yang selama ini mengarah ke Amerika Serikat (arah ini sudah di anut sejak era Orba –sebut saja America’s Way), ke arah China (China’s Way). Satu hal yang paling menonjol dalam “China’s Way” adalah agresifitas yang dimulai dalam membangun infrastruktur dan serta langkah nyata dan konsisten tanpa pandang bulu dalam mencegah dan membasmi korupsi. SBY melakukan pembangunan berkelanjutan selama masanya menjabat sebagai presiden 2 kali berturut-turut. Salah satu contoh pembangunan berkelanjutan tersebut adalah kebijakan subsidi BBM, pembentukan perumahan murah bagi rakyat yang akan menampung rakyat miskin yang hidup di kolom jembatan, juga golongan rakyat lain yang belum punya rumah layak, Kebijakan moratorium pengangkatan pegawai negeri sipil (PNS) daerah yang dijalankan  dimaksudkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan anggaran, di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Tahun 2005 – 2025 dalam konteks jangka panjang, pembangunaan perdesaan didorong keterkaitannya dengan pembangunan perkotaan secara sinergis dalam suatu wilayah pengembangan ekonomi. Dari sisi program nasional, Presiden SBY mendorong pengembangan agroindustri padat pekerja di sektor pertanian dan kelautan, sebagaimana kebijakan dana Rp 100 juta per desa untuk program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP), program pertanian kawasan transmigrasi, maupun program pengembangan masyarakat pesisir dan kepulauan, serta reformasi agraria untuk meningkatkan akses lahan bagi petani desa. SBY juga telah mendorong pengembangan jaringan infrastruktur penunjang kegiatan produksi di kawasan perdesaan dan kota-kota kecil terdekat. Pengembangan itu didanai oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perdesaan maupun berbagai kegiatan sektoral dari Kementerian daerah, serta peningkatan kesehatan masyarakat.

Meskipun bedasarkan hasil survey LSI tahun 2010 masyarakat mengaku puas, namun ada banyak hal pula yang ternyata menjadi keburukan pemerintahan SBY, antara lain adalah banyaknya kasus bersar yang belum tuntas ditangani pemerintah, seperti kasus Bank Century, kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, kasus dugaan suap atas Nazaruddin, SBY dianggap tidak memiliki operator politik untuk membantunya menuntaskan masalah, Buruknya kinerja pemerintahan SBY tidak lepas dari sikap Presiden SBY dalam menjalankan pemerintahan. SBY dianggap lebih suka terlihat cantik, santun dan berambut rapi di depan kamera dibanding bekerja keras mengatasi persoalan-persoalan yang ada di Indonesia.

Review Hasil Penelitian Peningkatan Kualitas Produk Tenun Ikat Tradisi Melalui Pengembangan Desain di Tawangsari kab. Sukoharjo

Dunia seni bagi orang Jawa bukanlah merupakan barang baru dan asing dalam kehidupan berbudaya, karena jenis kesenian ini sudah dianggap sebagai bagian kehidupan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Seni dalam tenun ikat tradisi telah diakui keberadaannya sebagai sebuah sistem budaya dalam bentuk simbol-simbol yang sangat rumit dan penuh nilai didalamnya. Karya kerajinan tenun ikat tradisi ini tidak hanya terdapat di Jawa, tapi hampir di seluruh Indonesia namun dengan nama yang berbeda. Dalam seni kerajinan tenun ikat tradisi ini termuat ajaran etika dan keindahan yang berbentuk penampilan visual dan simbol, karya yang sarat dengan makna simbolisme ini memegang peranan penting dalam upacara adat Jawa. Motif tenun ikat tradisi yang diterapkan dalam busana adat Jawa merupakan karya digarap sesuai dengan konteks budaya Jawa dan merupakan salah satu karya seni yang mengandung banyak makna simbolisme yang berhubungan dengan pola hidup dan kehidupan yang dianut dalam masyarakat Jawa.

Masalah tersebut yang kemudian dijadikan acuan oleh peneliti untuk melakukan sebuah penelitian aksi dengan studi kasus yang terpancang, dimana penelitian ini dapat memberikan suatu gambaran yang terfokus tentang latar belakang adanya tenun ikat tradisi di Tawangsari, Sukoharjo dalam kaitannya dengan budaya Surakarta, apa saja jenis-jenis tenun ikat tradisi, dan mengembangkan kualitas produk tenun ikat tradisi di Tawangsari, Sukoharjo melalui pengembangan disain dalam rangka peningkatan ekonomi produk kreatif di era global. Analisis dalam penelitian ini adalah suatu pengembangan produk seni kerajinan tenun ikat tradisi di Tawangsari sebagai ciri khas lokal serta mengandung pengetahuan dan kearifan lokal.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan kajian penelitian kualitatif dengan penelitian aksi diarahkan pada kondisi aslinya dimana subjek penelitian berada. Peneliatian ini dilakukan di tahun 2009 dengan kajian tentang peningkatan produk tenun ikat tradisi di Tawangsari melalui pengembangan disain dalam rangka peningkatan ekonomi produk kreatif di era global. Berdasarkan masalah yang diteliti dalam penelitian ini yaitu mengenai latar belakang, jenis tenun ikat tradisi, proses produksi serta pengembangan disain tenun ikat tradisi di Tawangsari. Maka bentuk penelitian yang dipakai studi kasus di Tawangsari, kemudian dilanjutkan dengan action research.

Sumber data yang dimanfaatkan dalam penelitian ini berupa informasi masyarakat, peristiwa, arsip, dokumen serta berbagai karya seni tenun ikat tradisi di Tawangsari. Guna mendapatkan data, maka strategi pengumpulan data dalam penelitian ini dikelompokkan kedalam dua cara, yaitu interaktif dan non interaktif. Metode interaktif meliputi wawancara mendalam dan observasi, sedangkan metode non interaktif meliputi observasi tak berperan, membuat kuesioner dan mencatat dokumen atau arsip.

Pengumpulan Data dan Analisis Data

Proses pengumpulan dan analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu:

  1. 1. Tinjauan Desain Tenun Ikat di Tawangsari, kab. Sukoharjo

Dalam usahanya untuk menghadirkan suatu suatu desain tenun ikat di Tawangsari terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi. Ini dapat dilihat dari visualisasi desain tenun ikat yang diciptakan yang meliputi aspek bahan, aspek proses, aspek warna dan motif dalam estetikanya serta aspek fungsi.

  1. 2. Motif dan Warna Tenun Ikat di Tawangsari

Pada dasarnya motif-motif tenun ikat dibuat dengan sumber ide dari bentuk motif geometri dan bentuk flora. Kalau dilihat secara sekilas, motif-motif tenun ikat di Tawangsari menunkukkan kemiripan, karena unsur-unsur motifnya sama. Tapi jika diamati lebih teliti, sebenarnya kombinasi dari susunan bentuk motifnya menunjukkan adanya perbedaan karena setiap perajin mempunyai kepribadian sendiri sesuai nalurinya.

Secara keseluruhan komposisi warnanya kelihatan adanya kekurangan. Baik dari segi pengolahannya maupun penghadiran variasi warna.hal ini disebabkan karena berdasarkan pendidikan maupun pengalaman yang sangat kurang.

  1. 3. Fungsi Tenun Ikat di Tawangsari

Pada mulanya kain tenun ikat tradisional mempunyai peranan penting didalam penggunaanya. Misalnya dipakai sebagai piranti dalam upacara adat dan sebagainya. Tapi sekarang dengan adanya pergeseran waktu serta jaman, penggunaan yang khusus tersebut mulai berangsur-angsur berubah dan sudah mulai ditinggalkan. Di Tawangsari kab. Sukoharjo, kain tenun ikat ini lebih sering digunakan sebagai sarung dengan tuntutan kepraktisan saja atau sesuai dengan selera konsuman masing-masing.

  1. 4. Pengembangan Desain Tenun Ikat di Tawangsari

Pengembangan motif kain tenun ikat di Tawangsari sampai saat ini disesuaikan dengan permintaan pasar dan tetap mempertahankan ciri motif sesuai dengan desain yang dimiliki. pengembangan desain tenun ikat di Tawangsari ini melibatkan mahasiswa dari hasil pembuatan desain dari mata kuliah Praktek Studio dan Kerja Profesi jurusan Kriya Seni Tekstil, FSSR, UNS. Pengembangan tenun ikat didasarkan pada pengembangan motif, dan warna yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, pengembangan kearah multifungsi, seperti bed cover, tirai, sarung bantal, guling, jok kursi, serta pengembangan bahan yang disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu diuji coba dengan menggunakan bahan benang dari kartun.

Beberapa Hasil Pengembangan Tenun Ikat Tradisi di Tawangsari

Pengembangan tenun ikat Tawangsari tidak hanya sebagai pelengkap interior, tapi juga dibuat sebagai busana. Selanjutnya yang lebih menarik bila kain tenun ikat juga dapat dipakai dalam bentuk baju, pakaian dalam berbagai mode sehingga dapat benar-benar menjadi bagian dari kehidupan manusia. Namun hal ini sulit karena harus bersaing dengan produk lain yang bersal dari luar negeri. Dan faktanya masyarakat kita masih menganggap bahwa barang-barang yang bersal dari luar negeri itu lebih baik. Jadi pada dasarnya kain tenun ikat di Tawangsari, kab. Sukoharjo perkembangannya dimanfaatkan dengan berbagai bentuk untuk pakaian/fashion maupun melengkapi berbagai peralatan hidup manusia. Khusus dalam bentuk pakaian maka promosi sangat penting.

Dalam pemasaran produk tenun ikat Tawangsari telah diupayakan untuk menambah jaringan perdagangannya lewat berbagai promosi, baik melaui Dekranasda maupun dipamerkan serta peragaan busana dalam acara Bengawan solo Fair (BSF) atas prakarsa UNS.

Dari pembahasan mengenai hasil penelitian peningkatan kualitas produk tenun ikat tradisi melalui pengembangai desai di Tawangsari, kab. Sukoharjo tersebut dapat dikatakan bahwa pengetahuan tradisional seni tenun ikat ini dimiliki, dikembangkan, dan dibudidayakan oleh komunitas masyarakat tersebar di desa-desa yang termasuk wilayah kecamatan Tawangsari, kab. Sukoharjo. Seni tenun ikat sebagai pengetahuan tradisional dalam motif dan desainnya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pasar serta dalam upaya sebagai usaha ynag memilki nilai ekonomi, dengan mewujudkannya tidak hanya dalam bentuk kain sarung namun dikembangkan dengan membuat desain produk multifungsi. Dalam penelitian dan pengkajian terhadap pengetahuan tradisional seni tenun ikat ini perlu penelitian dan pengkajian lanjutan terhadap pengetahuan tradisional sejenis di wilayah Sukoharjo khususnya, dan di Eks Karesidenan Surakarta umumnya. Karena wilayah ini sebagai kota budaya peninggalan masa-masa kerajaan dahulu, sehingga banyak pengetahuan tradisional yang masih terpelihara oleh masyarakat.

penelitian baru BAB I

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Dewasa ini kegiatan pariwisata berkembang secara luas, merasuk ke dalam kehidupan individu dan masyarakat di seluruh dunia. Persebaran kegiatan kepariwisataan makin meluas, di perkotaan, pedesaan, di pegunungan, pantai, di pinggiran hutan, sungai dan sebagainya. Pariwisata merupakan kegiatan sosial yang dilakukan, dan dihasilkan oleh berbagai lembaga, organisasi, asosiasi dan kelompok masyarakat yang memiliki dan menjalankan fungsi-fungsi yang berdampak sosial budaya, ekonomi, politik dan sebagainya di masyarakat luas. Pariwisata mempunyai peran yang sangat penting dalam pembangunan suatu daerah, pariwisata menyimpan potensi yang sangat besar. Kegiatan industri pariwisata berkembang cepat dan menjadi sesuatu yang menarik sehingga menimbulkan ketertarikan bagi kegiatan penyelidikan dan pengamatan, sehingga kami pun tertarik untuk melakukan pengamatan berkaitan dengan kepariwisataandi kota Surakarta sebagai sebuah kota budaya.

Kota Surakarta memiliki nilai historis (sejarah) dalam perkembangannya. Perkembangan dan keanekaragaman sejarah tersebut merupakan daya tarik tersendiri bagi kota Surakarta dalam hal paiwisata. Maka dari itu, perlu dilakukan studi terhadap kesiapan obyek wisata budaya yang terdapat di kota Surakarta. Kesiapan obyek wisata budaya dalam penawaran pariwisata berarti tersedianya semua faktor-faktor pendukung dalam penawaran pariwisata yang dapat menimbulkan ketertarikan wisatawan untuk berkunjung serta mampu bersaing dengan potensi pariwisata daerah lain. Pentingnya kesiapan obyek wisata budaya kota Surakarta guna mendukung salah satu misi kota Surakarta yaitu ” Mengembangkan Surakarta sebagai kota budaya yang bertumpu pada perdagangan dan jasa, pendidikan, budaya, dan pariwisata”. Surakarta atau sering disebut dengan nama kota solo adalah salah satu kota yang saat ini sedang berusaha untuk meningkatkan kualitas kota dengan berbagai strategi, dan salah satunya bergerak di bidang pariwisata.

Kota ini mempunyai salah satu sungai yaitu sungai Bengawan Solo, dahulu adalah suatu tempat yang terkenal sangat menarik karena keelokannya dan menjadi salah satu obyek wisata. Di daerah sungai Bengawan Solo khususnya di kompleks Jurug Surakarta merupakan kawasan yang oleh pemerintah ditetapkan sebagai kawasan wisata. Salah satunya adalah taman Ronggowarsito.

Taman merupakan salah satu elemen penyusun ruang kota yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sebagai ruang terbuka, taman dipahami sebagai ruang yang berisi unsur-unsur alam dan pemandangan yang ditimbulkan oleh keragaman vegetasi, aktivitas dan unsur-unsur buatan yang disediakan sebagai fasilitas sosial dan rekreasi, serta sebagai sumber pernafasan kota. Taman Ronggowarsito merupakan salah satu taman kota di Kota Surakarta yang memiliki daya tarik tersendiri untuk dikembangkan sebagai ruang terbuka publik. Tetapi pada kenyataannya taman yang terletak di tepi Sungai Bengawan Solo tersebut belum bisa berfungsi secara optimal sebagai ruang terbuka publik. Ketidakoptimalan tersebut dapat dilihat dari kurang tersedianya fasilitas penunjang bagi sebuah taman, kurang menariknya taman karena belum tersentuh program perencanaan dan manajemen pengelolaan yang tepat. Selain itu, kekhasan taman tepian sungai dengan Sungai Bengawan Solo sebagai daya tarik yang membentuk  view kawasan kurang tercipta karena sungai tersebut telah mengalami penurunan kualitas baik secara fisik maupun visual.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan taman Ronggowarsito dengan melakukan optimalisasi penataan ruang dan mutu pelayanan taman sehingga dapat menarik para wisatawan untuk mengunjungi taman ini sebagai salah satu yujuan wisatanya dan menikmati pemandangan dan keindahan yang ditawarkan oleh taman ini.

  1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian diatas, dalam upaya mengoptimalisasikan penataan ruang dan mutu pelayanan taman Ronggowarsito, peneliti memberikan batasan penelitian agar lebih mudah dalam mensistematisasi dan mengkaji masalah yang diangkat, maka batasan tersebut terangkum dalam perumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana mengoptimalkan tata ruang taman Ronggowarsito?
  2. Bagaimana mengoptimalkan mutu pelayanan wisata di taman Ronggowarsito?

  1. C. Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Mengoptimalkan tata ruang taman Ronggowarsito agar lebih menarik.
  2. Mengoptimalkan mutu pelayanan wisata di taman Ronggowarsito.
  3. Menjadikan taman Ronggowarsito sebagai salah satu tujuan wisata yang diminati di kota Solo.

  1. D. Manfaat

  1. Dapat mengoptimalkan penataan ruang taman Ronggowarsito supaya menjadi tempat rekreasi dengan view kawasan yang menarik.
  2. Dapat mengoptimalkan mutu pelayanan wisata taman Ronggowarsito sehingga mampu menyedot banyak wisatawan untuk berkunjung ke taman ini.
  3. Dapat menjadikan taman Ronggowarsito sebagai salah satu tujuan wisata di kota Solo.
  4. Dapat memeksimalkan pemanfaatan lahan taman Ronggowarsito secara lebih efektif dan efisien.

  1. E. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Temuan-temuan atau data yang ada dikomunikasikan secara naratif. Penelitian dilakukan pada saat ini dengan kajian tentang optimalisasi penataan ruang dan mutu pelayanan wisata taman Ronggowarsito.

Sumber data yang dimanfaatkan dalam penelitian ini berupa:

  1. Subjek penelitian berupa kondisi asli taman Ronggowarsito sebagai data pengamatan langsung, dan sebagai data untuk pengembangan kualitas taman.
  2. Informan yang terdiri dari:
    1. Warga sekitar taman termasuk pedagang kaki lima yang berda di area taman.
    2. Pihak-pihak yang mengetahui secara lebih dalam dan jelas mengenai kondisi taman.
    3. Orang-orang yang terlibat dalam aktifitas dan kegiatan yang berlangsung di taman Ronggowarsito.

Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan:

  1. 1. Wawancara

Ditujukan pada masyarakat sekitar taman Ronggowarsito dan pihak-pihak yang berkaitan dengan pengembangan dan pengelolaan taman Ronggowarsito.

  1. 2. Observasi

Yaitu dengan melakukan engamatan langsung di lokasi taman Ronggowarsito.

  1. 3. Studi Pustaka / Literatur

Studi pustaka ini dilakukan dengan mempelajari buku-buku referensi yang berkaitan dengan kepariwisataan, taman, fungsi dan pengelolaan taman, prinsip-prinsip sungai, dan kegiatan-kegiatan yang berlangsung disekitarnya.

.

sedikit berbicara teori kependudukan

Teori Malthus

Malthus adalah orang pertama yang mengemukakan tentang penduduk. Dalam “Essay on Population”, Malthus beranggapan bahwa bahan makanan penting untuk kelangsungan hidup, nafsu manusia tak dapat ditahan dan pertumbuhan penduduk jauh lebih cepat dari bahan makanan.
Teori Malthus menyebutkan bahwa pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur sedangakn pertumbuhan ketersediaan pangan mengikuti deret hitung, pada kasus ini dimana terdapat permasalahan meledaknya jumlah penduduk dikota yang tidak diimbangi dengan ketersediaan pangan pun berkurang, hal ini merupakan perimbangan yang kurang menguntungkan jika kita kembali kepada teori Malthus.

Teori Malthus jelas menekankan tentang pentingnya keseimbangan pertambahan jumlah penduduk menurut deret ukur terhadap persediaan bahan makanan menurut deret hitung. Teori Malthus tersebut sebetulnya sudah mempersoalkan daya dukung lingkungan dan daya tampung lingkungan. Tanah sebagai suatu komponen lingkungan alam tidak mampu menyediakan hasil pertanian untuk mencukupi kebutuhan jumlah penduduk yang terus bertambah dan makin banyak. Daya dukung tanah sebagai komponen lingkungan menurun, karena beban manusia yang makin banyak. Jumlah penduduk harus seimbang dengan batas ambang lingkungan, agar tidak menjadi beban lingkungan atau mengganggu daya dukung dan daya tampung lingkungan, dengan menampakkan bencana alam berupa banjir, kekeringan, gagal panen, kelaparan, wabah penyakit dan kematian.

Menurut pendapatnya, faktor pencegah dari ketidakseimbangan penduduk dan manusia antara lain Preventive checks (penundaan perkawinan, mengendalikan hawa nafsu dan pantangan kawin), Possitive checks (bencana alam, wabah penyakit, kejahatan dan peperangan).

Permasalahan Penduduk di Indonesia

Masalah kependudukan merupakan masalah umum yang dimiliki oleh setiap negara di dunia ini, termasuk Indonesia. Secara umum, masalah kependudukan di berbagai negara dapat dibedakan menjadi dua, yaitu dalam hal kuantitas/ jumlah penduduk dan kualitas penduduknya. Indonesia merupakan negara dengan nomor urut keempat dalam besarnya jumlah penduduk setelah China, India, dan Amerika Serikat. Menurut data statistik dari BPS, jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah 225 juta jiwa, dengan angka pertumbuhan bayi sebesar 1,39 % per tahun. Angka pertumbuhan ini relatif lebih kecil dibandingkan dengan angka pertumbuhan bayi pada tahun 1970, yaitu sebesar 2,34%. Dengan jumlah penduduk sebesar 225 juta jiwa, maka pertambahan penduduk setiap tahunnya adalah 3,5 juta jiwa. Jumlah itu sama dengan jumlah seluruh penduduk di Singapura.

Lonjakan penduduk yang sangat tinggi atau baby booming di Indonesia akan berdampak sangat luas, termasuk juga dampak bagi ekologi atau lingkungan hidup. Hal itu dapat mengganggu keseimbangan, bahkan merusak ekosistem yang ada. Masalah kependudukan di Indonesia saat ini menjadi sangat rawan bila tidak ada usaha untuk mengelola ledakan penduduk dengan baik, yang merupakan bahaya besar. Jumlah penduduk yang tidak terkendali akan mendatangkan sejumlah persoalan.

Dengan jumlah penduduk sebesar 225 juta jiwa, membuat tekanan terhadap lingkungan hidup menjadi sangat besar. Paling tidak, 40 juta penduduk hidupnya tergantung pada keanekaragaman hayati di pantai dan perairan. Pada saat yang sama, bahwa sekitar 20% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Saat yang sama banjir telah melanda di berbagai tempat di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk Indonesia telah salah mengelola air di Bumi ini. Dampak lonjakan penduduk di Indonesia terhadap lingkungan hayati, sudah dapat kita lihat sejak tahun 2001, beberapa kawasan juga mengalami pencemaran.

Bagaimana Teori Malthus dapat menjawab permasalahan penduduk di Indonesia?

Menurut Malthus, pertumbuhan jumlah penduduk, bila tidak dikendalikan, akan naik menurut deret ukur (1,2,4,8,dst). Produksi pangan meningkat hanya menurut deret hitung (1,2,3,4,dst). Di Indonesia dengan ledakan penduduk saat ini, mengakibatkan dampak sosial yaitu mengalami krisis pangan. Bahkan di dunia pun terjadi krisis pangan global. Selain itu, semakin banyak terjadi urbanisasi karena orang-orang desa yang dulunya kecukupan pangan namun tidak menikmati pembangunan mulai berbondong-bondong pindah ke kota. Generasi muda tidak ada yang mau menjadi petani.

Teori Malthus menghendaki produksi pangan harus lebih besar dibandingkan jumlah dan pertumbuhan penduduk. Sehingga berdasarkan teori ini diperkirakan suatu saat suatu daerah di Indonesia tidak memiliki lahan pertanian lagi, sebab perkembangan yang pesat terjadi pada pembukaan dan penggunaan lahan untuk kawasan permukiman penduduk, namun ketersediaan lahan yang semakin terbatas telah menimbulkan biaya yang tinggi bagi penduduk untuk mendapatkannya. Hal ini berdampak kepada biaya investasi yang tinggi untuk membangun kawasan produktif yang strategis.

Apabila ditelaah lebih dalam maka teori Malthus tidak sepenuhnaya berlaku. Untuk pertama kali hubungan antara pangan dan penduduk teori Malthus untuk pertama kali hubungan antara pangan dan penduduk dibicarakan secara sistematis oleh Malthus sekitar abad ke-19. Namun pada hakekatnya masalah pangan telah ada pada masa-masa sebelumnya. Di berbagai negeri, masa-masa makmur sering diselingi oleh kekurangan pangan atau bahkan kelaparan masal yang merenggut banyak jiwa manusia. Banyak faktor penyebab lemahnya ketahanan pangan nasional yang berakhir pada ironi bangsa. Dengan SDA memadai serta luas lahan pertanian sebesar 107 juta hektar dari total luas daratan Indonesia sekitar 192 juta hektar, ternyata masih menyimpan cerita-cerita pilu.

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (2002), tidak termasuk Maluku dan Papua, sekitar 43,19 juta hektar telah digunakan untuk lahan sawah, perkebunan, pekarangan, tambak dan lading, lebih kurang 2,4 juta hektar untuk padang rumput, sedangkan 8,9 juta hektar untuk tanaman kayu-kayuan, dan lahan yang tidak diusahakan seluas 10,3 juta hektar (Republika, 16/6/2006).

Faktor tersebut antara lain tidak berimbangnya produksi pangan dengan populasi penduduk. Aksioma Robert Malthus tentang deret ukur dan deret hitung agaknya dapat dirujuk di sini. Kendati tidak berlaku pada seluruh negara, tapi bagi negara berkembang yang sering dilanda kasus pangan, Malthus mendekati benar. Konon 10% anak-anak di negara berkembang meninggal sebelum mereka berusia lima tahun. Kebanyakan dari kematian karena lapar disebabkan oleh malnutrisi yang kronis akibat penderita tidak mendapatkan makanan yang cukup. Sering kali hal ini terjadi karena kemiskinan yang parah. Terancam kelaparan saat ini, diantaranya 4,35 juta tinggal di JawaBarat. Ancaman kelaparan ini akan semakin berat, dan jumlahnya akan bertambah banyak. Seiring dengan mereka yang terancam kelaparan adalah penduduk yang pengeluaran per kapita sebulannya di bawah Rp. 30.000,00.

Di antara orang-orang yang terancam kelaparan, sebanyak 272.198 penduduk Indonesia, berada dalam keadaan paling mengkhawatirkan.Dari jumlah itu, sebanyak 50.333 berasal dari JawaBarat, diantaranya 10.430 tinggal di KabupatenBandung dan 15.334 orang tinggal di Kabupaten Garut. Mereka yang digolongkan terancam kelaparan dengan keadaan paling mengkhawatirkan adalah penduduk dengan pengeluaran per kapita di bawah Rp 15.000,00 per bulan sebanyak 14.108.

Keterkaitan teori Malthus dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan. Usaha dari banyak Indonesia untuk menyediakan pangan bagi penduduk adalah dengan giat melakukan pembangunan atau modernisasi pertanian.Usaha ini dilakukan baik melalui perluasan tanah pertanian yang ada(ekstensifikasi) maupun meningkatkan produksi per hektarnya (intensifikasi).

Indonesia tercatat baru pada tahun 1968-1969 sebagai peserta revolusi hijau dengan luas areal 198.000 hektar yang pada tahun 1972-1973 menjadi 1.521.000 hektar, meskipun sesungguhnya Indonesia telah memulainya sekitar tahun 1964-1965. Pada tahun 1973 produksi padi denganBimas telah mencapai 52 kuital per hektar dan dengan Inmas 40 kuintal per hektar. Adapun program transmigrasi setelah Indonesia merdeka dalam PolaUmum Pelita Ktiga (Lihat GBHN, TAP MPR No. II/MPR/1978) disebutkan antara lain: Program transmigrasi ditujukan untuk meningkatkan penyebaran penduduk dan tenaga kerja serta pembukaan dan

pengembangan daerah produksi dan pertanian baru dalam rangka pembangunan daerah khususnya di luar Jawa, yang dapat menjamin taraf hidup para transmigran, dan taraf hidup masyarakat sekitar.

Program Keluarga Berencana merupakan upaya pemerintah dalam mencegah dan mengatur kelahiran. Pemerintah melalui Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bergerak dalam penyebaran alat-alat dan pengetahuan kontrasepsi. Setiap desa dan kota Petugas Lapang KB siap membantu keluarga-keluarga yang ingin memasuki program KB.

Apa Perbedaan Teori Sosial dan Teori Natural dalam Memandang Over Population di Suatu Negara?

Teori Sosial

Teori ini berpangkal pada manusia sebagai mahluk sosial yang menjadi faktor utama perkembangan penduduk. Robert Malthus dalam karyanya An Essay on The Principle of population menekankan hubungan antara pertambahan penduduk dengan persediaan makanan. Ia yang pertama kali membuat ramalan dan membahas bahaya kelebihan penduduk (Over Population).

Teori Sosial Tentang Over Population

Dalam teori ini, ada 3 aliran teori kependudukan yang mendukung.

Malthusianisme Propetism, mengemukakan:

–          Ketimpangan antara jumlah penduduk dengan kebutuhan penduduk (Over Population) tidak akan terjadi sebab dengan semakin baiknya tingkat penghidupan dan peradaban.

–          Meskipun demikian mereka masih mempunyai kekhawairan dan ketidakpastian bahwa suatu saat akan terjadi over Population.

Malthusianisme Modern:

–          Budge, meramalkan adanya over population dimasa yang akan datang.

–          Thomson, sepaham dengan Malthus tentang over population yang pasti terjadi.ia mengakui bahwa kemakmuran semakin meningkat dan dapat menahan laju pertambahan penduduk.

–          COX and East, cemas akan bayangan over population, tetapi hal itu mungkin agak sedikit tertahan dengan hambatan kelahiran.

–          Wright, over population pasti bakal terjadi. Namun besarnya peningkatan hasil bumi sedikit banyak akan menahannya.

–          J.B. Canning, over population terjadi bila:

  1. Adanya bahaya kelaparan dan kematian
  2. Jumlah bahan makanan sudah maksimum

Teori Natural

Dasar teori ini, bahwa manusia dalam hidupnya selalu terikat lingkungan alam (natural Environment). Penduduk dunia bertambah, karena angka kelahiran jauh lebih besar dari angka kematian. Perkembangan keturunan sangat dipengaruhi oleh alam.

Teori Natural Tentang Over Population

–          Raymand S. Pearl, bila dirasakan dunia semakin padat dan ruang hidup manusia terasa semakin sempit maka perkembangannya akan mulai menurun. Sama dengan teori Malthus, pada suatu saat Over Population pasti akan terjadi, tetapi dengan teori “ruang yang terbatas” maka terjadinya over population akan diperlambat dengan sendirinya.

–          Corrado Ginni, saat over population terjadi jika pertumbuhan manusia dalam tingkat dewasa. Kelelahan daya produksi disebabkan oleh kelelahan psikologis yang terjadi karena persaingan dalam masyarakat, banyaknya pikiran yang ditanggung manusia, ini dapat menghambat proses over population.

Sosialisme

Berbicara mengenai sosialisme, tentu juga berbicara tentang suatu paham Marxisme. Sebab ajaran-ajaran sosialisme dipandang sebagai cikal bakal yang mengilhami cara berpikir selanjutnya pada Marxisme. Sosialisme muncul di akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 sebagai reaksi dari perubahan ekonomi dan sosial yang diakibatkan oleh revolusi industri. Revolusi industri ini memang memberikan keberkahan buat para pemilik pabrik pada saat itu, tetapi dilain pihak para pekerja justru malah semakin miskin. Semakin menyebar ide sistem industri kapitalis ini, maka reaksi dalam bentuk pemikiran-pemikiran sosialis pun semakin meningkat. Istilah sosialisme pertama kali muncul di Perancis sekitar 1830. Umumnya sebutan itu dikenakan bagi aliran yang masing-masing hendak mewujutkan masyarakat yang berdasarkan hak milik bersama terhadap alat-alat produksi, dengan maksud agar produksi tidak lagi diselenggarakan oleh orang-orang atau lembaga perorangan atau swasta yang hanya memperoleh laba tetapi semata-mata untuk melayani kebutuhan masyarakat. Sosialisme mendasarkan daya tariknya pada dua hal, yaitu: pemerataan sosial dan penghapusan kemiskinan.

Serangkaian perubahan yang bertujuan mengatasi akibat samping sistem industri dan kapitalisme dapat digabungkan dibawah istilah sosialisme. Karl Marx adalah pendukung hancurnya sistem kapitalis dan digantikannya sistem ini oleh sistem sosialis. Marxisme menjadi mata air utama bagi sosialisme itu sendiri.  Sosialisme sebagai ideology politik timbul dari keadaan yang kritis di bidang sosial, ekonomi dan politik akibat revousi industri . Adanya kemiskinan , kemelaratan ,kebodohan kaum buruh , maka sosialisme berjuang untuk mewujudkan kesejahteraan secara merata.

Dalam sebuah buku berjudul  Socialism and War yang kemudian diberi judul baru Jalan Menuju Sosialisme sedunia- sang pengarang mencoba membuat suatu perbandingan yang ekstrem antara jalan sosialis yang ditempuh cina dan ingin ditempuh Yugoslavia, dan mencoba mengkaitkannya dengan sang superpower Unisoviet. Diantara ketiganya, sekalipun sama-sama mengusung ideologi Sosialis, namun diantara ketiganya memiliki perbedaan yang sangat berbeda. Para teoretikus Cina berpendapat bahwa dunia sosialis yang bersatu akan timbul di masa depan sebagai akibat dari perang dunia ketiga yang diramalkan bakal terjadi, akan berarti penutup dari perselisihan, tegasnya, dunia sosialisme bersatu akan menghasilkan suatu dunia yang penuh harmoni yang akan condong kearah penciptaan suatu masa depan yang benar-benar jaya bagi raktyat-rakyat dunia.

Perang dunia ketiga tidak akan sama dengan perang dunia pertama dan kedua, orang tidak perlu menjadi pessimis ekstrim serta mengkhayalkan perang dunia ketia sebagai hari akhir, namun harus menyadri kenyataan bahwa dewasa ini suatu perang akan menjadi suatu perang permusnahan massa. Nah, siapakah yang akan mengatakan tentang kekuatan-kekuatan politik yang ada atau bagaimana kekuatn-kekuatan ini akan bertindak jika seluruh ekonomi dunia mengalami malapetaka pemusnahan? Bagi para teoretikus Cina cukuplah membuat pernyataan bahwa hasilnya adalah sosialisme.

Perluasan selanjutnya dalam dunia sosialisme pasti tidak akan dapat berjalan dengan suatu perluasan mekanis dalam bentuk-bentuk hubungan-hubungan sosialis yang sampai sekarang masih berlaku di dunia sosialis, akan tetapi dengan lahirnya bentuk-bentuk baru, bentuk-bentuk yang biasanya selalu lebih unggul dari yang ada sebelumnya asal saja dasar material memungkinkan terjadinya kemajuan yang demikian. Hal ini berarti bahwa sosialisme akan selalu mendobrakkan sistemnya di Negara-negara kapitalis dengan mempergunakan jalan-jalan yang sangat beraneka ragam dan bermacam-macam bentuk, yang pada waktu yang bersamaan tidak saja membesarkan lingkungan sosialisme tetapi juga mempunyai pengaruh dalam arti kemajuan bentk-bentuk sosialis dalam Negara-negara sosialis yang sudah ada.

sebelum pecahnya revolusi di Eropa pada tahun 1989, tak seorang pun yang pernah meramalkan bahwa Komunisme akan rontok secara berbarengan dalam waktu yang relatif singkat di tanah tumpah darah kelahiran dan perkembangannya, Eropa Timur. Memang banyak peramal dari kubu kapitalis yang yakin bahwa di mana pun kekuasaan otoriter, diktator yang menelantarkan nasib rakyat banyak, cepat atau lambat akan menemui kehancurannya. Tetapi ramalan mereka sangat berhati-hati.

Sosialisme bermunculan selama satu setengah abad terakhir, namun hanya komunis yang sering juga digambarkan sebagai sosialisme nyata dan demokrasi liberal yang kadang-kadang disebut sosialisme demokrasi, yang tampil menjadi dua hal yang memberikan bobot pada sejarah. Kisah kedua sistem itu perlu diceritakan, sesingkat apapun, untuk memberikan gambaran sekilas kematian sosialisme pada tahun 1980-an. Bermula di Eropa pada masa pasca Napoleon, atau pada tahap kedua era industri terutama di Inggris dan Perancis. Kaum Borjuis kecewa dengan keadaan kelas pekerja yang menyedihkan dan mulai berpikir untuk memperbaikinya.